Mendaras Rahasia Semesta (1): Sang Maha Hidup dalam Ruang Kosong

2019-04-27T13:47:47+07:00April 13th, 2019|Rohani|6 Comments

Seperti yang sudah pernah saya tuliskan pada buku saya, AKU BERSAKSI ALLAH MAHA NYATA, bahwa untuk mengetahui rahasia alam semesta ini, kita tidak bisa belajar di tengah perjalanan kehidupan yang sudah berlangsung jutaan tahun lamanya, tanpa kita ketahui asal-usulnya tentang kehidupan ini. Mau tidak mau, kita harus memulainya dari awal sebelum terciptanya alam semesta ini.

Yang saya pahami, awal dari alam semesta ini sebelum diciptakan adalah sebuah ruang kosong. Pertanyaannya, “Tuhan/Allah sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas ada di mana?” Jawabannya, “Beliau” adalah yang meliputi kekosongan itu. Seluruh benda-benda langit yang jumlahnya milyaran trilyun tersebut, berada dalam ruang kosong yang tanpa batas. Di antara ruang kosong itu, terdapat unsur gas yang mengisi kekosongan tersebut. Seluruh materi yang mengisi kekosongan tersebut, dibangun oleh berbagai macam jenis atom yang membentuk molekul-molekul dan jaringan materi dalam sebuah ikatan yang dibangun oleh energi. Materi adalah energi yang memadat. Energi adalah kemampuan melakukan usaha penciptaan yang berasal dari Kecerdasan Semesta Tanpa Batas. Dialah sang Kehadiran dan Keberadaan dibalik semua materi dan ruang antar materi.

Jadi sesungguhnya pada ruang yang kelihatannya kosong tersebut, ternyata ada “kehidupan” dan satu-satunya yang menghidupi ruang kosong itu adalah Sang Maha Hidup, yaitu Kecerdasan Semesta Tanpa Batas.

Jadi dengan demikian, artinya, setelah alam semesta ini Allah ciptakan berikut seluruh isinya: semua benda, materi, flora, fauna, dan termasuk manusia, semua berada di dalam ruang lingkup Allah, sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas. Karena itulah pada kenyataannya hingga saat ini, di alam semesta ini, jauh lebih banyak ruang kosongnya dari pada isinya. Kesimpulannya adalah bahwa pada alam semesta yang awalnya terlihat kosong tersebut, hanya ada DIA (ALLAH). Begitu juga setelah seluruh isi alam semesta tersebut sudah tercipta, yang  ada adalah DIA (ALLAH) juga.

Sesuai dengan surat Al-Hadid ayat 3 dalam Al-Quran, Allah berfirman: DIA YANG AWAL, DIA YANG AKHIR. DIA YANG NYATA, DIA YANG TIDAK NYATA, DAN DIA MAHA MENGETAHUI.

Sampai di sini, jelas bahwa alam semesta berikut seluruh isinya adalah cuma DIA (ALLAH).

Bukankah kita sepakat bahwa semua kehidupan yang ada di alam semesta ini hanya terdiri dari dua unsur saja, yaitu Materi (fisik=Nyata) dan Immateri (Ruh=Tidak nyata). Karena itu, berdasar penjelasan yang sangat jelas dan gamblang di atas, maka bisa dipastikan, yang Nyata itu DIA (ALLAH), yang Tidak Nyata itu juga DIA (ALLAH).

Karena semuanya adalah realita kehidupan yang ada di alam semesta ini, maka agar mudah dipahami dan dimengerti, saya akan coba jelaskan dengan akal pikiran yang sehat dan sangat sederhana. Untuk referensi ilmu fisika ilmiah bisa dicari (search) di google dan sumber-sumber informasi lainnya.

Dulu, ada sahabat satu pengajian saya yang mengatakan, “Jangan coba-coba belajar ilmu agama dari “Mbah Google”! Tidak jelas sanadnya dan isnadnya tidak bisa dipertanggung jawabkan. Menurutnya hal itu sangat berbeda dengan mengaji bersama mubalig, ustadz, atau ulama yang jelas sumber ilmunya.

Sambil tersenyum, saya pun menjawab penjelasan sahabat saya tadi. Bukannya malah terbalik? Justru data-data dari “Mbah Google” itu lebih akurat, jelas dan lebih up to date, karena secara pribadi kita bisa langsung mengaksesnya, dan kalau ada yang meragukan bisa segera dicarikan kebenarannya?

Namun sebaliknya, kalau kita belajar dari hadits-hadits “Shoheh” atau dari kitab tafsir “ulama-ulama besar” dan sebagainya, siapa yang bisa menjamin kebenarannya? Padahal tidak ada satupun dari prowi=penyampai riwayat sebuah Hadits, atau cerita yang ada di dalam kitab ataupun Hadits tersebut, satupun tidak ada yang kita kenal, dan sudah terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun yang lalu. Bagaimana kita bisa meyakininya?

Lucunya sahabat saya itu malah mengatakan, “Ilmu pengetahuan tidak bisa dibandingkan dengan ilmu teologi. Kalaupun ilmu pengetahuan itu mengatakan bumi bulat, tapi sebaliknya di dalam Al-Quran itu dikatakan bumi itu datar, maka kita wajib percaya kepada Al-Quran yang merupakan wahyu dan firman dari Allah.” Masya Allah luar biasa bukan?

Itulah akibat belajar ilmu yang absolut sehingga menimbulkan kekakuan. Dikarenakan timbulnya kekakuan tersebut, maka terjadilah pemisahan antara orang yang belajar ilmu tersebut dengan semesta. Padahal, sesungguhnya sumber ilmu yang paling benar adalah ilmu dari semesta. Untuk bisa menampung aliran ilmu semesta tersebut, maka diperlukan sebuah kekosongan.

Ibarat sebuah gelas, kalau masih kosong kita mudah untuk menuangkan cairan ke dalam gelas tersebut. Jika gelas itu ternyata sudah penuh dengan cairan sebelumnya, maka untuk bisa menampung cairan yang baru, cairan yang sudah ada di dalam gelas itu harus dibuang terlebih dahulu. Selanjutnya barulah gelas tersebut bisa menampung cairan yang baru.

Kira-kira seperti itulah analoginya. Untuk bisa memahami pengetahuan yang terbaru dari semesta, kita harus membuang ilmu-ilmu yang sudah kita pelajari dahulu. Pasalnya, kalau kita mempertahankan yang sudah kita pelajari sebelumnya, resikonya akan menjadi racun. Akhirnya, kalau ada pemahaman yang baru dari semesta yang masuk, kita akan selalu menolaknya. Fenomena seperti inilah yang terjadi dengan mayoritas manusia yang mempelajari ilmu Teologi (Agama) sekarang di seantero bumi yang kita tempati saat ini.

(Bersambung)

6
Leave a Reply

avatar
6 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
6 Comment authors
Nur HakimDr. Wiliam TanAndi SuparmanSri TutiIr Bruce Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Andi Suparman
Guest
Andi Suparman

Kali ini sy membaca hasil karya pak Tonny seperti juga sedang membaca buku sains popular “A Brief History of Time: From the Big Bang to Black Holes” hasil karya Guru Besar Fisikawan Stephen Hawking. Siapa tahu Bpk juga bisa mendapatkan “Abert Einstein Award” seperti beliau atas hasil karya tulisan ilmiah dari Pak Tonny ini.

Sri Tuti
Guest
Sri Tuti

Ilustrasinya bagus dan sangat cocok sekali dgn isi tulisan ilmiah Bpk

Ir Bruce
Guest
Ir Bruce

Phytagoras mengatakan bahwa bumi itu bulat pada sekitar tahun 600 SM. Kemudian baru-baru ini munculah “Flat Earth Society” di internet, semacam perkumpulan yg percaya bahwa bumi itu datar. Namun apabila planet itu datar nggak akan mendukung hukum gravitasi, sehingga bagi mereka gravitasi itu juga nggak ada. Padahal dgn mudah kita bisa mematahkan teori bahwa bumi itu datar, tinggal terbang naik pesawat yang terbang cukup tinggi langsung bisa terlihat lengkungan bumi, bahwa bumi ini bulat.

Drs. Djoko Muladi
Guest
Drs. Djoko Muladi

Jarang penulis yg mampu menulis perpaduan antara Sain dan Agama. Antara keingintahuan/kedahagaan pikiran manusia dgn kehangatan/kesejukan hati. Namun dgn secara lugas pak Tonny telah berhasil mengimbangi kedua hal tsb.

Nur Hakim
Guest
Nur Hakim

Sy sebagai pembaca tetap setiap tulisan pak Tonny, sekarang menjadi agak bingung untuk bisa membedakan apapakah pak Tonny ini seorang Ustadz, Kiai ataukah seorang Dosen Profesor Fisika, Karena bpk memiliki pengetahuan yg dalam sekali mengenai Agama. Namun di sisi lain bpk juga memiliki pengetahuan sains seperti layaknya seorang Guru Besar dari ITB. Maka tepatlah apabila pak Tonny menyandang gelar sebagai Mualaf Zaman Now

Dr. Wiliam Tan
Guest
Dr. Wiliam Tan

Satu karya tulisan ilmiah yg ruar biasa. Apa yg bpk tulis benar sekali. Maklum karena adanya ruang kosong inilah yang membuat tubuh ini hidup dan berproses. Maka, hal ini pun membenarkan bahwa Tuhan (ruang kosong) lebih dekat daripada urat nadi kita sendiri. Tidak ada satu pun benda masif atau padat utuh. Semua benda pasti ada ruang kosongnya. Ruang kosong inilah Tuhan yang memungkinkan terjadinya perubahan. Ruang kosong ini adalah sumber energi yang tidak terbatas. Bahkan, menurut Fitchrof Capra, apabila suatu gunung diremuk atau dipadatkan, maka besarnya hanya sekitar sebesar suatu bola