Mencari Kebahagiaan Abadi (2): Kebahagiaan Abadi Itu Ada di Bumi Ini

2019-02-28T22:16:44+07:00Februari 24th, 2019|Rohani|3 Comments

Pada hakekatnya semua peristiwa yang ada bumi ini tidak terlepas dari pikiran dan ego manusia. Allah menciptakan alam semesta dengan seluruh isinya ini, sudah disertakan dengan hukum “dualitas” yang diistilahkan dengan sebutan hukum sebab-akibat, atau tabur-tuai.

Untuk membuktikannya sangat sederhana. Coba perhatikan baik-baik, hampir semua manusia beragama dimuka bumi ini melakukan ritual doa. Baik itu secara beramai-ramai atau sendiri-sendiri (individu). Adapun doa yang dipanjatkan adalah segala macam permohonan yang disesuaikan dengan keinginan atau kepentingannya masing-masing. Doa yang umum dan hampir dimohonkan oleh semua umat beragama di bumi ini adalah, doa permohonan adanya perdamaian bagi seluruh umat manusia yang ada di bumi.

Doa ini sudah dipanjatkan entah dari sejak zaman kapan dimulainya? Sampai saat inipun masih berlanjut terus. Tapi apa yang kita saksikan? Realitanya di dunia ini tidak pernah ada perdamaian. Artinya Allah tidak mengabulkan doa tersebut. Bahkan kasarnya tidak mau mendengarkannya. Lalu pertanyaannya, kenapa Allah tidak mau mendengarkan apalagi mengabulkannya?

Jawaban Allah adalah, bukankah yang merekayasa sampai bisa timbul perpecahan individu, kelompok, komunitas, golongan atau negara, sampai timbul adanya peperangan, kerusuhan, pembunuhan, balas dendam dan sebagainya itu semua dikarenakan oleh ulah dari pikiran dan ego manusia itu sendiri? Bukan disebabkan oleh Allah. Jadi kesimpulannya, manusia yang membuat masalah kenapa Allah yang harus menyelesaikannya? Bukankah itu sebuah perbuatan harus dipertanggung jawabkan? Maka sudah selayaknya manusia yang berbuat, tentu manusia juga yang harus menyelesaikannya.

Itu salah satu contoh ilustrasi dari apa yang disebut dengan hukum sebab-akibat atau tabur-tuai.  Ada juga yang bertanya kepada saya, “Kalau surga itu ada di diri kita masing-masing, bagaimana cara meraihnya?” Jawaban saya seperti sudah saya tulis di dalam artikel saya yang berjudul “Daya ungkit Sadar”.

Pertama kita harus terus berbuat baik untuk semesta dan seisinya ini. Seperti yang sudah kita bahas tadi, hukum semesta ini menganut hukam “dualitas” yang alami, yaitu sebab-akibat atau tabur-tuai. Kalau kita selalu berbuat baik, tentu gelombang energi yang keluar juga baik/positif. Maka sudah bisa dipastikan, di kemudian hari kita juga akan menerima kebaikan atau hal yang positif.

Semesta ini menganut filosofi  “GIVE AND TAKE”=”MEMBERI DAHULU BARU KEMUDIAN MENDAPATKAN”. Bukan seperti praktek dari kebanyakan orang, yang justru mereka lakukan adalah kebalikannya, yaitu “TAKE AND GIVE”=”MENDAPATKAN DAHULU, BARU KEMUDIAN MEMBERI”. Maka hasilnya sudah bisa dipastikan, akan lebih banyak mendapatkan hal-hala yang negatif dari pada yang positif.

Kedua, kita harus bisa meningkatkan kesadaran sampai puncak yang paling tinggi, sehingga kita bisa melampaui hukum “dualitas” yang ada di semesta ini. Disitulah kita baru bisa mendapatkan kesucian kita kembali. Seperti awal kita terlahir ke semesta ini, setelah sekian lama diri sejati kita terkotori oleh pikiran dan ego sendiri. Dengan demikian, kita baru bisa bersatu kembali ke dalam haribaan-Nya. Itulah hakekat makna dari kalimat : INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RA’JIUN=SESUNGGUHNYA ASAL DARI ALLAH MAKA SUNGGUH AKAN KEMBALI KEPADA ALLAH JUGA.

Jadi tidak ada kalimat yang mengatakan, SESUNGGUHNYA ASAL DARI ALLAH MAKA SUNGGUH AKAN KEMBALI KE SURGA ATAU NERAKA.

Kesimpulan akhir dari tulisan ini –sebelumnya saya mohon maaf, kalau menurut pemahaman saya kata-kata yang sudah menjadi anker di benak saya itu, ternyata sudah tidak relevan lagi. Pertama seperti yang sudah saya tulis juga di artikel saya yang berjudul AKU HARUS JUJUR.

Telah saya jelaskan, bahwa akhirat, surga, dan neraka itu semua sifatnya masih tidak nyata/ghaib. Bisa ya bisa juga tidak. Jadi menurut pemahaman saya, kata-kata yang lebih cocok adalah: “Jangan mau tertipu dengan cerita yang belum nyata/ghaib, karena sesungguhnya kehidupan yang abadi itu, secara realita/kenyataan ada di bumi yang saya tinggali saat ini dan sudah berlangsung jutaan tahun lamanya.”

Allah menciptakan alam semesta berikut isinya itu tidak ada yang sia-sia. Allah saking ingin dikenal, oleh semua ciptaan-Nya, maka tidak ada satupun di alam semesta ini yang diam total. Semua sedang proses di dalam ruang dan waktunya masing-masing. Semua sedang berevolusi menyesuaikan dengan zaman dan peradaban manusia saat itu.

Sungguh tidak bisa dibayangkan, keindahan-keindahan yang Allah ciptakan dari zaman ke zaman di seluruh penjuru alam semesta ini. Hanya ketika kesadaran manusia sudah sampai pada puncaknya, maka akan terasa sekali betapa bahagia dan nikmatnya bisa merasakan kehidupan di alam semesta yang Allah ciptakan ini.

Sesungguhnya semua manusia di muka bumi ini, tahu persis keindahan-keindahan yang diciptakan Allah, melalui tangan manusia yang Dia kehendaki. Sayangnya sedikit sekali yang bisa menyadarinya. Mungkin karena di dalam benaknya sudah terpatri pemahaman, bahwa kehidupan yang abadi itu “nanti” di akhirat, dan sumber segala kebahagian dan kenikmatan itu adanya juga “nanti” di surga.

Hal ini membuat mereka-mereka itu tidak sadar, sesungguhnya pada saat ini juga mereka itu sedang menyaksikan sekaligus menikmati karya-karya Allah yang tidak terhitung ragam modelnya. Dan semua ini adalah realita, sesuai dengan satu-satunya kehendak Allah menciptakan alam semesta ini, yaitu hanya dengan satu tujuan: AKU INGIN DIKENAL.   LA ILLAHA ILLA ANA = TIDAK ADA TUHAN KECUALI AKU. (*)

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
Mas NanoDrs. Edwin GintingIr. Kenny Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Drs. Edwin Ginting
Guest
Drs. Edwin Ginting

“Syukur’ merupakan ciri khas kehidupan dari Pak Tonny, karena sang Pembawa Damai sejati hanya bisa dilakukan oleh mereka yang selalu penuh dgn rasa syukur, sehingga dgn mana bisa menyadari dan juga mengalami rasa damai dengan Allah maupun masyarakat disekitarnya. Hal inilah yg tercerminkan dlm tulisan pak Tonny sang Pembawa Damai.

Ir. Kenny
Guest
Ir. Kenny

Kita bisa mengambil konotasi dari konsep “take and give” ini; mengambil dulu baru memberi. Artinya, kita tidak akan memberikan apapun jika kita belum mendapatkan sesuatu. Seharusnya sesuai dgn apa yg ditulis oleh Pak Tonny “give and take” Dalam hal “give and rechieve (take)” Tuhan sudah berjanji, “…barang siapa melakukan perbuatan baik sebesar biji dzarah sekalipun, maka ia akan mendapatkan bagian (pahala) yang setimpal…” Sudah jelas, bukan? If you do something, than you will get something. Untuk mendapatkan sesuatu (have) kita harus melakukan sesuatu (do).

Mas Nano
Guest
Mas Nano

Kalau saya membaca apa yg pak Tonny paparkan bisa ditarik kesimpulan bahwa Ibadah Puasa pun sebenarnya tidak perlu dilakukan, begitu juga seperti yg Bpk tulis sebelumnya dimana ibadah naik Haji pun tidak perlu. Namun kalau direnungkan dgn seksama apa yg Bpk tulis ini kenyataan banyak benarnya. Yg menjadi pertanyaan sy: Apakah Sang Mualaf Zaman Now berhasrat untuk mendirikan agama dgn aliran baru?