Memahami Agama Secara Logika (1): Nur Muhammad Adalah Rasul di Muka Bumi

2019-04-16T21:04:37+07:00April 5th, 2019|Rohani|3 Comments

Apakah agama itu memang tidak bisa dipahami secara logika? Pasalnya menurut pemahaman mayoritas manusia, pemeluk berbagai macam agama yang ada di muka bumi ini, mempunyai pemahaman yang sama, yaitu agama hanya butuh keimanan atau keyakinan yang absolut.  Titik!

Sejak menjadi Mualaf, pemahaman saya pun sama seperti mayoritas manusia beragama yang seperti di atas. Hal ini karena sejak awal, saya diajarkan tentang rukun Islam dan rukun Iman.

Rukun Islam ada Lima perkara yaitu:

  1. Mengucapkan dua kalimat Syahadat
  2. Mendirikan Shalat
  3. Puasa di bulan Ramadhan
  4. Mengeluarkan Zakat
  5. Menunaikan ibadah Haji

Rukun iman ada Enam perkara yaitu:

  1. Percaya kepada Allah SWT
  2. Percaya kepada Malaikat
  3. Percaya kepada Kitab-Kitab
  4. Percaya kepada Rasul-Rasul
  5. Percaya kepada Hari Kiamat
  6. Percaya kepada Qhodo dan Qodar

Namun setelah saya mulai belajar ilmu Mari’fat secara spiritual, maka seiring dengan proses yang berjalan, lambat laun pemahaman saya menjadi terbuka. Ternyata sesungguhnya spiritualitas itu bisa dipahami secara logika. Bahkan untuk memahaminya wajib menggunakan kecerdasan akal dan pikiran, dan dipahami secara logika. Tidak boleh taklid buta, (sesuai dengan ayat QS 2 : 170), agar bisa koheren, dan tidak menimbulkan kontradiktif.

Sesuai ayat yang mengatakan bahwa agama itu akal dan juga sesuai dengan firman Allah dalam Al-Quran: ALLAH MURKA KEPADA ORANG-ORANG YANG TIDAK MENGGUNAKAN AKALNYA. DAN TIDAK ADA SEORANG PUN AKAN BERIMAN KECUALI DENGAN IJIN ALLAH DAN ALLAH AKAN MENIMPAKAN KEMURKAAN KEPADA ORANG-ORANG YANG TIDAK MEMPERGUNAKAN AKALNYA. (QS 10 : 100).

Rosullulah SAW dalam sebuah haditsnya juga bersabda: BELUM TEGAK AGAMANYA BAGI SESEORANG SEBELUM IA MEMERDEKAKAN AKALNYA SECARA SEMPURNA.

Berbekal pemahaman ini, marilah kita bedah perkara Rukun Islam dan Rukun Iman satu persatu. Apakah isinya logis atau tidak?

Perkara Rukun Islam:

  1. Mengucapkan Dua kalimat Syahadat

ASHADU ALA ILAHA ILALLAH WA ASHADU ANA MUHAMMADAR RASULLULAH=AKU BERSAKSI TIDAK ADA TUHAN KECUALI ALLAH DAN AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH.

Pengertian “bersaksi” itu tentu harus diawali dengan menyaksikan dulu, kalau bersaksi tanpa menyaksikan itu artinya “bersaksinya” batal.

Lalu pertanyaannya, “Apakah Allah itu bisa disaksikan?” Jawabannya tentu bisa. Bukankah referensi ayat dari Al Quran dan Haditsnya banyak? Saya tidak perlu mencantumkan tulisan referensi ayatnya, karena sudah sering ditulis di beberapa artikel saya yang lainnya. Yang penting adalah saya sudah mengalaminya.

Mari kita lanjutkan lagi. Melalui kalimat AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH, bukankah generasi saya dan orang-orang yang baru lahir serta yang akan lahir itu tidak pernah tahu, kenal ataupun menyaksikan sosok Nabi Muhammad yang dimaksud?

Dan jika betul bahwa dua kalimat Syahadat itu ditujukan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah, tentunya hal ini sangat tidak logis. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad bersaksi untuk dirinya sendiri, bahwa beliau adalah utusan Allah.

Lalu timbul lagi pertanyaan lainnya, “Kalau begitu siapa yang diutus oleh Allah untuk menjadi Rasul ke muka bumi ini?” Jawabannya adalah Nur Muhammad. Adapun yang namanya Nur Muhammad itu bukan Muhammad putranya Abdullah yang lahir di Jazirah Arab tersebut. Secara syariat beliau memang seorang Nabi dan utusan Allah pada zamannya. Pengertian Nabi itu adalah = orang yang mendapatkan wahyu dari Allah SWT.

Sedangkan Utusan atau Rasul itu adalah yang diutus oleh Allah untuk menjadi penghubung antara makhluk ciptaan Allah dengan Sang Maha Penciptanya. Itu artinya yang diutus Allah untuk menjadi Utusan Allah itu pasti bagian dari Allah itu sendiri dan sifatnya langsung diutus dari tangan Allah tanpa harus melalui perantaraan makhluk ciptaan-Nya lagi.

Jadi Nur Muhamad itu artinya adalah Cahaya Terpuji. Nur Muhammad itu bukan Makhluk akan tetapi Cahaya. Kalau kita mengacu kepada ayat dalam Al-Quran, Allah itu adalah Cahaya Di Atas Cahaya. Dijelaskan dalam sebuah kitab Sirrul Asror karangan Syeick Abdul Qodir Jaelani, bahwa Nur Mahammad itu diciptakan dari bagian

Cahaya Allah itu sendiri, untuk menghidupkan semua materi yang ada di semesta ini. Karenanya, kalau ada manusia atau hewan juga tanaman yang mati/tidak hidup, itu semata-mata oleh karena Sang Pemberi Hidup yaitu Ruh/Nur Muhammad, berpisah dengan materi yang dihidupi-Nya.

Berikut ini saya lampirkan juga referensi ayat dan beberapa Hadits :

Aku berasal dari Cahaya Tuhan/Allah dan semua yang ada di alam semesta ini berasal dari cahaya-Ku.

Aku adalah bapak dari segala Ruh

Pada hakekatnya semua makhluk termasuk manusia yang ada di semesta ini, terdiri dari tiga elemen (Trinitas). Kalau di ajaran Islam, secara spiritualitas di dalam manusia itu terdiri dari tiga elemen (Trinitas) yaitu Nur Insan/Tubuh, Nur Muhammad/Ruh, dan Nurullah/Allah.

Maka hakekatnya arti bersyahadat itu adalah Nur Insan/Tubuh bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Nurullah/Allah dan bersaksi bahwa Nur Muhammad/Ruh itu adalah utusan Allah.

Jadi kalau ada sebagian muslim yang mengatakan bahwa Nabi Adam pun juga beragama Islam dan mengucapkan Dua kalimat Syahadat seperti kita, maka hal itu sangat masuk akal. Bukankah memang semua manusia yang ada di semesta ini ketika mengucapkan Dua kalimat Syahadat, semuanya mempunyai hakekat makna yang sama?

Mungkin kalau di agama kristen terkenal dengan Trinitas yaitu: Bapak, Putra dan Roh Kudus. Sedangkan di agama Hindu ialah: Brahma, Wisnu dan Siwa. (Bersambung)

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
Haji AbdulAntonius AruliPdt. Lukas S.Th Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Pdt. Lukas S.Th
Guest
Pdt. Lukas S.Th

Sy baru tahu bahwa dlm Agama Islam pun ada pemahaman Trinitas walaupun beda versi.
Berdasarkan Doktrin Kristiani tentang Tritunggal atau Trinitas (kata Latin yang secara harfiah berarti “tiga serangkai”, dari kata trinus, “rangkap tiga”) menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi yang sehakikat (konsubstansial) Bapa, Putra (Yesus Kristus), dan Roh Kudus.
Pak Tonny memiliki pengetahuan yang sangat luas dan banyak sekali mengenai pemahaman Lintas Agama oleh sebab itulah pula; pemahaman maupun daya pikirnya Pak Tonny sangat luas dan tidak terkotak ataupun hanya dibatasi oleh satu agama saja.

Antonius Aruli
Guest
Antonius Aruli

Apakah mungkin pak Tonny itu “pengikut Setan” karena berusaha untuk menggembos kepercayaan dgn logis. Sudah merupakan satu pandangan umum, bahwa baca Al Quran itu tidak boleh pakai logika. Seorang Mualaf tidak boleh pakai rasio. Kita harus beriman. Jangan pakai otak, tetapi pakai hati. Berdoalah. Jangan pakai pikiran! Hidup dengan Allah tidak bisa dilogikakan. Namun kehebatan dan keberanian dari pak Tonny yang berusaha untuk mendobrak paradigma kolot dan kesimpulan tsb. Jarang ada Pembimbing Agama yg berani mengajurkan umatnya untuk memakai logika sebab hal ini bertentangan dgn kepercayaan, seperti juga api dan air yg tidak mungkin dijadikan satu. Artikel yang sangat bagus… Read more »

Haji Abdul
Guest
Haji Abdul

Pak Tonny sdh jadi Mualaf sejak puluhan tahun, namun sekarang meragukan apa yg tercantum dlm Rukun Islam maupun Rukun Iman, karena menurut penilaian Bpk ini bertentangan dgn Nalar/Logika. Maka dari itu sy bisa menarik kesimpulan maaf, bahwa bpk itu sudah pikun atau memang dari sononya tidak waras alias Gendheng. Oleh sebab itu lain kali sebelumnya pak Tonny nulis; mohon diberiksa terlebih dahulu oleh Dr. Jiwa.