Mengenal Diri Sendiri, Mengenal Tuhan (3): Sungguh Indah Bersama Tuhan

2019-03-02T21:45:49+07:00Maret 2nd, 2019|Rohani|3 Comments

Suatu saat ada sahabat saya yang mengatakan, kalau saya mengatakan bahwa di dalam diri setiap manusia ada utusan Allah, lalu manusia itu melakukan perzinahan bukankah hal itu sama denga juga saya melecehkan Allah?

Jawaban saya adalah: Yang pertama dengan kalimat pertanyaan sahabat saya tadi, berarti beliau tidak meyakini bahwa dalam tubuh setiap menusia itu ada utusan Allah. Berarti pula beliau tidak percaya dengan ayat: Bahwa Allah telah meniupkan Ruh-Nya kepada setiap manusia, dan ayat Allah ada dimana-mana… Arti dari di mana-mana, tentu termasuk di dalam tubuh manusia. Bukankah dengan tidak percaya terhadap dua ayat yang menerangkan Allah ada di dalam tubuh manusia itu juga sudah termasuk dalam katagori sebuah pelecehan?

Jawaban ke dua: Setiap manusia yang bisa menyaksikan dan mengenal Allah atau utusan Allah itu sudah pasti tingkat kesadaran sudah sampai pada puncaknya. Seperti juga ketika Nabi Muhammad bertemu dengan Allah di langit ketujuh, yaitu Sidratul Muntaha. Adapun hakekat makna dari pada Sidratul Muntaha itu adalah puncak kesadaran yang paling tinggi. Maka sudah bisa dipastikan bahwa orang-orang yang tingat kesadarannya sudah mencapai tingkat yang paling tinggi, tentu sudah mewarisi sifat-sifat Allah.

Lalu pertanyaan saya, apakah mungkin orang-orang yang sudah mewarisi sifat-sifat Allah, masih bisa melakukan hal-hal yang negatif? Bukankah orang-orang yang suka melakukan hal-hal yang negatif itu tingkat kesadarannya masih rendah?

Orang-orang yang tingkat kesadarannya masih rendah itu lebih menggunakan ego dan kepentingan dirinya sendiri. Kalau ego dan kepentingannya itu dibuat untuk hal-hal yang positif/baik, itu tandanya orang ini sedang memerankan peran Malaikat. Tapi sebaliknya jika ego dan kepentingannya itu digunakan untuk melakukan hal-hal yang negatif/buruk, artinya orang tersebut sedang memerankan perannya Iblis/Syaitan. Bukankah pada hakekatnya Malaikat dan Iblis juga ada di dalam tubuh manusia itu sendiri.

Kalau menurut ajaran Islam, bahwa manusia diciptakan itu untuk menjadi pemimpin (khalifah) di muka bumi ini, maka dia diberikan hak/kekuasaan  dan kehendak/keinginan. Oleh karena itu kalau tingkat kesadaran manusia itu rendah, maka semua tindakannya lebih mengarah kepada hal-hal yang negatif. Sebaliknya kalau manusia itu tingkat kesadarannya sudah mencapai puncaknya, maka semua tindakannya akan selalu mengarah kepada hal-hal yang positif. Penjelasan ini sekaligus menjadi jawaban saya yang kedua.

BARANG SIAPA MENGENAL DIRINYA, MAKA SUNGGUH DIA MENGENAL TUHANNYA. Sungguh sangat indah ayat ini bagi yang bisa memahaminya.

Berikut ini saya sampaikan kata-kata bijak dari guru saya. Dr. Wayan Mustika:
INDAHNYA BERSAMA TUHAN

Indahnya bersama Tuhan adalah Dia tak pernah meninggalkan kita meski kita selalu mengabaikan-Nya.

Meski Dia Maha Tahu, kita boleh bicara apa saja dalam doa-doa dan pengaduan pada-Nya. Dan Dia akan tetap diam dalam kata sembari tekun mendengar karena Dia Maha Mendengar.

Dia tetap memberi meski kita tidak pernah bersyukur, lalu tetap mengambil pada saatnya meskipun kita merajuk.

Dia tetap tenang dalam kemahakuasaan-Nya, meski kita selalu jumawa mengatur-atur kehendak-Nya.

Dia tetap tenang dalam diam meski kita berteriak-teriak memanggil-Nya, lalu datang hanya saat kita mau hening mendengar-Nya.

Dia mendatangi kita meski kita selalu menjauhi-Nya, lalu menjauh saat kita berusaha mendekati-Nya.

Dia tak melawan dengan kuasa-Nya meski kita menantang dalam kelemahan diri.

Dia tempat mengadu yang mendamaikan, karena Dia tidak akan pernah mengadu anak-anak-Nya yang saling mengadu.

Ah, sungguh indah kebersamaan dengan Tuhan bagi yang meyakini-Nya ada. (*)

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
Haji IbrahimMuldoko ImranIr. Iskandar Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Ir. Iskandar
Guest
Ir. Iskandar

Satu tulisan yang sangat radikal sekali, karena secara tidak langsung Bpk telah menyatakan bahwa “Setiap Manusia yang ada di kolong lagit itu adalah Tuhan”. Pak Tonny layak untuk disejajarkan dengan Cak Nur (Nurcholish Madjid ) sang “Begawan Intektual Muslim”  

Muldoko Imran
Guest
Muldoko Imran

Satu ulasan yang sangat bagus. Apa yg pak Tonny paparkan itu sudah tercantum dalam sebuah Hadits :“Barangsiapa yang mengenal akan dirinya niscaya kenal lah ia akan Tuhannya.” Sebagaimana yang kita ketahui bahwa diri ini terdiri dari pada diri Zahir dan Diri Batin.Diri Zahir itu hanyalah sebatas “Bukti” adanya Allah. Dan diri Zahir itu pada Hakikatnya tidak bisa apa-apa (tidak bisa bergerak, melihat, mendengar, mencium dan berkata-kata) tanpa adanya diri Batin (roh,jiwa, diri, nafsu, qolbu yang telah melebur menjadi satu dalam batin yang dikomando oleh HATI). Jika semua detum irama alunan nada diri itu telah kita ikhlaskan dan kita satukan dalam… Read more »

Haji Ibrahim
Guest
Haji Ibrahim

Apakah mungkin bahwa Pak Tonny itu titisan dari Syekh Siti Jenar, sebab salah satu pandangan Syekh Siti Jenar yang kontroversial bermula ketika dirinya menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat penyatuan antara manusia dengan tuhan – “manunggaling kawula gusti” yg merupakan inti ajaran Syekh Siti Jenar. Siti Jenar sama seperti pak Tonny yg meyakini bahwa penyatuan Allah (Tuhan) di dalam diri manusia merupakan esensi keberislaman seseorang.