Dahsyatnya Daya Ungkit “SADAR” (1): Kunci Semua Permasalahan di Semesta

2019-02-28T22:36:10+07:00Januari 1st, 2019|Artikel Pilihan, Rohani|5 Comments

Pemahaman saya atas ibadah yang saya lakukan kepada Allah sebelum ini, lebih seperti sebuah keterpaksaan. Terpaksa karena takut siksa neraka yang penuh kesengsaraan, dan ingin sukses masuk surga yang penuh dengan kenikmatan.

Al Quran yang diajarkan kepada saya itu, isinya cuma tiga hal:

Pertama, yaitu cerita zaman rasul dan nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, dan cerita-cerita tersebut wajib dipercayai sepol (sepenuh/seluruh) kemampuan saya.

Kedua, perintah Allah yang wajib ditaati sepol (sepenuh/seluruh) kemampuan saya.

Ketiga, larangan Allah yang juga wajib dihindari sepol (sepenuh/seluruh) kemampuan saya.

Berbekal itu, saya merasa bahwa belajar agama itu sudah merupakan sebuah kewajiban kalau ingin mendapatkan surga dan terhindar dari ancaman masuk ke neraka.  Tentunya hanya dengan beragama islam yang berpedoman pada Al-Quran dan haditslah satu-satunya jalan untuk bisa masuk surga. Selain dari itu, semuanya pasti masuk neraka.

Awalnya saya sangat bersyukur mendapat pemahaman seperti itu. Merasa menjadi manusia pilihan Allah. Kehidupan saya pun berubah total 180 derajat. Dari yang tadinya penuh kebebasan dan tidak pernah takut pada ancaman Tuhan, berbalik menjadi tertib, rajin beribadah, dan taat pada agama.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya merasa makin eksklusif dan selalu menganggap bahwa komunitas pengajian sayalah satu-satunya yang paling benar. Semua yang ada di luar kelompok kita, salah. Walaupun mereka sama-sama pemeluk agama islam. Apalagi yang di luar Islam. Tanpa perlu dipertanyakan lagi, sudah pasti mereka salah.

Saya termasuk orang yang cukup kritis. Selalu mempertanyakan kenapa Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Bijaksana, dan Maha Pengampun, tapi dalam kenyataannya tidak seperti apa yang selama ini diajarkan kepada saya? Bahkan Allah sendiri seperti telah merencanakan agar manusia-manusia yang Dia ciptakan itu, mayoritas akan menjadi penghuni neraka untuk selama-lamanya, kekal-abadi. Bagi saya, hal ini terasa sangat bertolak-belakang (kontradiktif) dan tidak koheren dengan sifat-sifat di atas.

Kelanjutan dari cerita ini, seperti yang sudah saya tulis dalam buku saya yang berjudul “Aku Bersaksi Allah Maha Nyata.”
Setelah semakin tersadarkan, saya pun mulai memahami bahwa sesungguhnya surga dan neraka itu nyata adanya. Bahkan berada di dalam kehidupan saya di semesta saat ini. Ada pun pilihan kita, mau mendapatkan surga atau neraka, itu pun tergantung dari tingkat kesadaran kita sendiri.

Pada akhirnya saya mendapatkan pencerahan, bahwa semua permasalahan yang ada di semesta ini penyababnya adalah kesadaran. Karena itu, untuk menyelesaikan semua permasalahan yang timbul di semesta ini, kata kuncinya cuma satu, yaitu “SADAR”.

Hanya satu kata “SADAR” ini mempunyai daya ungkit yang sangat dahsyat mencakup semua aspek kehidupan. Betapa tidak, di semesta ini tidak mungkin ada kedamaian kalau para penghuni semesta, khususnya makhluk yang namanya manusia ke-SADAR-annya rendah.

Sepanjang pemahaman saya mengatakan, adanya perselisihan, peperangan dan segala bentuk kejahatan di semesta ini, disebabkan karena semata-mata tingkat ke-SADAR-an manusia rendah.
Terutama mereka yang tidak mengerti/mengetahui tujuan Allah menghadirkan mereka di semesta ini untuk apa? Sehingga yang ada dalam benaknya hanyalah hawa nafsu, ego untuk kepentingan dirinya, keluarganya, atau kelompoknya.

Padahal tujuan Allah menghadirkan manusia di semesta ini cuma satu, yaitu mengabdi kepada Allah, berkarya agar Allah bisa mewujud dalam keadaan nyata, sehingga eksistensinya bisa dikenal oleh ciptaan-ciptaan -Nya. Nabi/rasul diutus ke semesta ini tujuannya hanya satu, yaitu meningkatkan ke-SADAR-an manusia agar mereka kembali mengerti tujuan Allah menghadirkannya di semesta ini.

Bisakah kita menjawab pertanyaan, “Yang mana di semesta ini yang bukan Dia?” Bukankah seluruh keindahan-keindahan yang ada di alam semesta ini semua adalah karya-Nya? Untuk mewujudkan semua karya-karya tersebut, Dia menggunakan media makhluk sebagai perpanjangan tangan-Nya.

Indahnya sebuah lukisan itu karena Dia. Menggunakan tangan pelukis tersebut untuk menyalurkan kecerdasan-Nya. Begitu juga, seorang pemahat, pematung, penyanyi, aktor, aktris, arsitek dan banyak lainnya dengan berbagai macam multi profesi yang ada.

Lalu pertanyaan-Nya, kenapa kebanyakan manusia itu merasa bahwa semua karya itu adalah hasil dari kecerdasan mereka sendiri? Kita sering mendengar seseorang berkata, “Karena aku ini, bisa jadi begini atau begitu”. Itulah ciri-ciri orang yang tingkat ke-SADAR-annya rendah.
Dia belum tahu bahwa dirinya hadir di semesta ini untuk apa? Karena kelakuan mereka-mereka yang belum SADAR inilah maka di dunia ini terjadi gonjang-ganjing. Mereka belum SADAR, satu-satunya yang berhak mengatakan “Berkat aku” hanyalah Sang Maha Segala Maha.

Kalau di semesta ini tidak ada yang lain kecuali Dia. Kenapa manusia harus saling menyakiti? Bukankah kalau ada satu manusia yang tersakiti, sama artinya dengan menyakiti Dia. Itu juga berarti menyakiti diri sendiri pula.

Lalu untuk apa kita beribadah kepada Allah? Sebelum saya mendapatkan ke-SADAR-an seperti sekarang ini, pertanyaan tersebut sering sekali muncul di benak saya. Akibatnya, ibadah yang saya kerjakan selalu penuh dengan permintaan yang sesuai dengan keinginan saya saja. Bukankah semua kebutuhan saya di semesta ini dijamin dan dicukupi oleh Dia?

Lama-kelamaan saya berpikir, bukankah tugas saya dihadirkan di semesta ini hanya untuk melayani kepentingan Dia semata? Lalu, dengan hak apa koq selama ini malah saya yang lebih banyak mengatur-atur Dia? Memohon ini dan itu hanya untuk kepentingan pribadi, keluarga dan kadang kepentingan kelompok juga.

Jadi siapa sebenarnya yang jadi Tuhan dan siapa yang jadi hamba? Setelah saya SADAR, saya merasa begitu malu dan memohon ampun yang sebesar-besarnya kepada Tuhan atas ketidak- SADAR-an saya selama ini. Jadi selama ini, alih-alih saya tulus beribadah kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, melainkan sesungguhnya saya beribadah kepada Tuhan yang saya ciptakan sendiri.   (Bersambung).

5
Leave a Reply

avatar
5 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
5 Comment authors
Kho ping hoDidinBhikkhu JinarakkhitaDr. Neurologist LieAnton Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Didin
Guest
Didin

Artikel Top Martkotop di awal tahun 2019
Banyak terima kasih pak Tonny

Bhikkhu Jinarakkhita
Guest
Bhikkhu Jinarakkhita

Apakah pak Tonny pernah mempelajari Agama Budhha sebelumnya? Sebab tulisan bpk itu sama seperti dalam ajaran Buddha kesadaran dikenal sebagai winyana (vinnana). Di dalam ajaran Buddha, kesadaran itu memegang peranan yang paling fundamental karena berperan penting atas pengendalian pikiran sehingga kehendak atau niat-niat yang negatif tidak muncul. Jadi tepat seperti yang dipaparkan oleh Pak Tonny

Dr. Neurologist Lie
Guest
Dr. Neurologist Lie

Kesadaran Secara Sains bisa diukur. Seseorang yang telah mencapai tingkat kesadaran tinggi, maka gelombang Otaknya berada ditingkat Gelombang Alfa (8-13 Hz) ialah ketika seseorang berada dalam keadaan santai (sadar)

Anton
Guest
Anton

Tulisan Ustadz yang sekarang ini cool bingit
Sy baru ngeh sekarang bahwa kesadaran itu penting
thankies ya

Kho ping ho
Guest
Kho ping ho

Kesadaran adalah inti ajaran budha.apakah pak mualaf ingin mengatakan agama budha lebih baik dari agama islam ?