Surga Yang Tak Dirindukan (1): Kepastian Tumbuhkan Cinta dan Kasih Sayang

2019-06-06T16:12:39+07:00Mei 25th, 2019|Rohani|3 Comments

Masing-masing manusia mempunyai jalan dan caranya sendiri-sendiri untuk mencapai tujuan akhir dari kehidupan ini. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 256, Allah berfirman: “TIDAK ADA PAKSAAN DALAM AGAMA, SESUNGGUHNYA TELAH JELAS JALAN YANG BENAR DARIPADA YANG SESAT DAN ALLAH MAHA MENDENGAR LAGI MAHA MENGETAHUI”.

Dalam Ayat ini, Allah menegaskan bahwa, Allah-lah satu-satunya yang memiliki HAK untuk Menilai dan Menentukan setiap individu seluruh Makhluk dan Benda yang ada di Semesta ini. Tugas kita sebagai hamba Allah hanyalah memerankan peran yang Allah titipkan kepada kita sebaik mungkin, sesuai dengan yang sudah diskenariokan oleh Allah.

Pada umumnya setiap umat beragama, hari demi hari sibuk mencari SURGA yang Ghaib. Kenapa saya bilang Ghaib? Karena hal itu masih bebentuk “PERSEPSI” atau “PEMBENARAN”. Belum menjadi “REALITA/NYATA” atau “BUKTI/KEBENARAN”.

Hampir semua agama menyampaikan dogma untuk meyakini sesuatu hanya berdasarkan cerita yang Ghaib. Hal ini bagi saya sungguh tidak masuk akal. Kenapa sebuah pemahaman yang ghaib, yang dibangun oleh persepsi manusia yang penuh dengan ketidakpastian itu harus dipertahankan sebagai sebuah KEBENARAN?

Bukankah sesuatu yang belum punya kepastian itu sifatnya untung-untungan. Artinya, bisa IYA, bisa juga TIDAK. Hal yang demikian itu kalau kita ikuti, apa bedanya dengan JUDI? Bukankah agama melarang keras terhadap segala bentuk PERJUDIAN?

Pertanyaan saya berikutnya, mungkinkah Tuhan (Allah) sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas, memerintahkan kepada seluruh hamba dan makhluk ciptaanNya untuk beribadah kepadaNya dengan landasan sebuah hukum sebab-akibat, yang belum pasti?

Padahal realita kehidupan yang sedang saya alami saat ini adalah sebuah REALITA/NYATA. Sungguh fenomena ini membuat saya tidak habis pikir. Kemudian saya alirkan terus pertanyaan-pertanyaan dalam diri sejati saya. Sampai akhirnya saya mendapatkan pemahaman yang sudah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya. Namun, supaya bisa lebih dipahami, saya ulangi penjelasan saya berikut ini:

Awalnya Alam Semesta ini adalah hanya ada ruang kosong dan DIA (Allah) sebagai Dzat satu-satunya yang mengisi kekosongan tersebut. Inilah hakekat makna dari: LAA ILAAHA ILLALLAH yang artinya: TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH. Dalil dari Al-Quran dan referensi hasil riset secara ilmiah sebagai sebuah Fakta untuk mendukung kebenaran keterangan ini, sudah saya lampirkan di atas.

Pertanyaan berikutnya adalah untuk apa tujuan Allah menciptakan Alam Semesta beserta seluruh isinya ini? Jawaban yang paling masuk akal dan paling relevan adalah keterangan dari sebuah Hadits Qudsy yang berbunyi : “AKU ADALAH SEBUAH PERBENDAHARAAN YANG TERSEMBUNYI MAKA AKU CIPTAKAN MAKHLUK UNTUK MENGENALI AKU”. Kalimat ini sebagai konfirmasi sekaligus menjadi referensi jawaban dari pertanyaan kenapa Alam Semesta ini Allah ciptakan.

Setelah memahami maksud Allah menciptakan Alam Semesta berikut isinya tersebut, saya baru menyadari bahwa semua yang tadinya Absolut/Ghaib, Allah wujudkan dengan Realita/Nyata agar bisa dikenal, dan sekaligus menjadi sebuah “KEBENARAN YANG PUNYA KEPASTIAN”, agar tidak “BERJUDI” lagi. Karenanya, dalam 99 sifat nama Allah, jelas disebut “Aku Yang Maha Nyata” dan “Aku Yang Maha Ghaib”. Prosesi seperti inilah yang seharusnya dipahami oleh semua makhluk ciptaanNya.

Karena sudah paham dengan yang “PASTI”, jadinya ibadah saya dilandasi dengan penuh Cinta dan Kasih Sayang. Tidak seperti sebelumnya. Ritual ibadah yang saya amalkan, semuanya tidak punya kepastian. Semua katanya. Dogmatis/otoritatif. Saya beribadah itu karena lebih merasa takut akan siksanya Allah. Bukan karena Cinta dan ingin mengabdi kepada Allah.

Lalu timbulah pertanyaan saya, apakah betul Allah itu punya sifat KEJAM YANG MAHA MENYIKSA?  Bukankah Allah menciptakan Alam Semesta beserta seluruh isinya itu penuh dengan rasa Cinta dan Kasih Sayang, agar semua KaryaNya bisa dinikmati oleh semua makhluk ciptaanNya, agar eksistesiNya bisa dilihat secara Realita/Nyata? Dan kalau sudah selesai masa tugas dalam memerankan peranNya, semua makhluk dan benda di seluruh Alam Semesta ini akan kembali kapada Sang Maha Pencipta. KalimatNya tegas mengatakan, INNAA LILLAHII WA INNAA ILAIHI RAAJ’IUUN, yang artinya: SESUNGUHNYA KITA BERASAL DARI ALLAH DAN AKAN DIKEMBALIKAN KEPADA APA YANG DIPERTUHANKAN.

Jika kita berhasil mempertuhankan Allah, maka kita akan kembali kepada Allah. Namun sebaliknya, bila kita selalu menuhankan yang selain Allah, maka tempat kembalinya tentu saja bukan Allah. Tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Quran yang mengatakan, “ASALNYA DARI ALLAH MAKA KEMBALI KE SURGA ATAU KE NERAKA”

Karena itu timbulah pertanyaan saya, “Apakah betul Surga-Neraka itu ada? Dan memang termasuk dari perencanaanNya-kah? Kalau memang ada, dimana tempatnya? Dan kenapa Allah Yang Maha Mengetahui, harus punya rencana, pada akhir kehidupannya dimana sebagian besar makhluk ciptaanNya itu bakal menjadi penghuni NERAKA yang penuh dengan siksaan serta penderitaan yang KEKAL-ABADI?

Rata-rata usia hidup manusia di semesta ini paling panjang 100 tahun. Dalam menjalankan kehidupannya, ada perbuatan Baik dan Tidak Baik (Buruk). Di akhir kehidupannya, setelah ditimbang antara PAHALA vs DOSA, ternyata lebih banyak DOSAnya daripada PAHALA, maka Allah masukan manusia tersebut ke dalam NERAKA Kekal-Abadi.

Bukankah kepahaman seperti ini sangat KONTRADIKTIF/TIDAK KOHEREN dengan 99 sifat nama Allah itu sendiri?  Sungguh sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat saya.

Seiring dengan adanya ganjalan pertanyaan-pertanyaan tadi, saya terus mengalirkan pertanyaan-pertanyaan tadi kepada diri sejati saya. Terus berusaha mencari jawaban yang paling bisa diterima oleh akal sehat saya. Sampai tiba saatnya, sedikit demi sedikit saya bisa menemukan jawaban yang menurut pengalaman saya paling masuk akal sehat saya.

(Bersambung)

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
Ahmad FuadiArif SurachmanDrs. Hadi Susanto Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Drs. Hadi Susanto
Guest
Drs. Hadi Susanto

Kehebatan dan kepiawaian Pak Tonny dlm soal menulis artikel sdh tak perlu diragukan lagi, karena Bpk selalu berhasil mengajukan pertanyaan yg menggelitik dan tak terpikirkan sebelumnya olah kami. Misalnya beberapa orang yg selamat dari bencana alam bertanya-tanya, ”Mengapa Allah mengizinkan ini terjadi? Apakah Ia tidak peduli? Atau, apakah Ia kejam?” Jika Allah memberi kita kesanggupan itu sehingga kita membenci kekejaman, tidakkah itu berarti Allah juga membencinya? Apabila kita menyebut seseorang kejam, kita menuduh bahwa motifnya jahat. Orang yg kejam senang melihat orang lain menderita atau tidak peduli akan kesengsaraan mereka. Seorang ayah yg mendisiplin anaknya untuk mengajar atau melindungi dia… Read more »

Arif Surachman
Guest
Arif Surachman

Pak Tonny bisa jadi produsen Kalkulator Dosa VS Pahala agar bisa diketahui untung ruginya. Namun apakah pahala dan dosa bisa diperhitungkan sedemikian rupa dengan logika manusianya. Siapa coba yg menjamin bahwa ibadah kita yg Alloh menjanjikan pahalanya berlipat itu diterima oleh Alloh SWT dan kita mendapatkan pahala dari ibadah itu? Siapa yg menjamin? Tidak ada.. sekali lagi tidak ada. Hanya Alloh yg tahu apakah kita mendapatkan pahala atau tidak dari ibadah yg kita lakukan. Jangan-jangan ibadah kita yg Alloh menjanjikan pahala berlipat-lipat itu tidak diterima.. sehingga dengan hitungan rugi laba kita tidak akan cocok.. sehingga sebenarnya dosa kita terus menumpul]k..… Read more »

Ahmad Fuadi
Guest
Ahmad Fuadi

Hanya seorang penulis sekaliber pak Tonny atau “Mualaf Zaman Now” saja yg berani menyatakan, bahwa Surga & Neraka itu sebenarnya Ora Ono alias tidak ada. Namun kalau kita pikirkan secara lebih mendalam pendapat Bpk itu banyak benarnya. Kebahagiaan seseorang karena telah melakukan kebenaran dengan baik, maka rasa hatinya bagaikan di sorga. Demikian sebaliknya, kegelisahan dan rasa bersalah yang berkepanjangan karena perbuatan yang menyalahi jalan kehidupan adalah kehidupan yang diliputi ketidak pastian adalah neraka dunia.