Ironi Negara Islam dengan Masyarakat yang Tak Islami, dan Fakta Sebaliknya? (1)

2019-02-28T22:29:47+07:00Januari 20th, 2019|Artikel Pilihan, Rohani|3 Comments

Apa yang menyebabkan banyak negara-negara Islam, tapi dalam praktek kehidupan mayoritas masyarakatnya tidak islami? Sementara berbanding terbalik dengan negara-negara non islam (kafir) tetapi justru dalam praktek kehidupan mayoritas masyarakatnya malah sangat islami?

Suatu saat, saya pergi ke negeri Matahari Terbit (Jepang). Kesan pertama yang sangat mendalam bagi saya adalah bagaimana orang Jepang itu bisa memiliki kebudayaan saling menghormati dan sama sekali tidak memperdulikan kedudukan seseorang?

Ada kalanya seorang pejabat negara bertemu dengan seorang petugas kebersihan. Mereka bisa saling memberi hormat sambil membungkukkan badannya masing-masing. Sungguh saya sangat kagum dengan peradaban yang mereka miliki tersebut.

Saya pernah mendapatkan penjelasan dari orang Jepang langsung. Ia menerangkan bahwa kebudayaan mereka memang mengajarkan untuk saling menghormati dan saling menghargai atas profesi masing-masing orang. Sebab, apapun profesi seseorang, ya itulah peran mereka untuk hidup di semesta ini. Tidak perlu ada yang merasa lebih baik, karena pada hakekatnya semua manusia itu saling membutuhkan.

Allah meciptakan manusia untuk hadir di semesta ini, tidak ada satu pun yang sia-sia. Sampai-sampai guru saya menjuluki negara Jepang itu sebagai negara “Juara Ruku” sedunia. Bagaimana tidak? Fenomena ruku itu bisa kita jumpai dimana saja dan dilakukan oleh masyarakat dengan berbagai tingkatan stratanya, karena hal tersebut sudah menjadi kebudayaan bangsa Jepang.

Di Jepang menurut pemahaman saya, tingkat kesadaran masyarakatnya pada umumnya sudah tinggi. Berbekal kesadaran yang tinggi itulah maka timbul ketulusan di hati mereka yang paling dalam untuk bisa saling menghormati serta saling mengahargai.

Ada cerita yang sangat menarik dari sahabat satu pengajian saya. Beliau yang pernah tinggal di Jepang ini pun menceritakan pengalamannya.  Suatu saat beliau kehilangan dompetnya.  Hingga sekian lama berlalu, tiba-tiba suatu hari ada orang yang datang ke tempat tinggalnya dengan membawa dompet yang hilang tersebut. Setelah menerima dompetnya tersebut, beliau pun ingin memberikan uang jasa atas pengembalian yang dilakukan.

Ternyata dengan halus orang Jepang tersebut menolak pemberian dari sahabat saya itu. Ia pun bercerita, ketika menemukan dompet tersebut, ia tidak tahu siapa pemiliknya. Maka  domper tersebut dia titipkan di kantor polisi dengan harapan suatu saat sang pemilik akan datang melapor.

Namun, setelah sekian lama, tidak ada juga pemilik yang datang melapor. Maka pihak polisi pun segera menghubungi lkembali orang Jepang yang menemukan dompet tersebut. Sang polisi meminta agar orang yang menemukan dompet tersebut sudi segera mengantarkan ke alamat yang tertera di kartu identitas yang ada di dalam dompet tersebut.

Hebatnya, jika sampai beberapa hari yang sudah ditentukan sang polisi, dompet tersebut masih belum diterima oleh pemiliknya, maka orang Jepang penemu dompet tersebut akan dikenai denda. Pertanyaannya, kenapa orang-orang Jepang pada umumnya mempunyai kesadaran yang sebegitu tinggi? Jawabannya adalah karena mereka selalu berpikir bagaimana kalau dirinya sendiri yang saat ini mengalami kehilangan dompet juga?

Mungkin kondisinya bisa lebih parah daripada orang yang sekarang sedang merasakan kehilangan dompet tersebut. Karena itulah masing-masing orang Jepang mempunyai empati tinggi terhadap orang yang terkena musibah dan mereka bisa mempraktekannya dalam kehidupan sehari-harinya.

Semua peristiwa yang saya dapatkan tersebut, membuat saya termenung dan berpikir. Bagaimana masyarakat Jepang yang notabene mayoritas merupakan pemeluk agama Sinto tersebut, justru bisa mempraktekan kebudayaan secara Islami? Justru semua prilaku mayoritas masyarakatnya, mampu dijalani seperti yang diajarkan oleh Rasullulah, yaitu hablum minnallah dan hablum minannas?

Hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan saya atau kita yang notabene hidup di negara yang mayoritas masyarakatnya adalah pemeluk agama islam. Nyatanya perilaku mayoritas masyarakatnya, justru sama sekali jauh dari ajarannya Rasullulah. Malah sangat tidak islami.  Sesuai dengan penemuan sebuah lembaga riset tentang negara-negara yang paling islami, dari 280 negera yang diriset, ranking Indonesia berada di urutan -/+ 140.

Sedangkan negara-negara Timur Tengah yang mayoritas merupakan pemeluk agama islam, atau bahkan boleh dikatakan sebagai sumbernya agama Islam, rata-rata rankingnya berada di atas 90.

Fenomena hasil riset ini menurut saya cukup akurat. Marilah kita ambil satu contoh sebagai perbandingan.  Sewaktu saya menjalankan ibadah Haji atau pun Umroh, saya bisa merasakan kurangnya etika dari mayoritas masyarakat Arab.

Dari sejak kita tiba di bandara, cara imigrasi negara tersebut menyambut kadatangan “tamu Allah” dengan sikap seenaknya saja. Tidak ada sopan santun. Untuk bisa melewati batas petugas imigrasi saja bisa makan waktu berjam-jam. Sama sekali tidak terlihat keramahan atau sopan santun yang mencerminkan umatnya Rasullulah. Bahkan mereka cenderung cuek dan semau-maunya.

Para petugas imigrasi saja, kadang sampai ada yang meninggalkan tempat tugasnya tanpa alasan dengan seenak waktunya saja. Sepertinya mereka tidak peduli pada antrian para “tamu Allah” yang begitu panjang dan dalam kondisi yang sangat kelelahan.  Setelah kita bisa masuk kota Mekkah, biasanya para Mutowif memberikan wejangan-wejangan dan peringatan-peringatan.

Diantaranya adalah aturan kalau kita mau bepergian menggunakan taksi, harus laki-laki yang naik duluan. Setelah selesai dan turun dari taksi, harus wanita yang duluan.   Saya pun bertanya, kenapa harus begitu?

Maka dijawablah bahwa di Mekkah, sudah beberapa kali ada kejadian taksi yang membawa lari penumpang wanita yang akhinya hilang tidak ditemukan lagi. Saya sungguh terperanggah, sangat tidak percaya. Bagaimana mungkin di rumah Allah bisa terjadi peristiwa yang menakutkan seperti itu?

Begitu pula ketika saya mengamalkan ibadah tawaf. Saking penuhnya orang tawaf, saya sampai di lingkaran paling luar. Di situ terasa sekali bahwa orang-orang seperti berlomba-lomba mementingkan dirinya masing-masing untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya.

Banyak sekali grup dari berbagai negara dengan pembimbingnya masing-masing yang setengah teriak membimbing doa para jamaahnya. Bisa dibayangkan, orang-orang berdoa seperti saling sahut-sahutan yang jauh dari ketertiban.

Bahkan saya jalan tidak menapak lantai karena terjepit oleh orang-orang besar di depan dan belakang saya. Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa. Hal yang kurang lebih sama juga terjadi ketika ibadah sa’i. Kondisi terparah terjadi ketika mengamalkan ritual jum’rah.

Bisa dibayangkan di dalam waktu yang sama, seluruh jamaah haji termasuk kita, menuju satu tempat dengan jumlah jamaah yang luar biasa banyaknya. Masing-masing ingin menyelesaikan ritualnya lebih awal sampai-sampai ada yang kena lempar batu, bahkan sampai ada yang terinjak-injak hingga akhirnya meninggal dunia.

Tak heran jika insiden Mina bisa terjadi hingga dua kali. Insiden tersebut memakan korban ribuan orang dan yang paling banyak korbannya adalah jamaah dari Indonesia.

Selanjutnya ketika sudah dekat waktu sholat. Orang-orang yang berebut mancari shaf di depan, bisa saja memegang atau melangkahi kepala orang-orang yang sudah duduk lebih awal. Mereka seolah-olah ingin mendapat tempat paling depan agar mendapat hitungan pahala yang lebih banyak.

Namun mereka tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Sungguh jauh dari ajaran Rasullulah yang mengajarkan agar saling mengasihi serta menyayangi.

Penuhnya orang ibadah pada saat itu dikarenakan waktu wukufnya (tanggal 10 Dzulhijah) itu pas jatuh di hari Jumat. Konon katanya termasuk Haji Akbar, akibatnya jamaahnya membludak lebih banyak dari pada biasanya.  (Bersambung)

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
Oei Tok SengRomo YohannesWatik Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Watik
Guest
Watik

Assalamualaikum wr wb. – Pak Kiayi, Saya orang bodoh, yg minim wawasan Agama, yg masih tidak kontinyu beribadah, belum Istiqomah. – Dakwah yang bagus dari Pak Yai – Maturnuwun. – Pak Yai, apa itu arti Teroris ? Kenapa Islam selalu dikaitkan dgn Teroris? – Semoga Allah SWT memberikan ” sisa umur Pak Yai menjadi sisa umur yg bermanfaat “, bukan sisa yg sia-sia pada fatamorgana dunia. Aamiin. Wassalam

Romo Yohannes
Guest
Romo Yohannes

Satu Renungan yg indah yg telah menjadi berkat bagi kami semua. Sy adalah penggemar dan pembaca rutin dari setiap tulisan pak Tonny, maklum tulisan bpk itu bersifat universal. Apa yg bpk paparkan itu benar sekali dan terjadi hampir di semua pemeluk agama saat sekarang ini. Seluruh hukum Allah tercakup dalam satu firman saja, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Apabila hal ini dipraktekan maka kita akan bisa menjadi lebih sadar terhadap sesama manusia.

Oei Tok Seng
Guest
Oei Tok Seng

Sy seorang Muallaf keturunan Tionghoa seperti pak Tonny. Sy telah mengikuti tulisan Bpk dari sejak pertama kalinya muncul di KabarIndonesia. Bpk memiliki pengetahuan tentang Islam yg begitu mendalam, sehingga timbul pertanyaan dlm pikiran saya, jgn2 Bpk ini adalah keturunan atau cucu buyutnya dari salah satu Wali Songo. Sebab telah terbuktika, bahwa 8 dari Walisongo itu adalah orang Tionghoa misalnya Sunan Ampel dgn nama aslinya Bong Swi Hoo atau Sunan Kalijaga dgn nama aslinya Gan Si Cang. Oleh sebab itulah pertanyaan sy, apakan mungkin pak Tonny merupakan salah satu keturunan langsung dari Walisongo. Mhn ditulis dlm artikel berikutnya.