Manusia Membatasi Karya-Karya Tuhan (Allah)? (1)

2019-03-11T09:03:25+07:00Januari 26th, 2019|Artikel Pilihan, Rohani|3 Comments

Tuhan (Allah) sebagai kecerdasan semesta tanpa batas, tapi manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya membatasi karya-karya-Nya, logiskah?

Sewaktu saya baru belajar agama Islam, sering sekali terasa dibatasi oleh aturan-aturan yang entah itu berasal dari tafsir Al-Quran dan Hadits maupun sebagai Ijtihad para Ulama. Salah satunya larangan di rumah tidak boleh ada patung yang menyerupai makhluk ciptaan Tuhan (Allah). Alasannya malaikat tidak mau masuk kalau ada patung tersebut. Rumah itu dianggap memiliki banyak berhala.

Padahal untuk masalah  berhala, mungkin hanya sedikit orang yang sadar bahwa smart phone sebenarnya jauh lebih berhala dibandingkan patung. Sejak dibuat sampai hancur, patung tetap saja begitu adanya, tidak berubah. Berbeda dengan smart phone yang multi guna, bahkan bisa menjadi pembunuh yang kejam. Lucunya banyak orang cuma antipati pada patung tetapi cintamati pada smart phone.

Contoh larangan lainnya misalnya tidak boleh memajang foto-foto, khususnya foto pribadi atau keluarga, dilarang menyanyikan lagu yang syair lagunya bermuatan kalimat syirik, dihimbau agar tidak buang waktu untuk nonton tv khususnya film-film sinetron dan sebaiknya tidak usah nonton tv juga nonton bioskop, dan banyak lagi aturan-aturan lainnya.

Awal-awalnya saya patuh untuk mengikuti apa yang dilarang tersebut, sampai-sampai keluarga menilai kelakuan saya koq jadi aneh? Saya dikatakan tidak lazim dan cenderung aneh. Namun saya justru merasa perbedaan tersebut menambah keyakinan bahwa apa yang saya amalkan itu benar. Bukankah Nabi Muhamad sendiri tatkala menyebarkan ajaran Islam juga pernah dijuluki manusia kurang waras? Inilah salah satu yang selalu didengung-dengungkan dalam pengajian tatkala ada yang bertanya.

Barulah setelah kesadaran saya sudah sampai pada tingkatannya, saya pun memahami, “Yang mana di semesta ini yang bukan Dia sedangkan semua makhluk dan benda berikut ruang kosong itu adalah Dia? Berarti kalau ada larangan tidak boleh ini dan itu, juga tidak boleh begini dan begitu, bukankah sama dengan melarang, atau membatasi Dia?”

Lalu pertanyaannya, “Siapa yang jadi Tuhan dan siapa yang jadi hamba?”
Seiring waktu berjalan, mungkin karena banyak bertanya pada diri sendiri akhirnya saya bertemu guru mursyid yang bisa memberi pencerahan.
Bukankah peradaban manusia dari zaman ke zaman itu mengalami evolusi/perubahan ke arah yang lebih maju? Hingga tiba pada peradaban manusia di zaman saya dimana perkembangan teknologi sudah sedemikian majunya.

Hal ini adalah fenomena sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihalang-halangi, apalagi dilarang. Alasan adanya alam semesta berikut isinya cuma satu, yaitu karena Allah memiliki kehendak agar Dia bisa dikenal, maka diciptakankah makhluk beserta ciptaan-ciptaan-Nya agar melalui ciptaan-ciptaan-Nya itulah Dia dikenal.

Jadi yang namanya lukisan, patung, tv, bioskop, film, sinetron, foto, dan yang saat ini produk paling fenomenal seperti smart phone, musik dan seluruh makhluk serta semua benda yang ada di semesta ini, semua adalah hasil karya Dia. Melalui perantaraan manusia, flora, fauna dan seterusnya, untuk dikenali dan dinikmati sebagai sebuah karya yang Maha Agung, disesuaikan dengan kebutuhan zamannya.

Saya masih ingat ketika Ibu Dewi Soekarno ditampilkan pada sebuah buku berjudul “Madame Syuga”. Beliau difoto dalam keadaan bugil tanpa sehelai benang pun. Timbulah kehebohan dan pro kontra dari masyrakat. Dianggap tidak bermoral, tidak punya etika, membuat foto porno yang memalukan dan menjatuhkan martabat bangsa bagi yang kontra.

Sebaliknya bagi yang pro hal tersebut dianggap sebagai sebuah karya seni yang memiliki nilai tinggi. Pas dengan ungkapan Ibu Dewi sendiri, bahwa foto-foto dirinya tanpa sehelai benang tersebut adalah sebuah art yang punya nilai seni tinggi (natural).

Saya sependapat dengan penjelasan Ibu Dewi. Bagi orang-orang yang kesadarannya sudah tinggi, tentu mempunyai sudut pandang yang luas, positif dan objektif.  Merupakan sebuah kewajaran bahwa untuk menampilkan sebuah karya, Tuhan berhak menggunakan tangan para seniman untuk membuat karya sesuai selera-Nya.

Jika kita berpikiran sadar dan bisa melihat sebuah persoalan dengan sangat jernih, bukankah Tuhan menurunkan Nabi Adam dan Siti Hawa sebagai manusia pertama diturunkan ke alam semesta ini, dalam keadaan bugil juga? Sampai keturunannya  ke beberapa generasi pun, tubuhnya masih tanpa dibungkus sehelai benang pun. Bahkan di abad 21 sekarang dimana peradaban sudah sangat modern pun, di beberapa wilayah masih ada suku-suku primitif yang masih berpakaian minim/ala kadarnya.

Sebut saja seperti suku Asmat di pedalaman di Papua, Aborigin di Australia, Indian di Amerika, dan untuk kaum Nudis yang juga berkebudayaan tanpa busana alias bugil tanpa sehelai benang pun. Tentu saja mereka-mereka semua adalah makhluk Tuhan/Allah yang disebut manusia. Menurut pemahaman saya, kita sesama makhluk Tuhan/Allah seharusnya saling menebar kasih sayang. Bukan malah melecehkan, karena manusia tidak berhak menilai apalagi menghukum. Satu-satunya yang berhak menilai dan menghukum itu hanya Allah semata.

Bukankah tujuan kita semuanya sama? Bukankah kita semua ini adalah makhluk Tuhan yang sedang mengalami pengalaman manusia?
Lalu, berdasarkan apa manusia koq membuat pembatasan-pembatasan dan larangan-larangan? Apakah memang merasa lebih berhak dari pada yang Maha kuasa? Bukankah manusia itu sendiri juga hasil dari ciptaan-Nya? Bukankah Allah menciptakan alam semesta berikut isinya ini tidak ada satupun yang sia-sia? Menurut pemahaman saya, yang dilakukan manusia itu, sungguh tidak bisa diterima akal sehat.

Untuk melengkapi pemikiran ini, marilah kita simak apa yang difirmankan Allah dalam Al-Quran Surat Ali Imron (QS. 191:3) yang artinya:  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Bersambung)

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
Dr. WinardiIr. NugrohoLilly Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Lilly
Guest
Lilly

Apa yg Bpk tulis itu benar 100%, manusia zaman sekarang ini sudah tidak bisa pisah maupun lepas lagi dari HP nya. Bahkan 90% selalu membawa HP nya; kemana pun mereka pergi termasuk ke rumah ibadah sekalipun. Orang jaman sekarang lebih sedih kehilangan HP daripada kehilangan pasangan hidupnya. Pak Tonny itu seorang memperhati yang sangat kritis; namun apa yg Bpk tulis itu jitu dan tepat sekali.

Ir. Nugroho
Guest
Ir. Nugroho

Tidak bisa dipungkiri bahwa Pak Tonny itu adalah Raja HP Indonesia yang telah melegenda dan juga telah menoreh sejarah yang tak terlupakan dan juga tak akan bisa diulangi lagi entah oleh siapapun juga, dimana Bpk telah berhasil menumbangkan Berhala Terbesar Telkomsel. Rupanya sekarang ini Sang Raja telah berbalik menjadi Pandito, jadi tepatkan ungkapan alm Bpk Suharto “Lengser keprabon, madeg Pandito

Dr. Winardi
Guest
Dr. Winardi

Jitu dan benar sekali apa yg sdr Tonny tulis. Harus diakui bahwa sdr Tonny pandai menganalisa, meneropong dan mengeker sifat manusia Zaman Now. Dimana mereka lebih mementingkam bungkus daripada isi. Misalnya apakah sang pemakai Burka itu jauh lebih baik prilakunya daripada yang berpakaian Minirok? Apakah wong sugih lebih baik daripada Abang Becak; belum tentu! Maka dari itu tepatlah sekali apabila sdr Tonny disebut sebagai Muallaf Zaman Now!