Mencari Rumah Tuhan (1): Berwisata Itu Adalah Ibadah

2019-03-11T09:04:30+07:00Februari 16th, 2019|Artikel Pilihan, Rohani|3 Comments

Apa perbedaannya antara ibadah haji ke Mekah dengan berwisata ke daerah-daerah tujuan di dalam negeri maupun luar negeri?

Keindahan alam semesta itu sangat nyata. Hal ini semakin saya rasakan ketika baru saja usai menikmati liburan panjang akhir tahun bersama keluarga.   Apa sesungguhnya hakekat dan makna dari liburan dan pergi berwisata ke berbagai daerah tujuan, baik itu di dalam negeri, maupun di luar negeri?

Seandainya semua manusia itu SADAR, sesungguhnya berwisata kemana pun, tujuannya hanya satu yaitu “untuk menikmati keindahan alam semesta yang Tuhan/Allah ciptakan sendiri, maupun melalui tangan-tangan manusia yang Dia pakai sebagai perpanjangan tangan-Nya, agar semua makhluk di semesta ini bisa mengenali-Nya”.

Seharusnya sebagai hamba Allah, kita (manusia), merasa kewalahan dalam bersyukur. Saking tidak terhitungnya, nikmat Allah yang begitu besar, serta beraneka bentuk, ragam dan rasa yang sudah Allah berikan untuk kita (manusia), kita tidak boleh berhenti bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya tersebut. Bukankah bersyukur secara terus menerus atas nikmat Allah itu juga merupakan sebuah ibadah?

Menurut pemahaman saya, mengenali serta menikmati indahnya karya-karya dari Allah itu, juga bisa dipahami sebagai hakekat dan makna dari apa yang namanya Surga.

Sebuah kehidupan itu harus terdiri dari “dualitas”, “positif-negatif”. Ketika positif dan negatif itu menyatu barulah bisa hidup. Kalau tidak, maka tidak ada yang namanya kehidupan. Hukum “dualitas” itu adalah sebuah kesempurnaan yang Allah ciptakan di dalam kehidupan itu sendiri.

Allah telah menggunakan listrik sebagai analogi kehidupan di semesta ini, agar kita manusia bisa secara jelas dan nyata bisa mempelajarinya, kalau positif dan negatif tidak menyatu maka listrik pun tidak menyala (hidup). Dengan demikian semua kehidupan di alam semesta ini sudah Allah tunjukkan agar bisa dijadikan sebagai pembelajaran, supaya kita (manusia) paham dengan adanya.

Semua kehidupan yang ada di semesta ini  semuanya menganut hukum “dualitas”. Karenanya semua kehidupan di semesta ini tidak ada yang abadi. Satu-satunya yang  kekal dan abadi itu hanya milik Tuhan/Allah sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas. Dia yang monolitas sekaligus pemilik “dualitas”. Adapun bisanya kekal abadi itu karena monolitas. Jadi hanya ada positif thok. Justru karena hanya Allah satu-satunya yang monolitas, maka Beliau timbul kehendak “INGIN DIKENAL”.

Supaya bisa dikenal, harus diciptakan ruang dan waktu serta makhluk-makhluk untuk bisa mengenali-Nya. Dan makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya itu, tidak boleh ada yang kekal abadi. Karena itulah maka diciptakanlah alam semesta beserta isi-isinya. Yaitu benda-benda dan makhluk-makhluk yang menganut hukum “dualitas”, karena semua yang menganut hukum “dualitas” itu tidak ada yang kekal abadi.

Jika kita mengacu kepada alasan Allah menciptakan alam semesta ini, hanya untuk dikenal eksistensi-Nya saja, maka saya memahaminya kehidupan yang abadi itu adanya justru saat ini.

Di alam semesta ini, kenyataan tersebut tidak bisa dipungkiri. Apalagi jika kita mengingat bahwa umur alam semesta yang sudah berlangsung hingga miliaran tahun. Jika kita lihat dari peta Galaxy yang saat ini sudah dirilis oleh NASA, bumi yang kita tempati saat ini, sebagai titik saja tidak kelihatan di dalam peta tersebut. Itu artinya bumi ini sangatlah kecil.

Maka jika benar akan ada kiamat yang menghancurkan bumi dan seisinya, Allah sudah menyiapkan milyaran triliun bintang sebagai penggantinya. Jadi tidak bisa kita bayangkan, sampai kapan kehidupan alam semesta ini akan berakhir?

Menurut ayat Al-Quran di surat Al-Hadid ayat 3 Allah berfirman sebagai berikut: DIA YANG AWAL, DIA YANG AKHIR… yang bisa diartikan bahwa TIDAK ADA AWAL, JUGA TIDAK ADA AKHIR. Persis seperti yang Nabi Ibrahim ajarkan tentang ritual Tawaf, di waktu melaksanakan ibadah Haji dan Umroh. Yaitu dengan diawali dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad juga. Sementara ini Hajar Aswad dipahami sebagai rahim seorang ibu. Ini bisa juga diartikan bahwa kehidupan manusia di semesta ini sebagai siklus.

Kelahiran kita (manusia) di semesta ini diawali dengan dilahirkan melalui rahim seorang ibu. Proses yang terjadi terus berjalan seperti itu. Hal ini seperti yang tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 28: Allah berfirman sebagai berikut: “Mengapa kamu tertutup kepada Allah,  kamu tadinya mati lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan, kemudian kamu dihidupkan, kemudian kepada Allah-lah kamu akan kembali.”  Pertanyaannya, itu akan berlangsung sampai kapan?

Jawabannya adalah kekal abadi selamanya. Seperti halnya hakekat makna dari ayat tadi, TIDAK ADA AWAL JUGA TIDAK ADA AKHIR…  Kecuali kita sudah bisa melampaui hukum semesta yang “dualitas” menjadi “monolitas” maka kita yang “SESUNGGUHNYA DARI ALLAH, MAKA SUNGGUH AKAN KEMBALI KEPADA ALLAH JUGA” = “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN.

Dengan memanfaatkan acara wisata bersama keluarga untuk menikmati keindahan di setiap daerah ataupun luar negeri yang beraneka ragam, kita bisa menikmati pemandangan-pemandangan yang sangat indah, bangunan-bangunan yang sangat menakjubkan, dan situs-situs sejarah peninggalan berbagai kerajaan. Sungguh sangat luar biasa, spektakuler, sungguh Allah sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas adalah Sang Maha Segala Maha. Allah sudah membuktikan eksistensinya dan disesuaikan dengan zamannya saat itu.

Sebelum mendapatkan ilmu marifat, saya sama dengan kebanyakan orang-orang muslim yang lainnya, masih berharap mendapatkan surga, setelah meninggal dunia “nanti”.

Padahal surga itu sangat nyata adanya. Ia sedang kita tinggali saat ini, di bumi ini. Hanya kitanya sajalah yang sibuk dengan urusan sehari-hari sehingga abai dan tidak sadar untuk menikmati keindahan dan keagungan alam semesta beserta isinya ini. Itu karena pikiran kita sudah terpatri dengan ajaran, bahwa surga itu adanya “nanti” setelah kita meningggal dunia. Adanya surga itu di alam akhirat “nanti” dan kita akan bisa tinggal kekal abadi selama-lamanya, jika setelah hasil dihisab “nanti”, pahala kita lebih banyak dari pada dosa.

Ketika saya diberi kesempatan bisa berwisata ke luar negeri, setiap saya bertemu atau berpapasan dengan orang-orang indonesia atau pun orang dari luar negeri, wajahnya itu sungguh penuh dengan keceriaan, kebahagiaan, dan kedamaian. Maka dalam hati saya pun muncul pemikiran, alangkah akan lebih bahagianya mereka jika saja para wisatawan itu paham akan hakekat dan makna dari kehidupan ini.

Sudah pasti mereka akan lebih bisa mengagumi, meresapi dan menikmati semua karya dari Allah Sang Pencipta Yang Maha Agung itu. Karena itu, berwisata untuk menikmati karya-karya Agung yang diciptakan langsung oleh-Nya atau diciptakan melalui tangan manusia-manusia yang Dia kehendaki.  Menurut pemikiran saya, bukankah esensinya sama juga dengan ibadah?

Alam semesta ini diciptakan Allah semata-mata agar Allah dikenali oleh ciptaan-Nya. Itu terbukti, dari tahun ke tahun, zaman ke zaman. Semesta ini terus mengalami perubahan yang signifikan. Allah selalu menciptakan, memelihara, menghancurkan dan melebur, terus berjalan seperti siklus yang berulang-ulang dengan karya-karya yang terus berubah dan berganti-ganti. Itulah sebuah bukti bahwa alam semesta ini Allah jadikan tempat Dia untuk berkarya.

Namun disesuaikan dengan pikiran-pikiran manusia, yang memang sudah sejak awal Dia percikkan sebagian kecil cahaya Kecerdasan Semesta Tanpa Batas-Nya untuk bermilyar-milyar manusia yang ada, agar seluruh manusia yang ada di semesta ini bisa saling bersinergi, saling menebarkan kasih sayang, saling gotong royong untuk mewujudkan karya-karya Allah, agar eksistensi-Nya betul-betul bisa dikenali dan dinikmati oleh makhluk-makhluk ciptaan-Nya. (Bersambung)

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
Ir. SitumorangDjokoSiti Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Siti
Guest
Siti

Pak Ustadz, ada pertanyaan sederhana, bukankah Allah itu dekat dengan kita, mengapa kita mesti jauh-jauh pergi ke Saudia Arabia untuk berhaji?

Djoko
Guest
Djoko

Satu thema yg sangat menarik dibahas oleh Pak Tonny Namun sebagaimana diketahui secara umum, bahwa menjalani wisata religi ini hanya dengan cara berziarah dan mengunjungi makam-makam para wali saja, baik wali songo maupun yang lain. Tampaknya wisata religi ke makam para wali hanya sekedar memenuhi hajat duniawi, ngalap barakah dengan meletakkan botol air mineral di sekeliling makam, dan semacamnya, dan sepertinya belum ada ibrah apapun yang didapat dari kunjungan wisata religi ini, yang bisa membuat lebih dekat kepada Allah, ingat mati, takut akan siksa kubur dan siksa neraka. Menurut pendapat saya Perjalanan Religi hanya bisa berarti jika si pelaku sudah… Read more »

Ir. Situmorang
Guest
Ir. Situmorang

Tulisan Pak Tonny ini bisa dijadikan panutan agar kita bisa selalu berpikir positif. Berpikir positif adalah senjata hidup bahagia, oleh sebab itu tulisan Bpk ini merupakan poin yang sangat penting untuk diterapkan bagi para pemimpin dan calon pemimpin untuk mencapai tujuannya. Terima kasih Pak.