Membangunkan Kesadaran dari Kubur (2): Hari Kebangkitan Itu Adalah Sekarang

2019-06-15T22:43:04+07:00Juni 2nd, 2019|Rohani|2 Comments

Dalam tulisan “Beda Agama dan Spriritual (1)” telah saya paparkan pemikiran seorang teolog, filsuf dan ahli paleontologi Prancis, Dr. Teilhard de Chardin yang menyatakan agama adalah untuk mereka yang tidur, sedangkan Spiritual adalah untuk mereka yang sudah bangun.

Ternyata benar, setelah saya belajar Spiritual baru sadar tentang hakekat makna dari hadits dan ayat-ayat Allah. Seperti saya sudah jelaskan sebelumnya di artikel saya yang lain, bahwa ayat-ayat yang ada di dalam Al Quran dan Hadits itu banyak kata-kata simbolik dan kiasan-kiasan.

Jadi menurut pemahaman saya, sebelum saya belajar Spiritual, jiwa sejati saya itu masih belum bangun (kesadarannya). Masih terkubur oleh Tubuh/Jasad saya. Agar bisa belajar Spiritual, maka Jiwa yang terkubur oleh Tubuh/Jasad itu perlu dibangunkan/dibangkitkan (kesadarannya).

Dalam prosesi seperti membangunkan/membangkitan (Kesadaran) Jiwa itulah makna Hakekatnya “Qiyamat”. Sebab “Qiyam” di dalam bahasa Arab artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Bangkit” jadi artinya “Qiyamat” itu adalah “Kebangkitan”.

Hal itu sesuai dengan keterangan dari sebuah Hadits Rasullulah, “Bahwa hari Qiyamat sudah dekat” padahal jarak zaman Nabi Muhamad sampai saat ini sudah berjalan -/+ sudah 1300 tahun yang lalu. Jika diartikan secara harafiah tentunya hal ini tidak koheren/nyambung. Nabi mengatakan dekat, tapi nyatanya perjalanan waktunya sudah sekian jauh.

Barulah saya sadar yang dimaksud Rosulullah “Qiyamat” sudah dekat itu kapan waktunya? Jawabannya adalah “Sekarang”, “Saat Ini Juga”, “Lebih Cepat Lebih Baik”. Begitu juga pertanyaan yang diajukan Malaikat Munkar-Nakir, di alam kubur. “Man Robbuka=Siapa Tuhanmu” itu bukan nanti sudah meninggal, justru Saat Ini/Sekarang sewaktu Jiwa kita masih terkubur oleh Tubuh/Jasad diri sendiri. Bukannya setelah mati nanti. Karena pada kenyataannya manusia mati bagaimana mungkin bisa mendengar atau berbicara?

Dengan adanya artikel yang menjelaskan perbedaan antara Agama dengan Spiritual, dan beberapa dalil di dalam Al Quran dan Hadits, maka sudah bisa disimpulkan bahwa dalam diri setiap makhluk dan benda yang ada di semesta ini, ada Kerajaan Tuhan (Allah) yang disemayamkan. Berarti Surga-Neraka, Malaikat-Syeitan, Nabi/Rosul-Iblis semua itu berpotensi menjelma dalam diri masing-masing manusia. Tergantung manusia itu sendiri mau berperan sebagai apa?

Allah sebagai fasilitator hanya memfasilitasi sesuai kehendak hambaNya. Contoh sederhananya, tatkala manusia mengumbar nafsu binatangnya. Sering marah-marah, hidup penuh dengan penolakan-penolakan. Egonya dipasang tinggi-tinggi, seolah-olah di semesta ini merasa paling benar sendiri dan seterusnya.

Hal itu merupakan petanda bahwa dia sedang memerankan peran Iblis/Syeitan. Begitu juga ketika manusia itu melakukan perbuatan baik dan bermanfaat terhadap lingkungan sosialnya. Membuat manusia lainnya dan semesta sekitarnya merasa nyaman, itu tandanya dia sedang memerankan perannya Malaikat.

Begitulah kehidupan di semesta ini. Berdaur ulang mengikuti hukum sebab akibat, hingga sampai ke puncak kesadaran paling tinggi Sidratil Muntaha. Saya memakai pedoman Al Quran dan Hadits sebagai pedoman sekaligus petunjuk untuk kehidupan saya di semesta ini. Karena memang itulah rencana Tuhan (Allah) untuk saya.

Di semesta ini tidak ada yang kebetulan. Semua sudah dalam perencanaan dan skenario dari Sang Arsitek Yang Maha Besar dan Agung. Bahkan, kalaupun ada yang berbeda jalannya dengan pengalaman saya, itu pun sudah termasuk rencanaNya Tuhan (Allah). Urusan spiritual adalah urusan personal, individual.

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Dra. Hermawati, MARomo David Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Romo David
Guest
Romo David

Salut untuk Sdr. Tonny atas tulisannya yang selalu mencerahkan. Saya sependapat dgn Saudara, bahwa Agama merupakan ritual yang membawa seseorang ke dalam hubungan yang benar dengan Allah, sementara spiritualitas itu terkait usaha seseorang memfokuskan dirinya pada hal-hal rohani dan dunia rohani, bukannya hal-hal fisik/duniawi. Sayangnya, banyak yang mengklaim dirinya sebagai pengikut kekristenan hanya mempraktikkan kekristenan sebagai suatu agama. Kekristenan sejati tidaklah demikian.

Dra. Hermawati, MA
Guest
Dra. Hermawati, MA

Namo Buddhaya Bhante
Satu tulisan yang menarik mengenai Kiamat. Rupanya pak Tonny itu memiliki multi talenta sehingga menulis entah mengenai apapun juga pasti selalu nyambung. Dalam Buddhisme ada kiamat, seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha, sabbe sankhara anicca (segala yang terbentuk tidaklah kekal), bumi dan galaksi ini juga merupakan bentukan, karenanya tidaklah kekal. Sang Buddha meramalkan bahwa ajaran-ajarannya akan dilupakan setelah 5.000 tahun, diikuti oleh kekacauan.
Sabbe satta bhawantu sukhitatta.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.