Menapaki Jalan Beragam Agama (1): Al-Quran Sama Sekali Tidak Eksklusif

2019-04-02T08:04:25+07:00Maret 11th, 2019|Artikel Pilihan, Rohani|5 Comments

Setelah belajar lebih dalam lagi tentang Islam secara spiritualitas, akhirnya saya bisa memahami bahwa Islam adalah sungguh sebagai jalan untuk membawa Rahmat dan Kesejahteraan bagi seluruh Alam Semesta (Islam Rahmatan Lil Alamin).

Al-Quran adalah sebagai petunjuk jalan, untuk  menjadi Islam (Pasrah/Damai/Sejahtera).

Sesungguhnya isi dalam kitab suci Al-Quran itu diperuntukkan sebagai petunjuk jalan bagi seluruh manusia yang ada di muka bumi ini. Sama sekali tidak ada eksklusivitasnya atau hanya diperuntukkan satu golongan/komunitas/bangsa saja. Namun, karena para ahli tafsir yang menafsirkan ayatnya secara berbeda, sehingga terjadi seperti saat ini.

Banyak sekali golongan dan kelompok yang merasa pemahaman merekalah yang paling benar. Paling sesuai dengan Al-Quran dan Hadits, dan pada umumnya dengan tujuan yang sama, yaitu sukses masuk surga, selamat dari neraka.

Seperti yang sering saya katakan dalam tulisan-tulisan saya di beberapa artikel yang lain, bahwa pada umumnya ayat-ayat yang ada di dalam kitab suci dari semua agama, kalimat-kalimatnya itu berupa simbolik atau kiasan.

Menurut saya bahasa yang dipakai di semua kitab suci itu bahasa Tuhan/Allah. Jadi tidak bisa langsung diterjemahkan secara serta merta menurut Kamus Besar yang ada saat ini. Karenanya, bagi yang membuat tafsir kalimat-kalimat yang ada di seluruh kitab suci sekarang ini, banyak sekali hakekat maknanya yang melenceng jauh. Akibatnya jadi tidak koheren. Malah jadi kontradiktif dan tidak nyambung.

Kita ambil beberapa contoh yang sangat ekstrim dan sensitif sehigga membuat para pemeluknya seperti terkena Pencucian Otak (Brain Wash). Mereka kehilangan nalar sehatnya, merasa paling benar, dan menganggap orang-orang yang bukan golongannya salah semua.

Di dalam Al-Quran ada sebuah ayat yang bebunyi seperti ini: INNA DINNA INDALLAHI ISLAM. Ayat ini diterjemahkan oleh mayoritas ulama-ulama ahli tafsir Quran, termasuk oleh Departemen Agama Republik Indonesia, dengan terjemahan seperti ini: INNA=SESUNGGUHNYA, DINNA=AGAMA, INDALLAHI=DISISI ALLAH, ISLAM=AGAMA ISLAM. Jadi menurut tafsir mereka-mereka ini berarti, SESUNGGUHNYA AGAMA DI SISI  (YANG DITERIMA) ALLAH ITU, ADALAH AGAMA ISLAM.

Setelah mendapat pemahaman dari Guru Mursyid, saya akhirnya menyadari. Hakekat makna dari kalimat tadi, bukanlah seperti yang diterjemahkan oleh mayoritas para ulama ahli tafsir Al-Quran, termasuk Departemen Agama Republik Indonesia tersebut.

Adapun hakekat makna kalimat tersebut adalah seperti ini: INNA=SESUNGGUHNYA, DINNA=AGAMA, INDALLAHI=BAGI ALLAH, ISLAM=PASRAH/DAMAI/SEJAHTERA. Jadi kalau dirangkum menjadi kalimat seutuhnya maknanya adalah seperti ini: SESUNGGUHNYA AGAMA BAGI ALLAH ADALAH PASRAH/DAMAI/SEJAHTERA.

Perbedaan yang paling signifikan adalah yang satu kata Islamnya tidak diterjemahkan. Melainkan langsung dimaknai bahwa ISLAM itu sebagai agama. Padahal hakekat makna ISLAM itu adalah PASRAH/DAMAI/SEJAHTERA.

Coba bayangkan perbedaan terjemahan dalam satu kata saja, sudah jauh sekali makna dari keutuhan kalimat tersebut. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau para pemeluk agama Islam yang fanatik, tidak mau mempergunakan kesadaran pikirannya. Akibatnya mereka tidak menyadari bahwa, keterangan dari para Ulama ahli Hadits dan Departemen Agama RI, itu sudah menjadi anker (jangkar) dibenaknya. Masuk ke bawah alam sadarnya masing-masing.

Lalu timbulah pemahaman agama Islam adalah satu-satunya agama yang diterima Allah SWT. Di luar agama Islam semuanya ditolak. Orang-orang yang memeluk agama Islam mereka namakan sebagai orang IMAN dan jaminannya pasti masuk SURGA. Sedangkan orang-orang yang memeluk di luar agama ISLAM semuanya KAFIR. Dengan konsekuensinya semua masuk ke NERAKA.

Padahal IMAN yang dimaksud dalam Al-Quran maknanya bukan seperti yang mereka pahami sekarang yaitu, YAKIN/PERCAYA. Namun hakekat makna kata IMAN, menurut Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan dalam sebuah Hadits bunyinya adalah sebagai berikut: TASDIQUN BIL QOLBI WA IQROLUN  BILLISAN WA AMALLUN BILL ARQAN= PEMBENARAN OLEH QOLBU DIUCAPKAN DENGAN LISAN DAN DIAMALKAN DENGAN PERBUATAN. Jadi IMAN itu perlu proses, bukan asal YAKIN/PERCAYA.

Adapun prosesnya adalah seperti berikut ini: PEMBENARAN OLEH QOLBU, artinya harus ada penyaksian mengalami dan memahami dulu oleh QOLBUNYA, baru bisa ada PEMBENARAN.

Setelah ada PEMBENARAN OLEH QOLBU, proses selanjutnya baru ada yang bisa DIUCAPKAN DENGAN LISAN. Setelah itu selanjutnya baru bisa DIAMALKAN DENGAN PERBUATAN. Itulah rangkaian proses hakekat makna dari kata IMAN.

Lalu kalau begitu pertanyaannya, apa hakekat maknanya kata KAFIR? Adapun hakekat mana KAFIR menurut pemahaman saya adalah orang-orang yang MATA QOLBUNYA masih tertutup.

Belum bisa menyaksikan, mengalami dan memahami. Akibatnya tidak bisa mengucapkan, apalagi mengamalkan. Maknanya sangat berbeda dengan yang mayoritas para Ulama ahli tafsir Quran dan terjemahan Departemen Agama RI. Pada umumnya mereka yang memaknai kata KAFIR, adalah orang-orang yang tidak YAKIN/PERCAYA sama agama ISLAM, atau pemeluk agama selain Islam.

Setelah saya memahami penjelasan-penjelasan di atas tadi, maka sesungguhnya bagi pemahaman saya yang disebut orang IMAN itu adalah orang-orang yang sudah TERBUKA. Sudah tahu atau kenal dengan Tuhannya/Allah. Tidak peduli orang itu beragama apa, yang penting dia sudah tahu dan mengenal Tuhannya/Allah. Dan sebaliknya yang disebut orang KAFIR itu adalah orang-orang yang masih TERTUTUP. Belum tahu atau belum mengenal Tuhannya/Allah. Baik itu orang beragama Islam, atau beragama selain Islam.

Maka saat ini hampir mayoritas orang Islam dalam pengamalannya itu, sesungguhnya mereka itu tidak tahu apa-apa. Mereka hanya ikut kata ulama yang mengajarkannya saja. Pada umumnya, baik itu masyarakat biasa maupun kaum intelektual, percaya/yakin begitu saja, tanpa menggunakan lagi kesadaran akal dan pikiran sehatnya. Mengikuti dengan taklit buta.

Yang ironisnya lagi, para ulama-ulama pengajarnya itu sendiri, umumnya juga tidak tahu. Mereka sendiri tidak tahu bahwa dirinya itu tidak tah. Lebih memprihatinkan kalau diberitahu cenderung sok tahu dan merasa lebih tahu. Itulah fenomena yang terjadi di seantero bumi saat ini.

Pertanyaannya, dari mana saya mengambil kesimpulan itu? Jawabannya adalah, semua tulisan-tulisan artikel saya ini semua berbasis dari pengalaman saya sendiri. Bukan mendengar atau mengetahui melalui orang lain yang sifatnya baru KATANYA. Lalu yang KATANYA itu diberitakan lagi ke orang berikutnya. Terus sambung menyambung seperti kejadiaan yang sering kita lihat atau dengar, atau sedang kita alami pada saat ini. (Bersambung)

5
Leave a Reply

avatar
4 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
4 Comment authors
Nano BuanaRomo LukasAgungDrs. Abdul Kadir Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Drs. Abdul Kadir
Guest
Drs. Abdul Kadir

Sy termasuk salah satu pembaca rutin dari setiap tulisan Pak Tonny. Walaupun tulisan-tulisan dari Bpk itu terkesan melawan arus, namun kenyataannya hal kebalikannya yg bisa diraih oleh kami; ialah “Rasa Damai” yg menyejukkan Qolbu. Maka tidaklah salah apabila saya menilai bahwa pak Tonny merupakan Tokoh Utama Sang Pembawa Damai bagi bangsa Indonsia.

Agung
Guest
Agung

Pak Tonny itu benar-benar sangat membumi dan sangat low profile dan ini bukan hanya sekedar untuk dirinya sendiri saja, bahkan untuk Agama yang dianutnya sekalipun. Seperti juga yg diungkapkan oleh Bpk. Orang-orang yang memeluk agama Islam mereka namakan sebagai orang IMAN dan jaminannya pasti masuk SURGA. Sedangkan orang-orang yang memeluk di luar agama ISLAM semuanya KAFIR. Dengan konsekuensinya semua masuk ke NERAKA. Maka tepatlah julukan pal Tonny itu sebagai Mualaf Zaman Now

Romo Lukas
Guest
Romo Lukas

Saya angkat topi kepada pak Tonny atas kiriman tulisan-tulisan Bpk yang kebanyakan bernuansakan Damai secara lintas agama. Oleh sebab itu satu kehotmatan bagi saya apabila pada suatu saat nanti Bpk berkujung ke Italia, saya bisa mempertemukan pak Tonny dengan Bapa Suci Paus Fransiskus dalam acara audiensi khusus. Kebenaran saya sendiri pada saat ini sedang mengemban tugas di Vatikan. Mohon diberitahu jauh-jauh hari sebelumnya mengenai jadwal perjalanan pak Tonny ke Italia.

Nano Buana
Guest
Nano Buana

Tulisan bagus…..

Namun ada salah pemahaman mengenai terjemahan kata DIN di masyarakat selama ini…demikian pula kata AGAMA….

DIN yg berasal dari bahasa Arab diterjemahkan dlm bahasa Indonesia sebagai AGAMA….sementara itu kata AGAMA berasal dari bahasa sanksekerta….

DIN yg berarti penerang, petunjuk, lampu, dll
AGAMA berarti suatu keadaan status, diam (tdk bergerak), tetap

Jadi dari asal kata saja sudah gak nyambung….

AGAMA sering dipakai dlm ajaran Hindu utk menunjukkan pada orang yg telah mencapai laku tapa brata dan tidak terpengaruh lagi oleh nafsu² duniawi….itulah kenapa kata AGAMA ini sering diterjemahkan sebagai TATA CARA UTK MENCAPAI NIRWANA…..padahal maksud kata AGAMA adalah HASILNYA…..bukan CARA ATAU ATURANNYA…..