Kegelapan vs Cahaya (1): Sejatinya Kegelapan Adalah Berkah, Cahaya adalah Godaan

2019-06-23T23:03:05+07:00Juni 14th, 2019|Rohani|2 Comments

“Kegelapan kekal abadi, cahaya datang dan pergi.” Ini adalah ungkapan kata-kata dari seorang filsuf spiritualis terkenal abad ini OSHO. Kata-kata inilah yang menyadarkan saya, dimana selama ini hampir di setiap agama maupun spiritualitas selalu berorientasi terhadap cahaya. Sebab cahaya selalu dilambangkan sebagai “kebajikan” adapun sebaliknya kegelapan dilambangkan sebagai “kejahatan”. Lalu pertanyaannya,  benarkah demikian adanya?

Jika seseorang pikiran dan hatinya dipenuhi kegelapan, mungkin sekali dia bisa bertindak atau melakukan sebuah kejahatan. Akan tetapi kalau seseorang memasuki sebuah ruangan yang gelap gulita, tidak ada cahaya setitik pun, maka perasaannya akan sangat jauh berbeda dari anggapan umum bahwa hitam itu lambang kejahatan dan sebaliknya putih adalah lambang kebaikan.

Setelah saya memahaminya secara spiritualitas, maka hasilnya sangat berbeda dengan pemahaman yang pada umumnya tadi.

Bagi saya, sebuah kegelapan yang walaupun dipandang oleh panca indera itu memang benar-benar gelap gulita, sekalipun dalam jarak yang dekat ada materi atau makhluk, manusia tetap tidak kelihatan, itulah yang dinamakan kegelapan yang kekal abadi. Karena, sesungguhnya keadaan awal sebelum Alam Semesta ini tercipta juga dalam keadaan kosong dan gelap. Kegelapan itu tidak diciptakan karena kegelapan itu tidak perlu bahan untuk menciptakannya. Gelap itu hitam dan hitam itu bukanlah warna.

Tatkala saya telah memahaminya, maka kegelapan itu bagi saya justru menjadi berkah. Alasannya adalah saya bisa belajar dengan mudah untuk melepaskan semua kemelekatan yang ada di kehidupan ini, bahkan pikiran dan hatipun bisa kita hilangkan, sehingga yang tinggal adalah kesendirian. Bersama dengan kesendirian itulah kita bisa melebur menjadi satu dengan kegelapan. Sehingga dengan itu kita bisa merasakan ketenangan serta kedamaian.

Bukankah pada hakekatnya kita dalam kehidupan sekarang ini sejatinya juga hidup dalam kesendirian? Kita dilahirkan sendirian. Kita nanti pulang pun dalam kesendirian. Dan sesungguhnya kegelapan itu maha luas dan tanpa batas. Lebih luas dari pada cahaya. Dan setelah itu saya lebih bisa merasakan bahwa cahaya adalah sebuah gangguan yang bisa menimbulkan ego berkat pikiran kita yang melihat semua penampakan yang jelas yang ada di semesta ini. Baik itu yang berupa materi, flora, fauna, makhluk, manusia dan  sebagainya.

Pikiran manusia itu adalah salah satu sumber masalah yang paling dominan. Karenanya ketika pikiran manusia itu menjadi tuan yang menguasai fisik/tubuh manusia, maka banyak masalah yang timbul karena pikiran itu yang memicu ego dari seorang manusia. Bahkan sudah bisa dipastikan bahwa saat itu kesadaran manusia tersebut rendah, karena jiwanya terkubur oleh tubuh/jasad dan pikiran manusia tersebut.

Menurut pemahaman saya semua masalah yang ada di semesta ini awalnya ditimbulkan oleh karena ulah pikiran. Pasalnya pada umumnya manusia senang memberikan peran kepada pikiran agar menjadi majikan di dalam mengendalikan semua aspek kehidupan manusia di semesta ini. Karena itu ia akan cenderung membiarkan jiwanya terkubur oleh tubuh/jasad dan pikirannya sehingga hilang Kesadaran Sang Jiwa tersebut.

Dus,  tugas utama kita sebagai manusia, adalah segera membangkitkan tingkat kesadaran kita masing-masing sehingga mencapai puncaknya. Ini dilakukan agar kita bisa melampaui hukum Dualitas yang sudah baku di semesta ini dan jangan sampai malah terjebak oleh hukum Dualitas tersebut. Itulah hakekatnya makna dari Kiamat=Bangkit.

Jadi yang disebut Hari Kiamat itu adalah Hari Kebangkitan. Adapun pertanyaannya adalah Kebangkitan apa? Ya Kebangkitan jiwa kita masing-masing yang selama ini terkubur oleh tubuh/jasad, pikiran dan ego. Kebangkitan agar kita masing-masing sadar, sesungguhnya jiwa kita inilah diri sejatinya setiap makhluk, manusia ciptaan Allah sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas. Bangkit agar Jiwa atau diri sejati kita menjadi majikan di tubuh/jasad kita yang bisa mengendalikan pikiran dan ego kita. (Bersambung).

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Bhikkhu HansungDr. Paul Tan Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Dr. Paul Tan
Guest
Dr. Paul Tan

Satu uraian yang ruar biasa benar dan jitu! Disini kelihatan nyata dan jelas sekali bahwa pak Tonny telah mencapai tingkat kesadaran yg sangat tinggi. Manusia jadi egoist karena “terang” sehingga bisa melihat, Namun bagi mereka yg matanya buta akan selalu gelap. Mereka tidak bisa membandingkan antara baik dan buruk. Misalnya Baju kaos cap Cabe sama nilainya dan sama bagusnya seperti kaos dari Boss bagi, karena ia tidak bisa membedakannya. Maka dgn sendirinya hilanglah sifat egoism, karena dimata orang buta kita ini semuanya sama. Tidak ada yang cantik maupun yang buruk! Dimata mereka kita ini hanya manusia saja tidak lebih dari… Read more »

Bhikkhu Hansung
Guest
Bhikkhu Hansung

Pak Tonny memiliki cara pemikiran seperti filsafat Buddha sehingga bisa berpikir secara bebas. Hal ini tertuang dalam kitab Kalama Sutta. Bebas dari rasa takut dan dari dogma. Membebaskan diri dari ketakutan untuk berekspresi dan berpikir di luar kotak dogma adalah jalan pemikiran seorang pemikir bebas. Kesadaran pak Tonny inilah yang saya serap dari hampir setiap tulisan2 bapak