Mencari Kebahagiaan Abadi (1): Bersenang-Senang itu Tidak Gampang

2019-02-28T22:17:38+07:00Februari 23rd, 2019|Rohani|3 Comments

Nasehat yang sering diucapkan di saat ada pengajian adalah, “Kita jangan mau tertipu oleh kenikmatan dunia yang sifatnya sementara, sebaiknya fokus kepada kehidupan yang abadi di akhirat nanti.”

Ada juga, “Semoga kita bisa menjadi salah satu penghuni surga yang penuh kenikmatan dan langgeng. Senang terus, bahagia terus dan nikmat terus. Kekal abadi selama-lamanya. Makanya jangan sampai gara-gara hanya melanggar larangan Allah, karena tertipu oleh kesenangan, kenikmatan dan kebahagiaan dunia yang sifatnya sementara tersebut, akhirnya kita tidak bisa menjadi penghuni surga. Malah sebaliknya justru menjadi calon penghuni neraka yang penuh siksaan yang sangat pedih dan kekal abadi selama-lamanya.”

Kata-kata itu sudah menjadi anker dibenak saya. Karenanya di dalam kehidupan saya yang hanya sekali ini, betul-betul harus menjaga diri agar tidak membuat pelanggaran atas larangan Allah, dan jangan sampai tidak mengerjakan perintah-Nya.

Jadi kehidupan sehari-hari saya, semata-mata hanya untuk beribadah saja. Bisa dikatakan sangat monoton. Hal demikian ini berlangsung hingga puluhan tahun. Tapi di dalam benak saya, saya selalu bertanya kepada Allah. Buat apa Allah menciptakan alam semesta yang penuh dengan keindahan itu, jika harus dibarengi rambu-rambu serta larangan-larangan? Jadi untuk apa semua itu diciptakan kalau memang pada akhirnya dilarang untuk dilihat atau dinikmati? Bukankah Allah telah berfirman dalam ayat Al Quran bahwa Ia menciptakan alam semesta berikut isinya ini tidak ada satupun yang sia-sia?

Hal ini sempat saya tanyakan juga kepada mubalig dan sahabat satu pengajian saya. Namun jawabannya cuma sederhana saja. Mereka mengatakan agama itu memang tidak bisa selalu selaras dengan akal dan pikiran manusia. Sebaiknya tidak perlu dipikirkan atau dipertanyakan. Apalagi terkait masalah ini. Bukankah sudah menjadi ketentuan Allah, perintah atau larangan-Nya, sebaiknya diamalkan saja, toh sudah jelas pahalanya.

Walaupun jawabannya belum memuaskan saya, tapi sayapun tidak berusaha melanjutkan pertanyaan saya. Jawaban yang diberikan itu, manurut saya, adalah jawaban pamungkas yang sudah final. Tinggalah saya sendiri yang masih diselimuti rasa penasaran mendalam, karena belum puas atas jawaban tadi. Akibatnya masalah ini meninggalkan konflik cognitif di benak saya.

Seiring waktu berjalan, akhirnya saya bisa bertemu guru mursyid. Beliau bisa mengajarkan, ilmu untuk mengkaji ke dalam diri sendiri, untuk menemukan diri sejati saya. Sehingga kesadaran diri saya terus meningkat, dan akhirnya saya memiliki pemahaman luas tentang rahasia kehidupan di semesta ini.

Benarkah, tempat kehidupan manusia yang abadi selama-lamanya itu nanti setelah meninggal dunia akan pindah ke alam akhirat? Bagi manusia-manusia yang hasil timbangan dosanya sedikit akan langsung masuk surga, hidup dalam keadaan yang selalu penuh kenikmatan, kesenangan, kebahagiaan dan kekal selama-lamanya. Sebaliknya manusia-manusia yang penuh dosa akan dimasukan ke neraka yang penuh dengan siksa, yang sangat pedih dan kekal selama-lamanya.

Setelah kesadaran saya makin tinggi, mungkin saya adalah salah satu di antara beberapa orang yang tidak meyakini adanya cerita tersebut. Adapun alasannya sudah pernah saya tuliskan di dalam artikel saya yang berjudul: “Mempertanyakan Neraka”, jadi tidak perlu saya uraikan lagi di sini.

Ada beberapa orang, termasuk sahabat saya dalam satu pengajian, setelah membaca artikel yang judulnya “Mempertanyakan Neraka” itu, mereka memberikan komentarnya. Kalau saja benar seperti tulisan artikel saya yang menyatakan, surga-neraka itu ada di kehidupan saat ini dan lebih tegasnya lagi berada di dalam diri kita sendiri, maka dia berpendapat kalau begitu adanya, lebih baik kita jalani hidup ini hanya untuk bersenang-senang saja.

Melihat komentar dia melalui WA, saya hanya bisa tersenyum saja. Dalam hati saya berkata: “Lho bukankah dalam sepanjang kehidupan ini memang maunya saya dan juga mayoritas penduduk bumi ini juga mempunyai keinginan yang sama? Cuma pertanyaannya, apakah untuk hidup bersenang-senang itu mudah? Tanpa ada rintangan, cobaan, musibah dan sebagainya? Bukankah untuk bisa hidup bersenang-senang itu banyak juga persyaratannya?

Berikut ini, mari kita coba inventarisir persyaratan-persyaratan supaya bisa hidup bersenang-senang terus.

1. Badan harus sehat, karena hanya dengan badan sehat kita baru bisa merasa senang dan bahagia.

2. Harus punya finansial yang cukup. Kalau tidak pikiran pasti terganggu. Boro-boro mau senang-senang, yang ada malah stress.

3. Untuk punya finansial yang cukup, syaratnya status ekonominya juga harus mapan. Punya sumber finansial yang jelas dan stabil. Kalau dipakai untuk senang-senang terus tidak akan mengganggu cash flow.

4. Punya relasi/teman yang banyak. Karena untuk bersenang-senang itu tidak mungkin sendirian, paling sedikit berdua.

5. Punya waktu yang bebas. Tidak terganggu oleh urusan-urusan yang tidak penting. Setiap saat ingin kemana, ingin ngapain selalu tersedia waktunya.

Untuk sementara kita cukupkan dulu dengan 5 persyaratan seperti yang ditulis di atas. Sekarang pertanyaannya apakah di dunia ini ada manusia yang bisa memenuhi 5 persyaratan tadi dengan sempurna? Maksudnya sempurna di sini adalah untuk selama manusia itu hidup di dunia ini.     Jawabannya, saya bisa pastikan tidak ada satu manusia pun di bumi ini, yang mempunyai 5 persyaratan tadi dengan sempurna.

Kenapa saya berani memastikan jawabannya tidak ada? Bukankah Allah meciptakan alam semesta berikut isinya ini sungguh sangat sempurna dan tidak ada yang sia-sia? Dan justru di dalam kesempurnaannya itu, Allah menciptakan semuanya terdiri dari hukum “dualitas”.  Sebut saja seperti, positif-negatif, hidup-mati, surga-neraka, senang-susah, sehat-sakit, kaya-miskin, sukses-gagal, benar-salah, menang-kalah, terang-gelap, putih-hitam, nyata-gaib dan seterusnya.

Jadi kalau ada yang mengatakan di surga itu enak, senang terus tidak pernah susah, bahagia terus, tidak pernah sedih, sehat terus tidak pernah sakit dan seterusnya. Justru menimbulkan pertanyaan dari saya: “Apa sebabnya Allah membuat hukum “dualitas” itu sebagai sebuah kesempurnaan bagi kehidupan alam semesta dan seisinya?”

Adapun jawabannya sangat sederhana. Mari kita renungkan baik-baik. Bagaimana mungkin ada istilah baik kalau tidak ada yang jahat? Bagaimana mungkin ada istilah enak kalau tidak ada yang tidak enak? Bagaimana mungkin ada istilah yang nyata kalau tidak ada yang ghaib dan seterusnya. Disinilah letaknya rahasia Allah tentang kehidupan di semesta ini.

Jadi kalau tadi dikatakan di surga itu senang terus tidak pernah susah. Coba direnungkan baik-baik. Bukankah kita bisa merasakan sangat senang itu tatkala lepas dari kesusahan? Seperti juga kita bisa sangat menikmati makanan sampai kenyang itu, justru ketika kita sedang lapar, terus ketemu makanan baru bisa merasakan nikmatnya makanan tersebut sehingga yang tadinya lapar jadi kenyang?

Dengan dua contoh ilustrasi tersebut, ternyata Allah ingin agar semua manusia-manusia yang hidup di bumi ini, bisa belajar dari realita kehidupan yang sedang mereka jalani. Semua manusia dituntut untuk menggunakan kecerdasan yang dimilikinya sejak bayi. Yang sejak di dalam kandungan seorang ibu sudah dititipkan oleh Allah. (bersambung)

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
HendroBhikkhu UtamoHaji Imran Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Hendro
Guest
Hendro

Melalui tulisan ini sang Mualaf Zaman Now melakukan gebarakan baru lagi yg always Out of the Box & selalu berani melawan arus. Kumpulan tulisan-tulisan Bpk ini mungkin pada suatu hari bisa dijadikan Kitab Bimbingan Spiritual seperti juga Kitab Hadis

Bhikkhu Utamo
Guest
Bhikkhu Utamo

Apa yang pak Tonny tulis itu selaras dengan ajaran Buddha; dimana ada 4 jenis kebahagiaan yang di capai dalam kehidupan duniawi ini: 1. kebahagiaan karena memiliki; (2) kebahagiaan karena menikmati; (3) kebahagiaan karena bebas dari hutang; (4) kebahagiaan karena tiada cela;

Haji Imran
Guest
Haji Imran

Bangsa ini sedang curat marut dgn adanya perselisihan antar agama. Namun tulisan2 Bpk ini bisa menimbulkan rasa sejuk dan Damai antar sesama umat. Sehingga timbul pertanyaan apakah mungkin pak Tonny ini sang Imam Al-Mahdi Sang Pembawa Damai yang Ditunggu Sosoknya? – “Aku berikan kabar gembira kepada kalian dengan datangnya Al-Mahdi, dia diutus kepada umatku ketika perselisihan dan kegoncangan merajalela di antara manusia.