Mengenal Diri Sendiri, Mengenal Tuhan (1): Hanya Diri Kita Yang Bisa Merasakan Kebenaran

2019-03-11T09:05:02+07:00Maret 2nd, 2019|Artikel Pilihan, Rohani|2 Comments

Ada sebuah hadits Qudsy: “Man Arrofa Nafsahu, Fa Qod Arrofa Robbahu”, yang artinya, “Barang siapa kenal dirinya, maka sungguh dia kenal Tuhannya.”

Namun sayangnya, banyak orang dan para ulama ahli hadits yang mengatakan bahwa hadits ini do’if (lemah), bahkan palsu.

Tapi, saya termasuk orang yang tidak setuju dengan orang-orang, atau sebut saja para ulama ahli hadits, yang menilai sebuah hadits itu lemah ataupun palsu, hanya dikarenakan di antara penyampai hadits (prowi)nya, ada yang pembohong atau penipu.  Pasalnya, bohong dan tidaknya seseorang itu, tidak bisa dinilai oleh orang lain, kecuali oleh dirinya sendiri bersama Allah yang Maha Mengetahui.

Kenapa saya berpendapat seperti itu? Karena setiap makhluk dan benda yang ada di semesta ini tidak ada yang diam secara total. Semuanya sedang bergerak (berevolusi) dalam ruang dan waktunya masing-masing termasuk kita sebagai manusia. Artinya seorang pembohong pada ruang dan waktu tertentu bisa saja dia berkata jujur. Dan siapa yang bisa tahu bahwa ketika menyampaikan sebuah hadits yang dimaksud itu, justru dia sedang berkata jujur. Seperti saya katakan tadi, yang tahu dia berbohong atau jujur cuma dirinya saja dan Allah yang Maha Mengetahui. Inilah sebuah alasan pertama dari saya kenapa saya tidak setuju.

Adapun alasan kedua, pada setiap satu hadits yang disampaikan itu, pasti prosesnya melewati  beberapa orang penyampai (prowi). Dimana jumlahnya relatif, bahkan ada yang sampai 10 orang jumlah penyampainya.

Hal tersebut merupakan sebuah mata rantai yang cukup panjang. Apalagi dalam penyampaiannya tersebut, membutuhkan waktu secara berjenjang. Mungkin saja bisa menghabiskan waktu hingga bulanan bahkan tahunan.

Lalu, apakah hadits yang disampaikan melalui begitu banyak orang tersebut, bisa dijamin keutuhan cerita aslinya? Saya sangat meragukannya. Bahkan kalau boleh lebih ekstrim lagi, saya meyakini apa yang disampaikan oleh orang terakhir dari para penyampai hadits tersebut, pasti tidak akan benar-benar sama seperti cerita asli dari sumbernya yaitu Nabi Muhammad SAW.

Hal ini bisa dengan mudah kita buktikan dengan model percobaan ini. Kita bisa minta bantuan sekitar 7 orang untuk berbaris. Kemudian kita bisikan ke telinga orang pertama dan sisanya 6 orang kita minta untuk membalikkan badan. Tujuannya adalah agar sewaktu kita berbisik keenam orang ini, tidak ada yang bisa melihat apa yang kita lakukan.

Setelah selesai membisikkan satu kalimat ke orang pertama, lalu kita minta orang pertama yang mendengar kalimat tersebut untuk berbuat hal yang sama seperti yang kita lakukan kepada dia di awal. Dia membisikan kalimat yang sama tersebut kepada orang ke dua.  Begitu seterusnya yang dilakukan secara estafet oleh orang ke dua kepada orang ke tiga, hingga sampai orang ke tujuh.

Saya bisa pastikan kalimat bisikan yang dibisikkan orang ke enam sebagai pembisik kalimat terakhir, tidak akan sama seperti kalimat yang kita bisikan kepada orang pertama tadi. Akhirnya ketika kita tanyakan ke orang ke tujuh yang menerima bisikan kalimat dari orang ke enam tadi, maka bunyi kalimat yang dia dengar tadi pasti berbeda dengan yang didengar orang pertama yang menerima bisikan kalimat dari kita.

Ini sebuah bukti bahwa menyampaikan hanya sebuah kalimat yang dilakukan secara estafet pula, ternyata hasilnya melenceng jauh dari kalimat aslinya.  Bisa kita bayangkan, ini baru bicara sebuah kalimat, bagaimana kalau menceritakan sebuah peristiwa dan dilakukan dengan waktu berjarak yang cukup panjang? Menurut saya sudah bisa dipastikan cerita tentang peristiwa tersebut tidak mungkin bisa lengkap 100%, bahkan kemungkinan besar malah berbeda jauh dengan cerita aslinya.

Pertanyaannya, jadi bagaimana caranya untuk membuktikan sebuah kebenaran?

Kata guru ngaji lama saya, dengan iman kita wajib percaya dengan sepolnya, karena janji Allah itu pasti.  Seperti hari ini adalah hari Senin besok pasti hari Selasa, demikian kata guru ngaji saya dengan penuh semangat.

Mungkin beliau lupa, kalau analoginya seperti hari ini Senin besok pasti hari Selasa, itu kan nyata dan bisa kita saksikan serta rasakan. Bagaimana kalau kita tidak pernah menyaksikan, juga tidak mengalaminya sendiri. Apakah bisa bicara kepastian juga?

Padahal definisi “iman” menurut Nabi Muhammad yang diriwayatkan dalam sebuah hadits, hakekat maknanya itu tidak sama dengan yang diartikan oleh buku Kamus.

“IMAN” kata Nabi Muhammad SAW: TASDIQU BI QOLBI WA IKRAR BIL LISAN WA AMALUN BIL ARKAN = PEMBENARAN OLEH QOLBU DAN DIUCAPKAN DENGAN LISAN DAN DIAMALKAN DENGAN PERBUATAN.

Kata Nabi juga: MAN LAM YADZUG LAM YA’RIF = BARANG SIAPA TIDAK MENGALAMI, TIDAK MUNGKIN MEMAHAMI.

Ditambah lagi, orang-orang yang disebut namanya dalam hadits tersebut, baik itu penyampai atau pun pencatat haditsnya, tidak ada satu orang pun yang kita kenal. Hal ini disebabkan oleh perbedaan zaman, antara waktu mereka hidup di semesta ini, dengan zaman kita hidup pada saat ini. Jarak perbedaannya sudah mencapai ribuan tahun. Bisa kita bayangkan betapa peristiwa-peristiwa yang ada dalam perjalanan kehidupan kita sekarang ini saja, kita masih tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Contoh seperti peristiwa G30S, sampai saat ini masih merupakan sebuah misteri.

Diperkuat lagi oleh ayat-ayat dalam Al-Quran yang sudah sering saya tulis dalam artikel-artikel saya, diantaranya, seperti: Aku (Allah) dekat, lebih dekat dari urat lehermu…, Aku (Allah) meliputi segala manusia…, Aku (Allah) ada dimana-mana… dan banyak lagi.

Jadi atas dasar penjelasan saya di atas tadi ditambah keterangan hadits Nabi mengenai definisi “IMAN”, dan ayat-ayat dalam Al-Quran, maka bisa disimpulkan bahwa yang bisa menilai hadits itu lemah atau palsu, ya diri kita sendiri. Karena hanya diri kita yang bisa memahami serta merasakan sebuah kebenaran.

Saya tambahkan sebuah kasus yang paling up to date, yang sedang terjadi saat ini di depan mata kita, yaitu maraknya berita hoax di dunia medsos. Di era perkembangan IT yang sangat maju seperti saat ini, kita kewalahan untuk bisa membedakan mana berita benar dan mana yang tidak benar. Apalagi berbicara tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada ribuan tahun yang lalu, di mana peradaban manusia masih sangat sederhana, baik itu di bidang ilmu pengetahuan maupun teknologi.

Mari kita gunakan kecerdasan akal pikiran kita yang sehat dan sadar, agar kita bisa lebih bijak, serta lebih objektif untuk melihat kebenaran dari sebuah berita maupun cerita. Apalagi yang berhubungan dengan masalah spiritualitas, yang bisa membawa dampak dalam kehidupan kita sehari-hari. (Bersambung).

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Jiant RamadanHendro Kurniawan Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Hendro Kurniawan
Guest
Hendro Kurniawan

Hebat pak Tonny berani menyatakan dgn jujur, bahwa ada hadis yg tidak benar. Selain ada yang sahih, ada juga hadis lemah bahkan palsu. Apa yg Bpk uraikan itu benar dan tepat sekali, sebab Nabi sendiri pernah melarang para sahabatnya untuk mencatat pernyataan-pernyataan yang datang dari dia. Bunyi hadis itu adalah: “Jangan kamu menuliskan apa yang datang dariku, siapa yang menuliskan sesuatu dariku selain Al-Qur’an, maka hapuslah,” (diriwayatkan Ahmad bun Hambal). Misalnya dlm kasus hadis larangan makan sambil berdiri atau minum dengan tangan kiri, bagi saya, itu bisa langsung dipertanyakan karena tidak masuk di akal. Acung jempol untuk sang Mualaf Zaman… Read more »

Jiant Ramadan
Guest
Jiant Ramadan

Bagus menggunakan kata “Qolbu” bukan “hati”, soalnya saya sering bertanya pada diri sendiri, kenapa banyak orang Indonesia yang menyamakan hati/liver dengan jantung/heart/”qolbu”.