Menafsir Ulang Doktrin, Belajar dari Diri Sejati (1): Bahasa Tuhan Penuh Simbol dan Kiasan

2019-05-18T21:27:11+07:00Mei 11th, 2019|Rohani|5 Comments

Merujuk kepada penjelasan yang sudah saya paparkan pada tulisan-tulisan terdahulu, didukung oleh ayat-ayat Suci Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW sebagai referensi, maka untuk mencapai kesempurnaan hidup, satu-satunya cara adalah, saya sebagai tubuh/jasad harus betul-betul bisa merasakan meng-Esa dengan Ruh atau merasakan Manunggaling Kawula Gusti. Pasalnya, hanya dengan demikian saya baru bisa beresonansi dengan Tuhan (Allah) sehingga bisa lebih mudah mendapatkan bimbingan dari DIA.

Jelas sudah bahwa Tuhan (Allah) yang menguasai Alam Semesta dan seisinya itu mempunyai Kerajaan Maha Besar yang absolut, sekaligus juga menguasai bertriliun-triliun Kerajaan Kecil yang dititipkan di setiap makhluk dan benda yang ada di semesta ini. Termasuk yang ada di dalam tubuh/jasad saya, dan saat ini secara ilmiah sudah bisa dibuktikan kebenarannya,

Setelah paham bahwa dalam tubuh saya ada “Kerajaannya Tuhan (Allah)”, yang namanya “Kerajaan“ tentunya pasti lengkap dengan fasilitas dan seluruh infrastrukur penunjangnya serta pasukan-pasukannya.

Untuk itu berikut saya lampirkan link hasil dari pada penelitian secara ilmiahnya :

https://septiantriputra.blogspotn.com/2012/07/100-fakta-ilmiah-tubuh-manusia-yang.html

http://info-wahib.blogspot.com/2014/12/god-spot–saraf-yang-mendorong-manusia-menemukan-tuhannya.html

Hasil temuan dari ilmuwan-Ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini, lambat laun, sedikit demi sedikit, tapi pasti, sudah mulai bisa menyingkapkan rahasia/misteri Alam Semesta. Dimana ketika selama ini saya belajar agama, itu semua hanya berdasarkan “Doktrin”.

Sebuah doktrin dengan kata “IMAN”, “KAFIR”, dan “TAQWA” yang langsung diterjemahkan ke bahasa Indonesia secara harafiah saja.  “IMAN” diartikan sebagai “Percaya/Yakin”. “KAFIR” itu diartikan sebagai “Tidak Percaya/TidakYakin”, adapun “TAQWA” diartikan sebagai Percaya Adanya Allah, Membenarkannya dan Takut akan Allah.

Padahal definisi kata “IMAN” yang sesungguhnya menurut Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh beberapa Hadits adalah: TASHDIQUN BIL QOLBI WA IQRORUN  BI LISAN WAL ‘AMALUN BIL ARKAN, yang artinya  PEMBENARAN OLEH QOLBU DIUCAPKAN OLEH PERKATAAN DAN DI AMALKAN DENGAN PERBUATAN.

Jadi, arti kata “IMAN” menurut Nabi Muhammad SAW, harus diawali dengan proses pembenaran oleh Qolbu. Artinya harus lewat tahapan proses menemukan dahulu, baru kemudian bisa ada pengenalan. Selanjutnya barulah diucapkan oleh lisan dan kemudian dikerjakan oleh perbuatan.

Hal ini terasa berbeda sekali dengan pemahaman saya tentang kata “IMAN” dalam konteks agama. Menurut pemahaman saya, kata-kata “IMAN” dalam Al Quran itu arti dan hakekatnya adalah manusia-manusia yang sudah terbuka Mata Qolbunya. Dengan begitu, mereka mengenal Tuhan (Allah)nya.

Adapun kata-kata “KAFIR” artinya adalah manusia-manusia yang masih tertutup Mata Qolbunya atau bisa juga diartikan bahwa mereka belum mengenal Tuhan (Allah)nya. Jadi berbeda dengan yang saya pahami sebelumnya, kata-kata “IMAN” itu diartikan sebagai manusia-manusia yang memiliki satu keyakinan yang sama tentang agama. Adapun kata-kata “KAFIR” adalah manusia-manusia yang keyakinan beragamanya berbeda dengan dirinya.

Mengenai definisi kata “TAQWA”, disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat : 63 yang berbunyi sebagai berikut: “Dan ingatlah ketika Aku mengambil janji darimu lalu Aku angkat “Gunung”mu, pegang teguhlah apa yang Aku pertunjukkan padamu dan ingatlah selalu apa yang ada di “Gunung”mu agar kamu menjadi seorang yang berTAQWA”.

Jadi sangat berbeda dengan yang selama ini saya pahami. Ada lagi satu julukan untuk satu kaum yang paling populer di dalam Al Quran, yaitu “BANI ISROIL” yang selama ini saya pahami artinya sebagai anak cucunya Bangsa Israel (Yahudi),

Padahal ternyata negara Israel sendiri baru Merdeka 70 tahun yang lalu melalui resolusi PBB. Sedangkan Al Quran sudah berusia 1300 tahun yang lalu. Sehingga menurut saya sangat kontradiktif dan tidak koheren.

Karena itu arti hakekat dari kata BANI adalah KAUM (KELOMPOK atau KOMUNITAS) ISRO artinya JALAN, ELI artinya TUHAN (dalam bahasa Ibrani). Jika hal itu dirangkum menjadi kalimat, maka artinya adalah KAUM YANG BERJALAN MENUJU TUHAN.

Karenanya sangat wajar dan tidak mengherankan jika BANI ISROIL di dalam Al Quran adalah Kaum yang selalu diunggulkan, karena mereka adalah kaum/komunitas yang selalu berjalan menuju kepada Tuhannya.

Seperti sudah pernah saya jelaskan dalam tulisan saya yang terdahulu, bahwa Al Quran itu diturunkan melalui Wahyu. Jadi sudah bisa dipastikan bahwa bahasanya adalah bahasa Tuhan (Allah) yang penuh dengan kata-kata, kalimat-kalimat simbolik dan kiasan-kiasan. Karena itu tidak bisa diterjemahkan hanya memakai ilmu tafsir atau persepsi manusia saja, tanpa bimbingan diri sejati yang punya akses kepada Tuhan (Allah) Sang Pemberi Wahyu.

Tuhan (Allah) sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas, bagaimana mungkin, bisa dipahami oleh manusia yang Ilmunya sangat-sangat terbatas? Adapun satu-satunya jalan adalah harus belajar melalui diri sejati kita. Dimana, diri sejati kita itu pada hakekatnya adalah Rosul/Utusan dari Tuhan (Allah) yang dititipkan sebagai penghubung antara Hamba dengan Tuhan (Allah)nya. (BERSAMBUNG)

5
Leave a Reply

avatar
5 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
5 Comment authors
Tuti RahayuDrs. RachmatHendro KurniawanBilly KarnadiIr Supadiyanto Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Ir Supadiyanto
Guest
Ir Supadiyanto

Kalau baca tulisan Pak Tonny seperti juga pepatah “Don’t Judge A Book By Its Cover”. Satu salah besar apabila menilai tulisan2 Bpk ini hanya sekedar tulisan Spiritual saja, sebab kenyataannya lebih layak disebut seperti tulisan2 sains – ilmiah mirip artikel2 dari Majalah Ilmiah National Geographic. Satu tulisan spiritual yg dikaji secara ilmiah yang sangat mendalam. Mantab! Sambungannnya ditunggu dgn tidak sabaran

Billy Karnadi
Guest
Billy Karnadi

Ditengah hingar-bingarnya kerusuhan agama, tulisan pak Tonny ini memberikan rasa sejuk dan nyaman terlebih lagi pesan damai dan kasih yang disebar luaskan melalui tulisan2 Bpk. Mirip seperti John Lennon sang penyebar damai dan cinta dgn lagunya. Seperti yang tertuang dlm lagu “Imagine”, Lennon yg begitu memimpikan seluruh umat manusia bisa hidup secara damai dan berdampingan. Maka dari itu pak Tonny pun layak untuk dinobatkan sebagai John Lennon – Indonesia

Hendro Kurniawan
Guest
Hendro Kurniawan

Orang-orang Islam sering mengatakan mereka yang non-Muslim sebagai kafir, tidak terkecuali termasuk Kristen disebut kafir. Sulit untuk dipahami, bagaimana mungkin pengikut Isa Al-Masih, “seorang terkemuka di dunia dan di akhirat” (Qs 3:45), dapat disebut kafir?
Isa Al-Masih berkata, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Injil, Rasul Besar Yohanes 8:12). Orang-orang yang mengikuti Isa Al-Masih, adalah orang-orang yang telah menerima terang kemuliaan Allah. Sehingga mereka disebut sebagai anak-anak Allah yang telah menerima warisan Kerajaan Allah. Dan mereka bukanlah orang kafir seperti yang dituduhkan umat Muslim selama ini.

Drs. Rachmat
Guest
Drs. Rachmat

Terima kasih atas pencerahannya terutama mengenai kata ’iman’ sebagai istilah khusus. Maklum kata ini tidak sama dengan kata ’percaya’. Kalimat ”Saya percaya kepada Presiden” tidak bisa kita ganti dengan kalimat ”Saya beriman kepada Presiden” Kata ’iman’ memiliki makna khusus, tidak bisa diganti dengan istilah lain. Oleh sebab itu sy sependapat dgn Bpk bahwa kata “IMAN” dalam Al Quran itu arti dan hakekatnya adalah manusia-manusia yang sudah terbuka Mata Qolbunya. Dengan begitu, mereka mengenal Tuhan (Allah)nya.

Tuti Rahayu
Guest
Tuti Rahayu

Sebagai orang yang beragama saya penasaran dengan doktrin TAQWA yang entah berapa ribu kali sudah saya dengar -yang dikhutbahkan- bahwa ia menjadi senjata handal bagi siapapun untuk menemukan jalan keluar dari setiap kesulitan hidup. Namun kenyataannya kita yang beragama ini tidak juga pernah keluar dari keterpurukannya – kehinaannya – kerendahannya. Untuk ini sy mhn pencerahannya oleh pak Tonny