We are ONE = Kita adalah SATU (1): Leluhur Semua Manusia Adalah Sama

2019-06-17T17:20:31+07:00Juni 7th, 2019|Rohani|4 Comments

Saya sudah bertemu dan belajar agama dengan para Ulama, Ustadz, dan Mubalig. Juga bertemu dan belajar dengan para Master Spiritual plus membaca berbagai buku agama serta buku Spiritual. Namun saya masih terus bertanya-tanya kepada diri saya sendiri, kenapa sampai saat ini saya belum menemukan ajaran yang tidak lagi mengkotak-kotakan, membeda-bedakan dengan sebuah aliran, negara, kebangsaan, suku bangsa, kelompok, komunitas, tradisi-tradisi dan seterusnya?

Padahal kita semua tentunya menyadari, bahwa sesungguhnya kita adalah makhluk Spiritual yang sedang mengalami pengalaman manusia, serta mempunyai KESADARAN bahwa KITA sesungguhnya adalah DIA dan DIA adalah KITA.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, saya masih belum merasakan bahwa para Master Spiritual ataupun para Guru Agama telah mempunyai kepahaman seperti yang dimaksud.

Pada realita umumnya, para Master Spiritual masih merasa ilmu yang mereka ajarkan adalah ilmu yang paling benar. Mereka merasa mempelajari atau mendapatkan ilmu tersebut bersumber dari para leluhur-leluhurnya yang sudah ada dalam kehidupan beribu-ribu tahun yang lalu. Justru karena itulah, maka timbul pertanyaan saya, siapa sesungguhnya yang disebut dan dianggap sebagai leluhur-leluhur manusia itu?

Dulu, sebelum saya mengenal ilmu marifat, ketika saya belajar agama secara syareat, saya sering berpikir bagaimana mungkin saya harus memaksakan untuk mengamalkan sebuah ajaran yang menurut saya tidak riil dan tidak rasional?

Pasalnya semua yang diceritakan dalam berbagai kitab suci itu adalah cerita yang abstrak dan tidak nyata atau gaib. Tak bisa dipungkiri semua tokoh yang disebut dalam kitab suci yang sudah berumur ribuan tahun yang lalu itu, tidak ada satupun yang saya kenal dan saya ketahui. Apalagi saya juga tidak pernah mengalaminya. Dus, saya selalu bertanya kepada diri saya sendiri, siapa yang bisa menjamin bahwa cerita itu benar adanya? Bukankah sebuah kebenaran itu hanya diketahui oleh diri kita sendiri dan yang Maha Kuasa saja?

Baru setelah saya belajar ilmu marifat, dan bisa memahami sesungguhnya diri sejati saya adalah Makhluk Spiritual yang sedang mengalami pengalaman manusia, Saya mulai paham bahwa sesungguhnya diri sejati saya adalah percikan dari Sang Kecerdasan Semesta Tanpa Batas yang dititipkan dalam tubuh saya sebagai utusan-Nya. Jika demikian adanya, bukankah diri sejati saya ini sesungguhnya berasal dari DIA?

Begitu juga dengan seluruh makhluk dan entitas yang lainnya yang ada di alam semesta ini. Semuanya juga berasal dari DIA. Sesuai dengan Firman-Nya yang tertuang dalam kitab suci Al-Quran surat Al-Hadid ayat 3: DIA YANG AWAL DIA YANG AKHIR, DIA YANG NYATA DIA YANG TIDAK NYATA DAN DIA MAHA MENGETAHUI.

Seperti yang sering saya katakan dan tulis dalam artikel saya, yang mana di semesta ini yang bukan DIA? Kalau kita semua bisa memahami bahwa di semesta ini semuanya adalah DIA, lalu kenapa harus mengkotak-kotakan dan membeda-bedakan satu sama lainnya? Akibatnya, masing-masing akan mengatakan bahwa saya adalah bangsa anu, agama anu, dan budaya anu. Leluhur saya adalah ini dan seterusnya? Bukankah leluhur semua makhluk dan entitas lainnya yang ada di semesta ini semuanya sama? Semua adalah hanya DIA semata?

Kata-kata bijak dari seorang Filsuf yang terkenal pada zamannya, Jiddu Krishnamurti, pernah menyatakan sebagai berikut:

“Ketika Anda menyatakan diri sebagai orang India, atau orang Muslim, atau orang Kristen, atau orang Eropa, atau orang apa pun; maka Anda sedang melakukan tindak kekerasan. Apakah Anda bisa lihat mengapa demikian? Karena Anda memisahkan diri dari manusia-manusia lainnya. Ketika Anda memisahkan diri melalui keyakinan, kebangsaan, atau tradisi Anda, maka Anda sedang melahirkan kekerasan.

Jadi, orang yang berusaha memahami apa itu kekerasan, ia tidak akan melekatkan dirinya pada suatu negara, agama, partai politik tertentu atau sistem yang membeda-bedakan; ia hanya akan berkonsentrasi untuk memahami apa itu bangsa manusia.” (Bersambung).

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
4 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Antok Agusta
Antok Agusta
1 year ago

Bismillahirrohmanirrohim…assalamualaikum
Rupanya pak Tonny ini adalah seorang Guru Makrifat yg dikenal dengan istilah Mursyid adalah guru yang sudah mendapat amanah dan terpilih secara langsung atau tidak langsung untuk meneruskan ilmu makrifat kepada orang lain. Terpilihnya Pak Tonny menjadi Mursyid tentu karena Bpk telah memiliki syarat dan kriteria baik di mata Rabb-Nya (Tuhan) sehingga Bpk bisa dipilih untuk mewarisi ilmu tersebut agar disampaikan kepada kami. Oleh karennya, pengetahuan tentang Allah adalah pangkal kebahagiaan seorang hamba sedangkan ketidaktahuan tentang Allah merupakan pangkal penderitaan. Wasalam hormat dan takzim

Suster Suhartini
Suster Suhartini
1 year ago

Tulisan pak Tonny itu selalu menyejukan dan menimbulkan ketenangan maupun rasa dami. Dan tepat seperti yg apa yg Bpk tulis, bahwa kita ini semua sama. Ada banyak hal yang membuat kita semua sama, yaitu sama-sama diciptakan dari tanah, terlahir dari pasangan suami-isteri, memiliki bentuk tubuh yang sama. Biarpun dikotak-kotakkan ke dalam berbagai macam ragam agama, Tuhan tidak pernah menolak manusia mana pun yang perlu bantuanNya. Yang kita anggap Tuhan itu adalah Allah, bukan agama, bukan juga kitab suci. Banyak orang hari ini beragama namun sayangnya tidak mengerti tentang ber-Tuhan

Martahan Lumban
Martahan Lumban
1 year ago

Sy membaca artikel Bpk di dlm mobil. Pada saat dlm perjalanan pulang, karena macet. Disinilah sy baru bisa meng-Amin-kan apa yg Bpk tulis tsb. WE ARE ONE pada saat kita menghadapi kemacetan! Entah mobilnya apapun juga, entah jabatannya apapun juga, entah agamanya apapun juga, entah ras apapun juga kita semuanya menghadapi situasi yang sama. Dimana kita harus berhenti dan menunggu, karena macet! Yes we are one!

Drs. Aruli
Drs. Aruli
1 year ago

Tulisan Pak Tonny itu yg selalu “Keluar Dari Kotak” – OUT OF THE BOX – Pemikiran Normal! Tapi memang, pada kenyataannya, agama telah menjadi kotak bagi manusia. Kotak agar tidak memandang isi kotak yang lain, kotak untuk memandang manusia yang lain juga, dan kotak untuk menempatkan diri agar tidak bersinggungan dengan isi kotak yang lain. Dan bagi saya dikotak-kotakkan oleh orang lain tidak berarti sama sekali, asal bukan diambil dari kotak oleh Tuhan, lalu dibiarkan tergeletak, atau malah dibuang ke tempat sampah-Nya. Klotak!

4
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x