Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji (4)

2019-08-03T23:28:35+07:00Agustus 3rd, 2019|Ebook|0 Comments

Pada tulisan Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji bagian (3) sudah saya paparkan bagaimana alur cerita yang mebawa Jokowi hingga dicalonkan sebagai kandidat Capres oleh PDIP bersama JK sebagai Cawapresnya.

Memang, menyimak cerita pilpres 2014, sungguh cukup menguras banyak energi. Pada saat itu ada tiga kandidat yang digadang-gadang yang akan tampil bersaing, yaitu 1. Aburizal Bakrie 2. Joko Widodo dan 3. Prabowo Subianto.

Ketika sekilas saya mengikuti perjalanan Bapak Aburizal Bakrie sebagai ketua umum Golkar, yang dicalonkan oleh partainya sendiri untuk maju diajang pilpres, peristiwanya sangat ironis sekali. Pasalnya, beliau pada menit-menit terakhir gagal memenuhi ambisinya untuk ikut bertanding di ajang pilpres tersebut.

Salah satu penyebabnya adalah karena beliau tidak mendapatkan dukungan dari partai lainnya untuk berkoalisi dengan partainya guna memenuhi persyaratan KPU sebagai calon Presiden. Ini harus dilakukan karena kalau hanya mengandalkan suara partai Golkar saja, suaranya tidak mencukupi sesuai dengan peraturan dari KPU.

Padahal jika kita mengikuti bagaimana cara Aburizal Bakrie mulai mensosialisasikan pencalonannya sebagai capres yang diusung oleh partai Golkar, seraya mengkonsolidasikan kekuatan partainya sungguh luar biasa sekali. Selama kurun waktu hampir dua tahun, beliau telah berkeliling ke seluruh kabupaten kota yang ada di tanah air ini. Entah sudah menghabiskan berapa besar energi dan modal yang dikeluarkan untuk operasi lapangan serta iklan yang tersebar dimana-mana.

Sampai-sampai seolah-olah beliau sudah menjadi Presiden bayangan. Toh ternyata pada akhirnya beliau dan partainya hanya mampu menjadi partai koalisi untuk ikut mendukung salah satu pasangan calon Presiden, yaitu Prabowo Subianto.

Hasil akhir yang diraih Aburizal Bakrie itu, menurut saya juga tidak terlepas dari hukum Semesta tabur-tuai, sebab-akibat. Hanya saja, saya tidak bisa merinci dimana dan apa yang menyebabkan Aburizal Bakrie harus mendapatkan hasil yang sama sekali di luar perencanaannya, sebab saya tidak mengamati langsung atas sepak terjang beliau di dunia politik pada saat itu.

Bagitu juga dengan Hatta Rajasa yang sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) sejatinya juga telah ditetapkan dan diusung oleh partainya untuk menjadi calon presiden dari PAN. Namun pada kenyataanya, sekalipun PAN mencalonkan Hatta sebagai calon Presiden, beliau tidak mampu untuk mewujudkan keinginannya.

Padahal pada saat itu, Hatta Rajasa juga didukung oleh partai Demokrat yang mana ketua umumnya adalah SBY, yang masih menjabat sebagai Presiden RI saat itu dan sekaligus juga merupakan besan dari Hatta Rahasa sendiri. Beliau hanya mampu mengantarkan Hatta Rajasa menjadi calon Wakil Presiden dari calon Presiden Prabowo Subianto yang saat itu juga menjabat sebagai Ketua Umum partai Gerindra.

Akhirnya pemilihan Presiden periode tahun 2014 s/d 2019, hanya diikuti oleh dua pasang calon semata. Ada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo-Hatta yang sesuai dengan hasil pengundian di KPU mendapatkan nomor urut satu, serta pasangan dengan nomor urut dua yaitu Jokowi-JK. Ini berarti Prabowo akhirnya head to head dengan Jokowi. (Bersambung)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of