RUANG dan WAKTU (3): Waktu adalah Kita, Kita adalah Waktu  

2019-07-28T23:18:11+07:00Juni 24th, 2019|Rohani|0 Comments

Pada tulisan RUANG dan WAKTU bagian (3) , saya telah membagikan artikel menarik karya Dedi Ibmar yang dirilis oleh laman qureta dotcom. Bagi saya, artikel di atas, pada dasarnya sama dengan pemahaman saya selama ini. Hanya saja, jika penulis di atas mengatakan bahwa RUANG adalah Tuhan yang Sebenarnya, sedangkan pemahaman saya Ruang adalah bagian dari Tuhan. Karena menurut saya, sejatinya semua yang ada di Semesta ini semuanya adalah DIA. Namun karena DIA ingin dikenal maka diciptakanlah ciptaan-ciptaan-Nya agar bisa mengenali-Nya. Oleh karena itu semua ciptaan-ciptaan-Nya telah memiliki perannya masing-masing. Hukum Semesta pun sudah ditetapkan yaitu hukum “DUALITAS”. Setiap ciptaan-ciptaan-Nya tersebut, setelah selesai diciptakan-Nya, semua diserahkan kepada Sang Waktu yang akan  menentukan segala-galanya. Karena Beliau tidak berada di dalam arena/gelanggang. Beliau hanya bertindak sebagai fasilitator saja. Tidak terlibat lagi dalam segala hal yang terjadi di dalam arena tersebut.

Persis seperti  kata-kata bijak seorang Fisikawan lumpuh dunia yang terkenal berkebangsaan Inggris. Stephen Hawking yang bunyinya sebagai berikut :

“SAYA TIDAK RELIGIUS DALAM ARTI NORMAL. SAYA PERCAYA HUKUM SEMESTA DIATUR OLEH HUKUM SAINS, HUKUM MUNGKIN SUDAH DITETAPKAN OLEH TUHAN. TETAPI TUHAN TIDAK CAMPUR TANGAN UNTUK MELAWAN HUKUM.”

Begitu juga makhluk yang namanya Manusia, setelah selesai terciptanya tubuh yang ada dikandungan seorang ibu, maka Tuhan/Allah meniupkan RUHNYA, untuk dijadikan sebagai utusan yang setiap saat bisa terkoneksi dengan Sang Sumber Keberadaan. Setelah utusan tersebut berada di dalam tubuh seorang MANUSIA, maka sejak saat itu pulalah MANUSIA tersebut mulai merasakan kehidupan dan setiap kehidupan di Semesta ini adalah WAKTU. Dengan demikian WAKTU juga bisa diartikan sebagai KITA, karena KITA adalah kehidupan itu sendiri.

Setelah memahami WAKTU adalah KITA, KITA adalah WAKTU. Saya coba mengamati jejak kehadiran saya di semesta ini, setelah tubuh saya disempurnakan dalam kandungan ibu saya, lalu RUHKU sebagai utusan dari Tuhan/Allah sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas yang ditiupkan ke dalam tubuh saya. Sejak saat itu pula mulai ada sejatinya kehidupan saya yang langsung dikendalikan oleh Sang Waktu. Saya terlahir di semesta ini setelah mengalami proses selama -/+ 9 bulan dalam kandungan ibu saya. Saya pun meyakini setiap manusia tidak selalu sama waktu kelahirannya. Ada yang lebih cepat dan ada juga yang lebih lambat. Semuanya tergantung dari Sang Waktu, kapan saatnya kelahiran seorang Manusia di Semesta ini.

Setelah saya lahir ke Semesta ini sebagai seorang bayi yang masih memiliki ketergantungan kepada seorang ibu, seiring WAKTU berjalan saya pun tumbuh menjadi seorang Balita, Remaja, Dewasa, Tua . Sampai akhirnya Sang Waktu juga yang menentukan kapan saya harus berpisah dengan tubuh yang selama ini menjadi kendaraan diri sejati saya.

Dalam perjalanan kehidupan saya dari mulai usia 0 hingga saat ini hampir berusia 70 tahun, semua suka-duka, berkah-musibah, sukses-gagal, rejeki, jodoh dan seterusnya, semua aspek dari kehidupan “Dualitas” yang sudah menjadi ketetapan hukum Semesta itu, tergantung WAKTU yang menentukan.

Dengan demikian jelaslah sudah bahwa, RUANG dan WAKTU adalah pasangan yang sangat sempurna, seperti penjelasan saya dari awal tadi tentang RUANG.

Tidak mungkin ada KEHIDUPAN kalau tidak ada RUANG, sedangkan semua KEHIDUPAN, mengandung hukum Semesta yaitu “DUALITAS” dan setiap “DUALITAS” tidak KEKAL ABADI. Karena KEHIDUPAN sendiri adalah WAKTU, dan WAKTU adalah KITA serta ENTITAS lainya yang ada di Semesta ini. Karenanya, KITA serta ENTITAS lainnya juga tidak ada yang KEKAL ABADI.

Yang KEKAL ABADI itu harus MONOLITAS dan satu-satunya yang punya sifat MONOLITAS cuma DIA/TUHAN/ALLAH :

“SANG KECERDASAN SEMESTA TANPA BATAS.”

Maka setiap Makhluk dan Entitas lainnya yang ada di Semesta ini termasuk Manusia, dituntut berproses di dalam RUANG dan WAKTUnya masing-masing agar tumbuh KESADRANNYA. Sehingga ketika sampai WAKTUnya nanti betul-betul bisa melampaui semua “DUALITAS” yang ada di Semesta ini, agar RUANG dan WAKTU bisa menyatu kembali, sehingga semua akan menghilang kembali menyatu dengan SANG KEBERADAAN.

Hitam Gelap itu MONOLITAS dan MONOLITAS itu KEKAL ABADI.

“LUBANG GELAP TEMPAT TUHAN DIBAGI NOL” ~Albert Einstein (ini humor lho)

(Bersambung).

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of