Mencari Rumah Tuhan (3): Ibadah Haji ke Mekah Itu Tidak Wajib (?)

2019-02-28T22:18:23+07:00Februari 18th, 2019|Rohani|4 Comments

Dalam serial tulisan “Berwisata Adalah Ibadah” bagian 2, saya sudah mengungkapkan bahwa ternyata yang dimaksud rumah Allah, Baitullah Ka’bah itu sangat dekat. Jadi bukan hanya Mekah semata. Melainkan di dalam qolbu kita sehingga semua orang bisa mengunjunginya. Pemahaman saya yang seperti ini dipertanyakan oleh sahabat-sahabat saya. Mereka menganggap bahwa saya sudah keluar dari aqidah agama islam. Ibadah haji ke Mekah itu adalah bagian dari rukun agama Islam yang ke-5, jadi hukumnya adalah “Wajib”.

Namun, saya menulis artikel ini memang bukan untuk diperdebatkan dan mencari yang benar-salah. Sebelum bertemu Guru Mursyid, saya juga memiliki pemahaman yang sama seperti sahabat-sahabat saya itu. Bahkan sudah saya tulis di beberapa artikel saya. Syukur alhamdulillah bahwa saya sendiri juga sudah sejak tahun 1982 melaksanakan rukun Islam yang ke-5 tersebut, yaitu menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Saya juga pernah mengatakan, sesungguhnya di semesta ini tidak ada yang salah.  Salah-benar itu adalah “dualitas” yang Allah ciptakan sebagai sebuah kesempurnaan bagi hukum di semesta ini. Jadi di semesta ini tidak ada yang “salah”. Yang ada adalah “belum benar”, karena semua sedang berproses dalam ruang dan waktunya masing-masing.

Kembali ke masalah yang diprotes oleh sahabat-sahabat saya tadi, di sini saya mengajak semua pembaca untuk berpikir memakai akal sehat, tanpa ego merasa paling benar sendiri. Coba pikirkan baik-baik siapa sih diri sejati kita ini? Kalau kita sadar bahwa kita semua ini adalah hambanya Allah, bagaimana caranya kita bisa kontak dengan Sang Pencipta kalau rumah Sang Pencipta itu jauh keberadaannya dari tempat tinggal kita sekarang ini?

Maka supaya kita bisa lebih jelas lagi, untuk memahami rahasia semesta ini, dalam buku saya yang berjudul AKU BERSAKSI ALLAH MAHA NYATA, saya membuat lima pertanyaan abadi bagi setiap manusia, adapun pertanyaannya adalah sebagai berikut:
1. Sebelum alam semesta ini ada, seperti apa keadaannya?
2. Untuk apa Allah menciptakan alam semesta ini?
3. Siapa diri sejati saya (manusia) ini?
4. Untuk apa saya (manusia) dihadirkan Allah di semesta ini?
5. Dari mana asal saya (manusia) dan kemana saya harus kembali nanti.

Saya pribadi merasakan jauh lebih bisa memahami hakekat makna kehidupan di semesta ini, setelah saya bisa mengetahui jawaban dari 5 pertanyaan yang saya ajukan tadi.  Begitu juga saya berharap hal yang sama untuk para pembaca yang sudah mengetahui jawabannya.   Pertanyaan para sahabat-sahabat saya selanjutnya, setelah mengetahui diri sejati kita (manusia), apakah menunaikan ibadah haji ke Mekah itu masih merupakan sebuah kewajiban atau tidak?

Jawaban saya adalah, jika mengacu kepada surat Ali-Imran 96-97, dan disesuaikan dengan penafsiran dari Guru Mursyid saya, serta diperkuat oleh firman Allah di dalam surat Al-Quraisy ayat 3, yang terjemahannya sebagai berikut: MAKA HENDAKLAH MEREKA MENYEMBAH TUHANNYA RUMAH INI, maka kalau perintah Allah menyembah Tuhan yang punya rumah ini, berarti bukan malah justru menyembah rumahnya.

Selanjutnya setelah melaksanakan ritual Wukuf=Istirahat, Allah berfirman dalam ayat 200 dari QS surat Al-Baqarah :   APABILA KAMU TELAH MENYELESAIKAN IBADAH HAJIMU, INGATLAH ALLAH SEBAGAIMANA KAMU MENGINGAT BAPAKMU, BAHKAN MENGINGATNYA LEBIH DARI PADA ITU. DI ANTARA MANUSIA ADA YANG MENGATAKAN, YAA TUHAN KAMI, BERIKANLAH KEPADA KAMI DI DUNIA INI ADALAH APA-APA YANG BISA MENGANTARKAN KAMI KE AKHIRAT DARI APA-APA YANG TELAH ENGKAU CIPTAKAN.

Menurut pemahaman saya, untuk mengingat sesuatu, harus diawali proses, melihat dan mengenal terlebih dahulu. Setelahnya baru bisa mengingat. Kalau tidak ada proses seperti itu, jadi apa yang mau di ingat? Begitu pula sewaktu saya berhaji dulu. Saya hanya mengikuti pelajaran manasik haji saja. Padahal inti dari semua yang diajarkan dalam manasik itu adalah upacara untuk mengerjakan ritualnya saja. Tidak ada hakekat maknanya. Berarti yang saya kerjakan pada ibadah Haji dan Umroh yang selama ini menjadi tidak bermakna.

Saya menyimpulkan menunaikan ibadah haji ke Mekah itu menjadi tidak wajib. Tetapi jika kita mau pergi ibadah ke sana juga, tentunya tidak dilarang. Sebagai syariat agama Islam, tidak ada yang salah. Semuanya baik-baik saja. Apalagi energi di sana sangat positif. Orang yang berkunjung ke sana mayoritas berdoa, memohon kebaikan. Anggap saja kita juga sedang berziarah ke tempat pusatnya sejarah agama Islam. Apalagi di kota Madinah ada makamnya Rosulluloh SAW.

Pada realitanya, mayoritas jamaah, ustadz atau mutowih yang pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah, tidak tahu hakekat maknanya ibadah haji itu sendiri secara spiritual.

Misalnya saya bertanya, kenapa saat kita melakukan ritual tawaf dan sa’i, harus memakai kain ihram? Kenapa hanya laki-laki saja yang wajib memakai kain ihram, sedangkan wanita tidak? Lalu kenapa tawaf harus dimulai dari hajar aswad kembali dan selesai juga di hajar aswad? Dan kenapa harus dilakukan 7 putaran? Kenapa sa’i yang wajib lari-lari kecil itu laki-laki bukan wanita? Bukankah awalnya yang melakukan ritual lari-lari kecil itu adalah Siti Hajar, istrinya Nabi Ibrahim yang notabene wanita bukan laki-laki. Kenapa harus dilakukan bolak balik sebanyak 7 kali? Selanjutnya saat melakukan jum’rah kenapa harus 7 batu? Dan seterusnya.

Setelah selesai melaksanakan ritual ibadah haji, pada umumnya jamaah melakukan jalan-jalan ke tempat bersejarah, belanja oleh-oleh dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Saat ini, sudah tersedia pusat perbelanjaan modern seperti mall dan toko-toko tradisional, letaknya berada di sekeliling Masjidil Haram. Ada di dalam areal hotel bintang lima bertaraf internasional, seperti Hilton, Raffles, Intercontinental, Oberoi, Marriot dan banyak lainnya.

Mengenai situs-situs bersejarah peninggalan zaman Rosulluloh SAW yang dulu berada di sekitar Masjidil Haram, sekarang sudah tidak tampak lagi. Tergusur oleh perluasan areal Masjid yang kian tahun kian tidak cukup lagi untuk menampung jamaah dari berbagai penjuru dunia yang mau menunaikan ibadah Haji dan Umrah.

Jika kita semua jujur terhadap diri sendiri, sesungguhnya kekhidmatannya ibadah sudah berkurang jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya suasana di sekitar Masjidil Haram dan sekitar Mesjid Nabawi, sudah penuh dikelilingi oleh raksasa-raksasa pengelola hotel kelas dunia. Suasana yang ada hampir tidak berbeda dengan kota-kota modern yang berada di negara-negara maju.

Dan pada umumnya kalau sahabat-sahabat saya bertanya kepada yang baru pulang Haji atau Umrah, kebanyakan pertanyaan yang diajukan adalah, “Berangkat menggunakan biro perjalanan haji yang mana? Tinggal di hotel apa? Dan sebagainya.”

Kalau kita renungkan kedua peristiwa yang saya tulis di atas, yang satu kegiatan pariwisata, dengan niat awalnya kita mengunjungi daerah-daerah dalam negeri maupun luar negeri, dengan tujuan untuk melihat, mengagumi serta menikmati semua karya-karya ciptaan Allah yang Maha Agung, baik yang langsung, maupun melalui tangan-tangan manusia yang dikehendaki-Nya untuk dijadikan sebagai perpanjangan tangan-Nya, menurut pemahaman saya kegiatan seperti ini juga termasuk ibadah kepada Allah.  Sedangkan yang berikutnya memang niat dari awal sudah ditentukan mau ibadah kepada Allah, berkunjung ke rumah Allah (Baitullah Ka’bah yang di Mekah).

Setelah memahami semua perjalanan hidup saya, dan SADAR untuk apa saya dihadirkan Allah ke semesta ini, akhirnya saya tersenyum pada diri sendiri, dan terus berusaha agar setiap hari bersyukur, saya telah diberi kesehatan, kedamaian serta kebahagiaan.   Pada hakekatnya semua kegiatan dalam kehidupan di alam semesta ini, saya sebagai makhluk Allah yang namanya manusia, memang tugasnya semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah SWT saja.   Sesuai firman Allah dalam surat Adz- Dzaariyaat ayat 56: DAN TIDAK KU JADIKAN JIN DAN MANUSIA KECUALI UNTUK BERIBADAH KEPADAKU. (*)

4
Leave a Reply

avatar
4 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
4 Comment authors
Darwis TamsilBennySuster AnnaDr Aji Sofanudin, Ms Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Dr Aji Sofanudin, Ms
Guest
Dr Aji Sofanudin, Ms

Spirit Mualaf Zaman Now dlm pola pikiran pak Tony sangat tercerminkan sekali. Dimana Bpk sebagai seorang Mualaf mulai mepertanyakan Ibadah Haji. Namun apa Bpk tulis ini benar sekali; Ibadah Haji sekarang ini tidak lebih dari sekedar Gengsi semata, dimana orang pergi ke Mekkah adalah orang dgn kasta suci dlm masyarakat. Makin sering seseorang pergi berhaji, maka semakin tinggi pula status sosialnya dlm lingkungan. Walaupun untuk ini harus hutang kiri-kanan.

Suster Anna
Guest
Suster Anna

Yth. Bpk Tonny Djayalaksana – Tulisan-tulisan Bpk ini menyejukkan dan juga membawa pesan damai secara lintas agama. Bahkan kalau ditekuni secara lebih mendalam lagi, saya yakin akan bisa meningkatkan tingkat kesadaran bagi para pembacanya. Salam damai

Benny
Guest
Benny

Sekedar tanya apakah orang yg telah menunaikan Ibadah Haji itu akan mendapatkan Status VIP di Surga? Pakah ada VIP Lounge khusus di Surga pagi mereka yg telah menyandang gelar Haji? Apakah semakin sering seseorang melakukan perjalanan ke Mekah bisa dinilai menjadi semakin Suci? Mungkin bisa ditulis dlm artikel berikutnya Bpk, terima kasih

Darwis Tamsil
Guest
Darwis Tamsil

Manusia terdiri dari 2 unsur :zahir dan batin,sehingga sebagai seorang muslim beribadah itu melibatkan kedua unsur tersebut,seperti tawaf misalnya pisiknya hadir didepan ka’bah namun batinnya menyembah Allah peimilik ka’bah dan ibadahnya ittiba kepada Nabi dan Rasul Muhammad Saw sebagaimana yg dicontohkan beliau.
Sebagai manusia yg belum menyatakan keislamannya (bukan ummat Muhammad Saw) tentunya dalam beribadah tidak mengikuti dan mencontoh Nabi Muhammad Saw.
Awalaluddin makrifatullah,ujung makrifatullah berpadu dgn syariah.
Dan inilah kesempuraan dinullah-dinul islam,risalah yg dibawa Muhammad Saw,
berdimensi hakikat-syariat,pribadi dan sosial.Walllahu a’lam.