Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji (5)

2019-08-03T23:29:56+07:00Agustus 3rd, 2019|Ebook|0 Comments

Pada Nukilan Buku jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji (4) telah kita ketahui bagaimana dari sekian banyak tokoh kuat kandidat capres 2014, akhirnya hanya tinggal Jokowi yang bersaing head to head dengan Prabowo.

Setelah kedua paslon masing-masing mendeklarasikan sekaligus mendaftarkan diri ke KPU, barulah kita bisa menganalisa kekuatan dari masing-masing koalisi partai maupun relawan pendukungnya.

Ada sahabat saya yang langsung bicara kepada saya bahwa setelah melihat realita yang ada, menurut beliau kekuatan paslon nomor satu yaitu Prabowo-Hatta lebih kuat segalanya dari paslon nomor dua Jokowi-JK.  Saya setuju saja kalau kita melihatnya memakai kaca mata biasa.

Namun jika saya melihatnya dengan kaca mata spiritualitas, maka saya sangat meyakini bahwa hukum semesta ini tidak pernah ingkar. Barang siapa menabur kebaikan, tentu Ia akan menuai kebaikan pula. Begitu juga sebaliknya, kalau yang ditanam itu adalah keburukan, maka diapun akan menuai keburukan itu sendiri.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, pertandingan Pilpres 2014 itu akhirnya dimenangkan oleh pasangan nomor dua, yaitu Jokowi-JK. Padahal kalau kita mau jujur, kedua pasangan ini sering saya namakan sebagai PENUMPANG GELAP.

Dimana bisa diartikan bahwa mereka berdua bukanlah Ketua Umum partai politik yang mempunyai hak otoritas khusus untuk menggerakkan mesin partai untuk kepentingan apa saja.

Mereka berdua hanyalah seseorang yang dicalonkan oleh partai. Persis seperti yang pernah diungkapkan oleh Megawati sebagai Ketua Umum partai PDIP, bahwa sosok seorang Jokowi tidak lebih hanya sebagai PETUGAS partai belaka.

Pun begitu juga Jusuf Kalla yang hanya menumpang partai orang untuk mendapatkan dukungannya dan juga sudah bisa dipastikan bahwa mesin partai tidak akan bekerja maksimal untuk mendukung pasangan tersebut. Karenanya, adalah wajar-wajar saja jika saya mengatakan bahwa kedua pasangan ini adalah sebagai PENUMPANG GELAP.

Berbeda sekali dengan paslon lawan nomor dua, Jokowi-JK, yaitu paslon nomor satu, Prabowo-Hatta. Pasangan tersebut kedua-duanya adalah Ketua Umum dari partai politik. Dengan demikian sudah bisa dipastikan bahwa mesin partai akan bekerja all out untuk memenangkan Ketua Umumnya masing-masing.

Pada saat itu, koalisi dari paslon nomor satu Prabowo-Hatta yang didukung oleh partai Gerindra, Golkar, PKS, PAN, Demokrat, PPP dan PBB, mereka namakan koalisi Merah Putih. Dan koalisi ini juga mendeklarasikan diri sebagai koalisi permanen yang akan bertahan hingga 5 tahun. Total kursi koalisi Merah Putih di DPR tahun 2014-2019 adalah 353 kursi sama dengan 63 % suara kursi di parlemen.

Adapun paslon nomor dua, Jokowi-JK hanya didukung oleh partai PDIP, PKB, Nasdem, Hanura dan PKPI. Koalisi ini dinamakan Koalisi Indonesia Hebat. Total kursi Koalisi Indonesia Hebat di DPR adalah 207 kursi sama dengan 37 % suara kursi di parlemen.

Kalau dinilai dari segi kekuatan partai jelas koalisi Merah Putih jauh lebih kuat dibanding dengan koalisi Indonesia Hebat. Demikian juga mesin partai koalisi Merah putih jauh lebih efektif kerjanya dibanding mesin partai koalisi Indonesia Hebat.

Proses pemilu pilpres 2014 berlangsung penuh dengan intrik dan fitnah yang dibuat kubu paslon nomor satu, Prabowo-Hatta untuk menyerang sosok capres dari paslon nomor dua, Jokowi-JK yang menurut saya sudah di luar akal sehat dan melenceng jauh dari nilai-nilai demokrasi.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama misalnya dengan adanya kasus tabloid Obor Rakyat. Banyak sahabat-sahabat saya yang memprediksi bahwa Jokowi akan kalah dalam petandingan pilpres kali ini. Pasalnya dari kubu Prabowo akan all out dengan menghalalkan segala cara untuk memenangkan pertandingan tersebut.

Bagi saya ajang pilpres adalah sebuah pertunjukan dari Semesta, bagaimana skenarionya diperankan oleh hamba-hambanya dengan berbagai sifat dan karakternya masing-masing. Saya pun sangat meyakini bahwa hukum Semesta tidak pernah ingkar. Jadi kata curang atau menghalalkan segala cara tidak berlaku, karena Alam Semesta beserta seluruh isinya adalah ciptaan-Nya. Dengan demikian siapa di Semesta ini yang mampu merubah kehendak-Nya/skenario-Nya? (Bersambung)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of