Menapaki Jalan Beragam Agama (2): Menuju Kesadaran Semesta dan Semesta Kesadaran

2019-03-11T08:53:12+07:00Maret 12th, 2019|Rohani|5 Comments

Dalam tulisan “Menapaki Jalan Beragam Agama (1)” telah saya ungkapkan bahwa untuk menjadi beriman atau bergama itu orang harus kenal dulu atau mengenal dengan Tuhannya. Hal ini sesuai dengan ucapan Nabi Muhamnad SAW yang diriwayatkan dalam sebuah Hadits, sebagai berikut: AWALUDDIN  MARIFATTULLAH=AWALNYA BERAGAMA ITU HARUS KENAL ALLAH DULUAN.

Dan ironisnya, yang dipraktekan sekarang adalah beragama atau menjalankan syariat agama dulu. Kenal dengan Allahnya nanti di akhirat. Setelah kita meninggal dunia. Akibatnya banyak praktek-praktek ritual agama yang belum benar. Begitu juga tatkala menafsirkan dan mengamalkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits, banyak yang belum sesuai dengan hakekat maknanya. Karena sesungguhnya semua Nabi dan Rasul sebelum beragama, mereka-mereka itu berjumpa dengan Tuhan/Allah dulu, setelah itu, baru mengamalkan.

Penjelasan-penjelasan di atas tadi adalah mengenai Agama atau Spiritualitas, yang sifatnya Gaib/Tidak Nyata. Namun kehidupan yang sedang kita jalankan sekarang ini adalah sebuah kenyataan. Menurut pemahaman saya, justru kita harus mengacu kepada yang nyata terlebih dahulu. Alasannya, yang nyata inilah yang mudah dipahami, dianalisa dan di buktikan kebenarannya.

Mengacu kehidupan umat beragama saat ini, menurut saya sudah ada pada titik kesadaran yang sangat rendah. Pemeluk beragam agama yang ada di semesta ini merasa agama merekalah yang paling benar. Sebut saja agama Islam, Nasrani, yahudi, Hindu, Budha dan seterusnya. Masing-masing mereka mengklaim bahwa agama merekalah yang paling benar. Karenanya timbul pertanyaan dalam diri saya, adakah jalan atau cara untuk bisa menyatukan semua agama ke dalam satu kesepahaman?

Jawabannya mungkin sulit untuk sampai bisa terwujud. Pasalnya, masing pemahaman tersebut sudah mengakar selama berabad-abad. Lalu saya berpikir, sesulit apapun harus dicoba agar kita tahu sampai dimana tingkat kesulitannya dan apa penyebab utamanya?

Untuk mengurai semua pemahaman yang sudah sedemikian ribetnya, yang pertama harus dicari sumber permasalahannya. Menurut pemahaman saya, adanya hari ini tentu tidak terlepas dengan hari-hari sebelumnya. Adanya saya di semesta saat ini, tentu juga tidak terlepas dengan adanya ayah, ibu saya, kakek, nenek saya, eyang, uyut, leluhur-leluhur saya dan seterusnya.

Jika dirunut terus akan sampai ke ujungnya yaitu DIA (Allah). Begitu juga kalau semua yang ada di semesta ini. Jika kita runut ke belakang terus ujungnya akan sampai kepada DIA (Allah) juga. Maka sering saya tulis di semesta ini yang mana yang bukan DIA (Allah)? Semuanya adalah DIA (Allah). Hal ini sesuai dengan ayat Al-Quran dalam surat Al-Hadid ayat 3, Allah berfirman: AKU YANG AWAL AKU YANG AKHIR, AKU YANG NYATA AKU YANG TIDAK NYATA DAN AKU MAHA MENGETAHUI.

Setelah kita mengetahui bahwa di semesta ini semuanya adalah DIA, lalu pertanyaannya adalah, untuk apa DIA menciptakan Alam Semesta berikut isinya ini?

Puluhan tahun saya mencari jawabannya. Akhirnya menemukan satu ayat yang diriwayatkan dalam Hadits Qudsy yang berbunyi sebagai berikut: AKU (ALLAH) ADALAH PERBENDAHARAAN YANG TERSEMBUNYI, AKU INGIN DIKENAL, MAKA AKU CIPTAKAN CIPTAAN-CIPTAANKU, MELALUINYA AKU DIKENAL.

Pertama kali saya mendengar ayat ini dibacakan oleh guru saya, dalam diri saya seperti ada yang teriak, “Ini awalnya semua kejadian yang ada di alam semesta ini!” Sungguh membuat saya sangat terkejut. Setelah itu, lama saya merenungi hakekat makna dari ayat Hadits Qudsy tadi.

Setelah hampir 39 tahun saya mencari jawaban, untuk apa Tuhan/Allah meciptakan alam semesta ini? Baru kali ini saya merasakan bahwa ayat Hadits Qudsy tadi adalah sebagai jawaban yang selama ini saya cari. Menurut saya memang ayat inilah yang memang paling relevan.

Kita bisa buktikan kebenarannya dengan realita yang terjadi dikehidupan semesta selama ini. Bermula dengan peradaban manusia di zaman purba sampai pada peradaban

saat ini yang sedang saya jalani. Dari zaman ke zaman semua karya-karya bangunan, maupun kebudayaan, dari peradaban beralih keperadaban selanjutnya.

Tidak ada satupun yang abadi. Semua bersifat temporer, yaitu diciptakan, dipelihara, dihancurkan dan didaur ulang, secara terus menerus dan silih berganti. Itu sudah bisa dijadikan bukti bahwa Tuhan/Allah hanya ingin dikenal dan disesuaikan dengan peradaban pada zamannya. Semua karya-karya yang dibangun melalui perpanjangan tangan makhluk atau manusia pada zaman perdabannya akan dipelihara sampai waktu yang sudah ditentukan.

Kemudian dihancurkan dan didaur ulang. Diganti dengan karya-karya baru yang disesuaikan zaman dan peradabannya saat itu.  Hal itu dilakukan secara terus menerus entah sampai kapan? Hanya Tuhan/Allah sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas saja yang tahu.

Setelah mengetahui alasan untuk apa Tuhan/Allah menciptakan Alam Semesta ini? Selanjutnya kewajiban kita  adalah mengetahui siapa diri sejati kita sesungguhnya? Lalu dilanjutkan lagi dengan pertanyaan, “Untuk apa kita (manusia) dihadirkan disemesta ini? Sedangkan sebagai pertanyaan pamungkas adalah, “Dari mana asal kita dan kemana kita akan kembali nanti?”

Sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban ini sudah sering saya tulis di artikel-artikel saya yang lain dan buku perdana saya yang berjudul AKU BERSAKSI ALLAH MAHA NTATA. Jadi di sini saya tidak perlu mengulang lagi.

Setelah mengetahui tujuan Allah menciptakan alam semesta ini hanya untuk dikenal, dan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya hadir di semesta ini semata-mata hanya untuk mengabdi dan berkarya untuk kepentingan-Nya, sudah seharusnya kita memelihara tingkat kesadaran kita ini. Jangan sampai terkontaminasi oleh ego dan keinginan pribadi kita, agar kelak bisa kembali dengan tanpa hambatan, keharibaan-Nya.

Sungguh saya sangat mendambakan seluruh manusia yang ada di semesta ini mempunyai tingkat kesadaran yang sama. Sehingga bisa tercipta suasana damai, sejahtera dan bahagia.

Berbekal ilmu yang sangat minim, saya memberanikan diri untuk mulai melangkah. Ditambah bahwa usia saya yang sudah lanjut, tentu saja saya sadar akan banyak tantangan yang menghadang. Tapi spirit saya mengatakan “Never Give Up”. Pasalnya saya yakin bahwa Allah tidak kenal dengan kata “Tidak”. Maka saya bertekad akan mencurahkan segenap pikiran dan kemampuan saya yang sejak lahir sudah dititipkan Tuhan/Allah sebagai Sang Kecerdasan Semesta Tanpa Batas, demi terwujudnya cita-cita ini. ***

5
Leave a Reply

avatar
5 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
5 Comment authors
Ongko SuwarsoBilly TanIr. SitumorangDrs Djoko MuladiSupadiyanto Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Supadiyanto
Guest
Supadiyanto

Pak Tonny patut disejajarkan dgn Friederich Nietzsche maupun Mao Tze Dong yg menilai bahwa Agama itu Racun! Semua agama didunia ini menganut fasafah yg sama ialah: “Kasihilah sesamamu seperti dirimu!” yg beda hanya definisi “Sesamamu”, sebab antara teori dan praktek kenyataannya beda seperti bumi dan langit. Di dlm praktek kehidupan kita, orang yg tidak menganut agama dan aliran yg sama denganku bukanlah “sesamaku”. Bagaimana aku bisa sama dengan dia dimana “Tuhan-Mu adalah Hantu-Ku”. Menurut agama-mu illahku adalah berhala, tetapi diagama-ku ia adalah illah kudus suci
yg kusembah.

Drs Djoko Muladi
Guest
Drs Djoko Muladi

Pak Tonny itu memang seorang penulis jenius yg memilik penilaian yg sangat tepat sekali bahwa banyaknya agama itu terjadi karena mereka belum mengenal Allah. Keberadaan begitu banyak agama bukanlah bantahan terhadap keberadaan Allah. Ataupun dijadikan dalih bahwa kebenaran mengenai Allah itu kurang jelas. Sebaliknya, adanya begitu banyak agama menjadi bukti pernyataan penolakan umat manusia terhadap Allah yang esa dan sejati yg belum mereka kenal!

Ir. Situmorang
Guest
Ir. Situmorang

Harus diakui bahwa tulisan pak Tonny sering terkesan nyeleneh bahkan melecehkan Tuhan. Namun apabila dibaca dgn nalar secara sadar; banyak sekali kebenarannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa 90% dari para pemeluk agama di duia ini hanya memiliki satu tujuan saja ialah menadapatkan One Way Ticket ke Sorga. Jadi bukannya untuk hidup di dunia nyata ini seperti yg dipaparkan oleh Bpk. Acung jempol untuk sang Mualaf Zaman Now

Billy Tan
Guest
Billy Tan

Dari apa yg pak Tonny tulis tsb merupakan salah satu bukti nyata apabila masyarkat menilai bahwa pak Tonny sebagai seorang tokoh pengusaha papan atas yg Legendaris. Cara berpikir bpk maupun itung-itungan kalkulasinya sangat tajam sekali yg selalu berpikir secara real, bukan hanya sekedar dari harapan kosong saja. Begitu juga dlm masalah Agama buat apa kita mengharapkan Sorga/Neraka di masa yg akan datang apalagi ini baru sekedar “maybe/katanya” saja. Lebih baik menjalankan kehidupan dan mengharapkan surga yang nyata pada saat kehidupan sekarang ini

Ongko Suwarso
Guest
Ongko Suwarso

Harus diakui bahwa utk memuat tulisan ini butuh keberanian sang Mualaf Zaman Now, mungkin resikonya pak Tonny akan dilabel jadi Kafir bahkan PKI dll. Tapi semoga tidak seiring kesadaran dan kedewasaan org Indonesia punya toleransi dan menghormati perbedaan pendapat.