Menghentikan Perjudian Pemikiran (2): Belajar dari 3 Kata Kunci Kesadaran

2019-05-21T21:49:36+07:00Mei 18th, 2019|Rohani|3 Comments

Di dalam artikel ” Menghentikan Perjudian Keyakinan” bagian (1) telah saya jelaskan bahwa adalah tugas kita untuk membuat yang ghoib menjadi terang benderang. Melalui artikel saya terdahulu sudah banyak dijelaskan bagaimana merepresentasikan bahwa Tuhan (Allah) itu Maha Nyata. Sekarang saatnya saya coba menuliskan pengalaman saya bagaimana menemukan pemahaman bahwa Surga itu memang Nyata.

Sesungguhnya Surga dan Neraka itu adalah ciptaan diri kita sendiri, berdasarkan keinginan kita mau bertempat dimana? Semua itu ditentukan oleh tingkat kesadaran kita sendiri. Semakin tinggi tingkat kesadaran seseorang, semakin tinggi juga derajat Surga yang ia dapatkan. Alasannya, kehidupan di semesta ini semua terdiri dari hukum dualitas.

Sepanjang tingkat kesadaran orang itu masih rendah maka dia akan selalu terjebak oleh permainan dualitas yang ada di semesta ini. Dia akan mengalami sebentar hidup di Surga sumber semua Kenikmatan dan Kebahagiaan, dan tidak lama kemudian terjebak ke dalam Neraka sumber Siksaan dan Kesedihan.

Hanyalah manusia yang sudah bisa mencapai puncak kesadaran yang paling tinggi saja, yang mampu melampaui hukum dualitas tersebut. Dia bisa mendapatkan Kenikmatan dan kebahagiaan yang Kekal-Abadi, menyatu kembali ke pangkuanNya. Sesuai dengan bunyi kalimat: INNAA LILLAAHII WA INNAA ILAIHI RAAJIUN, yang artinya: SESUNGGUHNYA KITA BERASAL DARI ALLAH DAN AKAN KEMBALI PADA APA YANG DIPERTUHANKAN.

Kalimat itu menegaskan bahwa tidak ada satu makhluk pun di semesta ini yang kembali selain kepada Tuhan (Allah).

Untuk bisa mencapai puncak kesadaran yang paling tinggi, kita perlu meresapi semua pengalaman rasa spiritual dan secara terus menerus direpetisi sehingga bisa masuk ke alam bawah sadar sampai akhirnya menjadi nilai-nilai yang permanen. Dengan begitu, lambat laun bisa membentuk karakter seseorang menjadi bijaksana, toleran, dan bisa menerima segala macam dualitas rasa.

Adapun cara belajarnya pun sangat sederhana. Cukup dengan mengamalkan 3 kata kunci ini. Pertama A’udzubillahiminasysyaithonirrojim yang artinya: Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan syeitan yang terkutuk. Kata-kata ini tidak hanya untuk diucapkan saja. Tetapi harus betul-betul diresapi segala hakekat dan maknanya. Yang dimaksud Syeitan adalah Nafsu, Ego dan Kepentingan sendiri. Fokus kepada Allah akan membuat kita bisa meredam semuanya.

Kedua adalah Bismillaahirrohmaannirrohiim yang artinya: Atas nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sebelum memulai aktifitas fokuskan pikiran kita kapada kehadiranNya. Misalnya kita mau makan, ketika doa sebelum makan dipanjatkan, fokuskan pikiran kepada kehadiranNya. Kemudian ketika kita mulai mengunyah makanan dan minuman, jangan langsung ditelan. Rasakan dahulu ke seluruh lidah agar aneka rasa makanan tersebut betul terasa, sembari bersyukur kepada Allah atas pemberian nikmatnya berupa rasa makanan tersebut. Kemudian bayangkan sambil pahami. Semua ini bisa terjadi karena dahsyatnya Allah sebagai Kecerdasan Semesta tanpa batas yang menganugerahkan saraf-saraf yang super sensitif plus rasa dari berbagai hidangan yang kita makan itu di lidah kita. Semua itu bisa terjadi oleh karena kehadiranNya sehingga kita bisa merasakan sensasi yang luar biasa.

Sering saya meneteskan air mata ketika kesadaran saya sampai ke tingkat itu. Aktivitas itu dilakukan secara repitisi hingga selesai, barulah merenungi nikmat apalagi yang saya dustakan selama ini? Bukankah kenikmatan aktifitas makan itu, sebuah SURGA yang dianugerahkan Allah untuk kita? Selama ini, saking sudah terbiasanya sebagai kebiasaan yang sifatnya rutinitas, sibuk mengumpulkan Pahala untuk bekal ke Surga nanti.

Sesuatu yang ada kata “NANTI” itu belum pasti, karena kita masih berjudi bisa YA bisa juga TIDAK. Sementara kenikmatan Surga yang nyata setiap hari kita abaikan/cuekin begitu saja. Bahkan kalau makanannya tidak bisa memenuhi selera makan, cenderung tidak diteruskan. Akibatnya menjadi mubazir. Padahal baru berbicara satu jenis aktifitas saja, tidak ada yang mampu menguraikan asal muasalnya setiap makanan dan minuman yang terhidang di depan meja makan kita tersebut. Hal itu harus melalui proses berapa panjang dan melibatkan berapa penghuni semesta lainnya?

Subhanalloh tergetar hati saya kalau membayangkan semua itu. Setiap manusia sangat mudah sekali mengucapkan Atas Nama Allah. Namun ada berapa banyak manusia yang betul-betul mendapatkan mandat untuk mengatas namakanNya dan bisa merasakan kehadiranNya? Hanya Allah yang tahu.

Ketiga adalah ALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘AALAMIIN yang artinya: SEGALA  PUJI MILIK ALLAH TUHAN PEMELIHARA SEMESTA ALAM.

Saya baru bicarakan mengenai satu aktivitas makan, yang memakai mulut sebagai alat yang bisa merasakan multirasa. Belum bicara mengenai organ-organ tubuh yang lainnya. Kalau saja di setiap aktifitas, kita bisa membayangkan lalu mengingat atas Kebesaran dan KehadiranNya, niscaya kita akan selalu hening. Kita akan merasakan Tidak Bisa Apa-apa, Tidak Punya Apa-apa, Tidak Tahu Apa-apa dan Bukan Siapa-siapa. Tidak terasa air mata mengalir hangat di pipi. Sungguh Surga itu Nyata adanya.

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
Welly SetiawanLodwig HeruRa. Annisa Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Ra. Annisa
Guest
Ra. Annisa

Bagi saya surga hanyalah sebuah kondisi yang menyenangkan dan tidak benar-benar tempat yang ada secara teknis. Di mana Anda berada, selama Anda berada dalam kesenangan luar biasa, kebahagiaan, kenikmatan, atau yang sejenisnya, Anda sedang berada di dalam surga.
RA. Kartini, mengungkapkan ”Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Dengan melakukan kejahatan, nurani kamilah yang menghukum kami. Dengan melakukan kebajikan, nurani kamilah yang memberi kurnia.” (Surat kepada E. C Abendanon, 15 Agustus 1902).

Lodwig Heru
Guest
Lodwig Heru

Pak Tonny saat ini berada di Surga atau tepatnya di Manyaran Hill, sebab menurut saya Surga dan Neraka bukan hanya ajaran akherat yang tidak bisa dilihat di bumi, ia hadir di sini juga. Misalnya ketika Anda ribut dengan istri Anda maka Anda sedang berada di neraka. Ketika Anda rukun damai dengan sesama Anda sedang berada di surga. Surga..neraka.. adalah jelmaan apa yang kita tanam di masa lalu dan buahnya bukan hanya nanti, tapi saat ini

Welly Setiawan
Guest
Welly Setiawan

Apabila seorang pengusaha memiliki kolam renang ataupun lapangan tenis pribadi di rumah mereka itu wajar. Namun hanya seorang Konglomerat Kelas Dunia yang sudah melengendaris saja yang bakalan mampu memiliki setengah kota maupun lapangan Golf pribadi seperti yang dimiliki oleh pak Tonny saat ini. Dan ini baru bisa dibilang berada di Surga – Mantab & Acung Jempol untuk Bpk !