Kekuatan Doa vs Kekuatan Pikiran (1): Hampir Semua Doa Manusia Ditolak Tuhan?

2019-02-28T22:23:15+07:00Februari 9th, 2019|Artikel Pilihan, Rohani|5 Comments

Umat manusia sebagai penduduk semesta ini, mayoritas mengutamakan kekuatan doa mereka untuk memohon  kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar apa-apa yang dikehendakinya terkabul. Hal ini dilakukan sesuai dengan kepercayaannya masing-masing, sebagai awal dari kegiatan sehari-harinya, terlepas apapun bentuk kegiatan yang hendak dilaksanakan.

Doa yang paling umum dipanjatkan adalah permohonan agar diberikan kesehatan, panjang umur, keselamatan, keimanan,  rejeki yang berkah dan banyak lainnya.

Fenomena di atas, membuat saya tergelitik untuk merenung sejenak dan berpikir. Berapa banyak manusia yang setiap detiknya berdoa memohon kepada Tuhan (Allah) dengan berbagai macam  permohonan? Saking banyaknya jenis doa yang dipanjatkan, sehingga yang tahu hanya Tuhan dan dirinya masing-masing sebagai pendoa saja. Hal itu menimbulkan pertanyaan pada diri saya, “Bagaimana caranya Tuhan (Allah) memilih doa-doa yang ada untuk dikabulkan?”

Ada sahabat saya yang langsung mengatakan tidak usah dipikirkan. Bukankah Tuhan (Allah) Maha segala-galanya, dan Beliau sendiri yang berjanji dalam ayat Al-Quran: MINTALAH PADAKU NISCAYA AKU KABULKAN. Untuk Allah sih gampang-gampang saja, KUN FAYAKUN=JADI MAKA TERJADILAH.”

Memang benar omongan sahabat saya itu. Untuk apa dipikirkan? Saya setuju juga. Inginnya sih tidak memikirkan. Tapi karena saya tipikal manusia yang selalu ingin tahu, maka mau tidak mau kepikiran juga. Seperti yang dikatakan barusan oleh sahabat saya, KUN FAYAKUN=JADI MAKA TERJADILAH. Kalimat ini dalam pengertiannya yang sungguh sangat instan.

Sepanjang perjalanan di kehidupan saya saat ini, belum pernah satu kali pun saya mengalami seperti yang dimaksud. Kalau memang bisa berlangsung instan seperti itu, kenapa proses saya menjadi manusia tua seperti saat ini memerlukan waktu 69 tahun lamanya? Dan semua manusia yang ada di semesta ini, untuk menjadi dewasa itu, perlu proses puluhan tahun lamanya? Tidak ada yang instan.  Akhirnya saya anggap kata-kata tersebut hanya sebuah kata-kata kiasan atau kata-kata simbolik saja.

Ada cerita, bahwa nanti setelah kiamat, semua menusia akan dibangkitkan dari kubur. Menurut pemahaman saya, hal itu sudah bisa dipastikan tidak akan pernah terjadi. Bukankah untuk menciptakan satu manusia saja, Allah perlu bantuan beberapa entitas yang ada di semesta ini. Karena jasad yang lama sudah hancur, masing-masing elemen menyatu lagi di tanah kuburan. Untuk membentuk jasad seorang bayi manusia saja, diperlukan waktu empat bulan, sebelum Allah meniupkan “Ruh-Nya” ke jasad tersebut. Lalu pertanyaan lainnya, yang mau dibangkitkan untuk dihisab itu manusia yang umur berapa? Saya sangat kesulitan untuk menjawabnya.

Ternyata, setelah saya amati dari tahun ke tahun hingga puluhan tahun, sesungguhnya doa-doa yang dipanjatkan oleh seantero penduduk bumi ini, hampir semuanya tidak terkabulkan alias ditolak. Kecuali mereka yang berdoa dengan fokus dan yakin sepenuhnya bahwa doanya akan dikabulkan/terbukti.

Dulu saya mendapatkan pemahaman dari komunitas pengajian saya, doa itu pasti Allah kabulkan, dengan tiga alternatif :

1. Yang pertama, langsung Allah kabulkan
2. Yang kedua, ditunda, karena waktunya belum tepat.
3. Yang ketiga, Allah ganti dengan yang menurut Allah lebih cocok daripada yang dimohonkan oleh si pendoa tadi.

Pemahaman seperti itu menurut saya sah-sah saja, karena doa yang dikabulkan dan ditolak itu masih merupakan sebuah misteri, hanya Allah sendiri yang tahu.

Tetapi dalam pemahaman saya seperti yang pernah saya tuliskan di salah satu artikel saya, doa yang paling umum dimohonkan mayoritas penduduk bumi ini, adalah permohonan agar seluruh penduduk dunia hidup tenteram dan penuh kedamaian. Doa ini entah sudah sejak kapan dimulainya, hingga saat ini buktinya tidak pernah terkabulkan alias ditolak Allah. Buktinya sampai saat ini di beberapa bagian penduduk dunia masih saja terjadi peperangan, kekacauan dan huru hara. Itulah bukti bahwa doa-doa dari mayoritas masyarakat dunia ini tidak digubris oleh Allah.

Ada lagi bukti lain doa yang tidak dikabulkan Tuhan. Terjadinya gunung meletus, gempa bumi, tsunami dan bencana alam lainnya. Manusia selalu berdoa untuk mendapatkan keselamatan, namun bencana alam merupakan ketentuan yang sudah Allah pastikan perencanaannya. Maka doa-doa itu tidak bisa terkabulkan. Dan itulah yang bisa disebut, JADI MAKA TERJADILAH yang merupakan hakekat dari KUN FAYAKUN.

Lalu pertanyaannya, kenapa? Karena Allah sudah membuat hukum di semesta ini dengan hukum sebab-akibat, tarik-menarik, atau tabur-tuai. Jadi “kata Allah”, kalian manusia yang bikin kekacauan dan peperangan di dunia ini, sudah seharusnya kalian juga yang menyelesaikannya.

Jadi kalaupun ada doa yang seolah-olah terkabulkan, itu karena pikiran manusianya yang menebar dengan penuh keyakinannya sendiri, bahwa doanya akan terkabulkan. Oleh hasil dari energi positif yang ditebarkan ke semesta ini, kemudian berbalik ke manusia tersebut dengan membawa kepositifannya lagi. Itulah salah satu yang disebut Mind Power=Kekuatan Pikiran. Seperti juga yang sudah sering saya tulis bahwa semua karya-karya yang ada di semesta ini dibangun oleh kekuatan pikiran manusia sebagai penghuninya dan yang sudah dititipkan sepercik kecerdasan Allah di dirinya masing-masing. Allah hanya sekadar fasilitator saja.

Contoh kekuatan pikiran bisa merubah segalanya itu seperti yang sering dilakukan oleh seorang motivator paling terkenal di dunia yang bernama Anthony Robbins. Beliau bisa memotivasi ribuan orang dengan seketika berjalan di bara api yang panjangnya beberapa meter, bahkan ada yang sampai 10 meter dengan aman dan tidak ada satu pun yang terluka.

Ada lagi contoh lainnya, sebuah bohlam dijatuhkan dari ketinggian 3 meter. Sebelumnya kita fokus dan konsentrasikan pikiran bahwa bohlam itu seolah-olah merupakan bola tenis, atau besi. Ketika dibayangkan sebagai bola tenis, maka tatkala dilepas bohlam itu pun mental lagi ke atas, persis seperti sebuah bola tenis. Sedangkan ketika dikonsentrasikan sebagai besi, maka ketika bohlam itu dijatuhkan ke lantai keramik, maka lantainya pecah, layaknya tertimpa besi sedangkan bohlamnya tetap utuh.

Sekitar tahun 1970 an, saya punya pengalaman yang menjadi anker di benak saya. Pada saat itu saya bertamu ke rumah kawan saya di sekitar jalan Sultan Agung Bandung. Pas waktu pamit mau pulang, ternyata motor saya hilang dicuri orang. Sejak saat itu, saya berusaha mencari lewat jalur resmi, maupun jalur supranatural.

Akhirnya saya ketemu orang pintar di daerah Jatiwangi. Namanya Pak Sanen, rumahnya dekat dengan pasar. Pada waktu bertemu beliau rambutnya panjang diikat. Terus beliau langsung menatap matahari kurang lebih 10 menitan, padahal saat ini tengah hari dan sinar matahari pas lagi terik-teriknya.

Selesai proses melihat matahari tersebut, beliau langsung berkata kepada saya, “Kamu tidak usah mencari-cari motor kamu kemana-mana lagi. Nanti akhir bulan ini, pada waktu itu bulan Maret, motor kamu akan ada yang bawa ke rumah kamu. Kamu tunggu saja beritanya,”  itu pesan dari Pak Sanen. Setelah itu, dia titip beberapa bungkusan misterius. Untuk setiap bungkusan itu, beliau menyuruh saya setiap malam jumat membakarnya di tempat motor yang hilang. Semua perintahnya saya lakukan dengan sepenuh keyakinan.

Singkat cerita tiba saatnya di akhir bulan tanggal 31, dari pagi saya sudah tunggu karena hari itu adalah hari terakhir yang dijanjikan oleh Pak Sanen. Tidak terasa hati deg-degan juga. Sampai akhirnya jam dua siang saya ketiduran. Baru tidur terlelap -/+ 30 menit, saya dibangunkan almarhum ayah saya. Beliau mengatakan ada Pak Rahmat membawa motor saya yang hilang. Pak Rahmat adalah teman saya. Ia seorang anggota dari satuan Kopasgat. Beliau menceritakan bahwa motor saya itu ditemukan oleh beliau di daerah Kosambi Bandung. Saya sangat bahagia sekali bisa mendapatkan motor saya kembali, dan tepat sekali waktu yang dijanjikan oleh Pak Sanen kepada saya. (Bersambung).

5
Leave a Reply

avatar
5 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
5 Comment authors
TariganSuhu Zen HakuinRev. PaulusRahmatDipl. Ing. Hubert Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Dipl. Ing. Hubert
Guest
Dipl. Ing. Hubert

Tulisan yang manteb dan benar-benar Out of The Box. Namun apa yang bpk tulis banyak benarnya. Bahkan berdasarkan buku The Secret dari Rhonda Byrne.Tanpa berdoa sekalipun, apabila anda meyakininya maka ini akan terjadi dan terkabulkan. Ini sesuai dengan hukum tarik-menarik. Anda meminta, meyakini bahwa permintaan Anda terwujud, kemudian menerima. Ketika Anda mampu melakukan semuanya dengan baik, Anda bisa meminta apapun yang Anda butuhkan kepada Semesta. Bahkan keajaiban-keajaiban akan segera terwujud.

Rahmat
Guest
Rahmat

Mungkin ada benarnya juga apabila ada banyak orang menyatakan bahwa Jenius dan orang Gila itu bedanya hanya satu strip saja. Hal inilah yg sy dapatkan dari tulisan Pak Tonny. Namun yg membuat saya jadi berpikir apakah Bpk ini Edan ataukah seorang Jenius, ketika menulis artikel ini.

Rev. Paulus
Guest
Rev. Paulus

Tulisan Bpk itu terkesan seakan-akan meniadakan eksitensinya Tuhan. Sedangkan kami sebagai umat Kristen percaya:
Dan apapun yang kamu minta dalam do’a dengan kepercayaan, kamu akan menerimanya. Matius 21:22
Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dam doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Markus 11:24.

Suhu Zen Hakuin
Guest
Suhu Zen Hakuin

Dalam praktik keseharian Zen, kita berdoa kepada diri sendiri – baik untuk diri kita yang memiliki rentang usia terbatas maupun untuk diri kita yang lebih besar dan saling terhubung satu sama lain. Kita tidak berdoa untuk perolehan materi pribadi; namun, kita beroda untuk mengarahkan hati dan benak kita menuju kualitas-kualitas positif seperti welas asih dan kejernihan

Tarigan
Guest
Tarigan

Rupanya Bpk sudah mencapai tahapan dimana Bpk. sudah bisa melepaskan kemelekatan terhadap Sang Aku. Masalahnya ita berdoa, karena kita ingin mengutamakan Sang Aku; maupun kebutuhan untuk Sang Aku. Namun dimana kita sudah bisa melepaskan Sang Aku seperti halnya dgn pak Tonny, disitulah pula kita mulai tidak butuh untuk berdoa lagi. Satu artikel yg bagus.