Kegelapan vs Cahaya (2): Kegelapan Itu Kekal, Cahaya Datang dan Pergi

2019-06-23T23:05:29+07:00Juni 16th, 2019|Rohani|4 Comments

Dalam tulisan “Kegelapan vs Cahaya” bagian (1), sudah saya ungkapkan kenyataan bahwa jika digali hakekat makna yang terkandung di dalamnya secara mendalam ternyata kegelapan itu justru merupakan berkah. Berkah bagi manusia untuk melepaskan diri dari kemelekatan yang disebabkan oleh adanya cahaya.

Jika kita pelajari lebih mendalam lagi, ternyata penjelasan tentang “Kegelapan dan Cahaya” di tulisan bagian (1) tersebut, hampir sama maknanya dengan upacara hari Nyepi yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali. Adapun penjelasannya kurang lebih seperti berikut ini : Di Bali, perayaan pergantian tahun baru Icaka itu dilaksanakan sebagai momentum perenungan diri. Mengheningkan semesta agung dan semesta kecil (manusia) dari hiruk pikuk urusan duniawi. Agar ada jeda untuk mencari ke dalam keheningan diri.

Di situ dirayakan dengan Nyepi. Upaya ke arah sepi di dalam dan sepi di luar itu melalui apa yang disebut Catur Brata Penyepian (Empat Pengendalian Diri saat Nyepi):

  1. Amati Geni: tidak menyalakan api di luar dan api di dalam (emosi)
  2. Amati Karya: tidak melakukan kegiatan tubuh di luar dan di dalam diri. Mendiamkan pikiran, perasaan, ego dari pekerjaan sehari-harinya.
  3. Amati Lelanguan: tidak melakukan penghiburan di luar dan dalam diri dengan berbagai bentuk hiburan itu
  4. Amati Lelungan : tidak bepergian ke luar diri, namun lebih menyelam ke dalam keheningan diri untuk mengenal Suara Sang Jati di dalam.

Itulah sekilas penjelasan tentang perayaan Nyepinya. Begitu juga pemahaman dalam agama Budha, yang penjelasannya sebagai berikut: Buddha Gautama mungkin merupakan satu-satunya orang yang memiliki tingkat kesadaran tertinggi. Ia telah memilih sebuah kata yang dapat diartikan sebagai kegelapan. Sementara semua agama telah berbicara tentang cahaya, melupakan sepenuhnya bahwa cahaya itu tidak kekal dan jika engkau adalah terang, engkau juga tidak abadi. Cahaya itu tergantung pada sesuatu. Ia disebabkan oleh sesuatu.

Buddha Gautama menyebut tingkat tertinggi kesadarannya nirwana. Bahkan pemeluk agama Buddha tidak pernah berpikir tentang itu sebagai kegelapan, karena kata itu menghasilkan asosiasi yang buruk dalam diri kita. Tapi nirwana arti persisnya “kegelapan” secara harafiah “meniup lilin.” Tapi apa artinya? Meniup lilin, apa yang tersisa kemudian? Kegelapan yang abadi, tanpa kematian, yang bukan main.

Merasakan dirimu penuh dengan cahaya mungkin adalah satu permainan ego. Merasakan dirimu teridentifikasi dengan cahaya, engkau mungkin hanya menggubah identitasmu – tapi ego bertahan. Tapi meniup lilin adalah meniup jauh ego, dan kegelapan yang luas pasti akan menciptakan kesahajaan, kerendahan hati, dan keadaan tanpa ego dalam dirimu yang sama luasnya.

Adapun kesimpulan dari artikel yang saya tulis di atas ini sekali lagi untuk menegaskan bahwa “Kegelapan itu kekal abadi, adapun Cahaya datang dan pergi.

Sebagai penutup, bolehlah kiranya kita kutip kata-kata humor dari si Jenius Albert Einstein yang menyatakan: “LUBANG HITAM ADALAH TEMPAT TUHAN DIBAGI NOL”

Silahkan Anda coba mencari hakekat makna ungkapan humor tersebut sesuai pemahaman kita secara bijak. Tabik. (*)

4
Leave a Reply

avatar
4 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
4 Comment authors
Dr. M. Yahya PhdDr. Wiliam TanKua Han LiongBobby Aruli Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Bobby Aruli
Guest
Bobby Aruli

Banyak terima kasih untuk artikelnya yang selalu Top Marko Top. Harus diakui bahwa Pak Tonny ini selainnya penulis lintas agama namun kenyataannya juga lintas budaya yang selalu mengutamakan kedamaian. Banyak terima kasih untuk artikelnya yang selalu mencerahkan.

Kua Han Liong
Guest
Kua Han Liong

Apakah seorang umat Buddha bisa masuk surga? Jawabannya: bisa! Gampang lagi. Karena terlalu gampang sehingga jarang diceritakan. Akhirnya orang menduga bahwa dalam Agama Buddha tidak mempunyai surga. Padahal, sebaliknya, amat banyak surganya. Ada 26 surga.

Dr. Wiliam Tan
Guest
Dr. Wiliam Tan

Sy adalah pembaca rutin setiap tulisan pak Tonny, bahkan saya telah merekam semua tulisan2 Bpk. Dan aneh bin nyata pada tanggal 13 April 2019 pak Tonny menulis artikel dgn judul “Mendaras Rahasia Semesta (1): Sang Maha Hidup dalam Ruang Kosong” dan anehnya pula bertepatan pada saat yg sama setelah dua setengah abad (250 th) sejak John Michell (1784) menggagas adanya Lubang Hitam itu. Baru untuk pertama kalinya itulah Lubang Hitam tsb bisa dilihat dgn kasatmata dlm bentuk Foto. Kejadian ini terjadi bertepatan pada saat Bpk memposting artikel tsb di atas. Apakah ini sekedar kebenaran saja ataukah suatu Mukjizat karena Bpk… Read more »

Dr. M. Yahya Phd
Guest
Dr. M. Yahya Phd

Sy hanya bisa mengamini dan mengkonfirmasikan saja komentar dari sohib sy Dr William. Selama 250 th sebelumnya para ilmuwan legendaris seperti Stephen Hawking maupun Prof. Albert Einstein hanya mampu memberikan gagasan saja sebagai Teori akan keberadaannya dari Lubang Hitam itu. Namun melalui wahyu maupun penglihatan pak Tonny telah berani memberikan pernyataan bahwa Lubang Hitam itu benar2 real ada. Jadi bukan hanya sekedar dongeng saja, karena Bpk percaya dan juga meyakini sepenuhnya bahwa Allah itu Mana Nyata! Amin