Agama Itu Jalan, Bukan Kepercayaan (1): Kenapa Negara Islam Selalu Dipenuhi Konflik?

2019-05-09T07:32:39+07:00April 1st, 2019|Artikel Pilihan, Rohani|3 Comments

Ada sahabat pengajian saya yang bertanya, “Kenapa setiap ada teroris, selalu dikaitkan dengan agama Islam?” Kentara sekali kalau sahabat saya itu tidak bisa menerima kata-kata tersebut.

Lalu secara perlahan saya pun mencoba memberikannya penjelasan. Saya katakan kepadanya, seharusnya kita tidak boleh marah atau tidak menerima kata-kata tersebut. Bukankah selama ini dalam kenyataannya memang setiap ada teror itu mayoritas dilakukan oleh oknum yang mengaku beragama Islam?

Seharusnya kita mengoreksi ke dalam diri sendiri agar kita tidak terjerumus dan mempunyai pandangan yang sama dengan para teroris tersebut. Justru kita sebagai seorang muslim yang menggunakan akal pikiran yang sehat dan kecerdasan untuk merubah diri agar bisa dijadikan sebagai tauladan, menjadikan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

Jangan sebaliknya, kita justru mempertahankan argumen kita dengan mengharapkan orang lain yang merubah cara pandangnya tersebut. Inilah yang selama ini telah dilakukan oleh mayoritas orang Islam, termasuk sahabat saya tadi. Lalu saya lanjutkan cerita ini, sebagai berikut:

Jujur saya sangat prihatin terhadap mayoritas pemeluk agama Islam, yang memiliki pemahaman tentang Islam seperti saat ini.

Tak bisa dipungkiri, sudah 1500 tahun berlalu sejak agama Islam hadir di Jazirah Arab. Tetapi kenapa seolah-olah di pusat agama Islam tersebut, justru menjadi tempatnya konflik dan peperangan yang tidak berkesudahan hingga saat ini. Kita bisa melihat sejarah yang ada sejak Rasullulah wafat, lalu kekalifahan beralih kepada empat sahabat Rasullulah. Kecuali Abu Bakar, ternyata Umar Bin Khatab, Utsman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib, termasuk cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan Bin AlI, semuanya meninggal dalam keadaan tragis yaitu dibunuh oleh sesama Islam.

Tak terkecuali juga pemimpin-pemimpin negara Islam, seperti Anwar Sadat, Sadam Husein, Moamar Kadhafi yang juga mengalami hal yang sama. Mereka meninggal karena dibunuh secara tragis.  Konflik, peperangan dan pembunuhan terus berlanjut sampai saat ini.

Perang saudara antara Iraq-Iran, Kuwait-Irak, Arab Saudi-Yaman, Arab Saudi-Israel, Perang Sunni-Syiah, ISIS-Suriah, Taliban-Afganistan, kematian ratusan ribu jamaah haji, kemiskinan dan kemelaratan di mana-mana, hidup dalam kecemasan, tidak ada kedamaian, penuh dengan kekerasan, dan peperangan. Sampai yang terakhir terjadi di mana seorang wartawan Arab yang bernama Kashogi, meninggal karena dibantai di Kedutaan Arab Saudi di negara Turki.

Bagaimana mungkin negara-negara yang menyatakan paling Islami dan paling percaya dengan ke-Illahiannya, tapi dalam kenyataannya justru sama sekali tidak mencerminkan ke Islamannya.

Kalau kita mencermati sejarah negara-negara di Semenanjung Arab, mohon maaf, mungkin bangsa Arab adalah salah satu bangsa yang paling keras, paling senang memelihara konflik dan peperangan di dunia ini.

Cocok dengan firman Allah dalam surat Al-Quran At-Taubah ayat 97 yang berbunyi: ORANG-ORANG ARAB BADWI ITU, LEBIH SANGAT KEKAFIRANNYA, DAN LEBIH WAJAR TIDAK MENGETAHUI HUKUM-HUKUM YANG DITURUNKAN ALLAH PADA RASUL-NYA. DAN ALLAH MAHA MENGETAHUI DAN BIJAKSANA.

Jelas sudah bahwa Al-Quran saja mengatakan Islam itu bukan Arab (lebih sangat kekafirannya dan kemunafikannya) dan Arab belum tentu Islami.

Saya sebagai Mualaf sungguh sangat merasa prihatin dengan cerita sejarah yang diuraikan di atas tadi.

Sudah lama saya merenungi, “Apa sebenarnya akar permasalahan dari cerita sejarah tersebut?” Akhirnya setelah saya belajar Ilmu mari’fat secara spiritual, barulah saya SADAR dan paham kenapa hal demikian itu bisa terjadi.

Saya menemukan beberapa ayat dalam Al-Quran yang dalam tafsirnya bermakna boleh membunuh juga berperang. Diantaranya seperti yang tertulis dalam: QS A-Anfal : 39, QS Al-Baqarah : 191.

Boleh jadi, mungkin saya adalah salah satu orang yang tidak percaya dengan adanya peperangan yang mengatasnamakan agama.

Adapun alasannya adalah karena bagi pemahaman saya, alam semesta ini diciptakan Allah hanya dengan satu tujuan, yaitu Allah ingin dikenal.

Lalu timbul pertanyaannya, “Dikenal oleh siapa?” Tentu saja untuk dikenal oleh diri-Nya sendiri. Seperti yang selalu saya katakan secara berulang-ulang, supaya kita betul-betul SADAR, bahwa di semesta ini tidak ada yang selain DIA (ALLAH). Semuanya adalah DIA (ALLAH). Karena semuanya adalah DIA (ALLAH), lalu bagaimana mungkin Allah akan menciptakan kerusakan terhadap ciptaan-ciptaan-Nya sendiri?

Adapun penjelasan ALLAH INGIN DIKENAL secara rinci sudah sering saya tulis pada beberapa artikel dan buku perdana saya yang berjudul “AKU BERSAKSI ALLAH MAHA NYATA”.

Kesimpulan saya adalah: bagaimana mungkin Allah yang menciptakan ciptaan-ciptaan-Nya dengan penuh rasa Cinta dan Kasih Sayang, bisa membenarkan tindakan untuk saling bunuh dan saling berperang? Sungguh hal ini adalah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh kesadaran serta akal sehat saya.

Saya berpendapat bahwa terjadinya pembunuhan serta peperangan tersebut, semata-mata, hanya dikarenakan tingkat kesadaran manusia-manusia itu rendah. Mereka-mereka hanya mementingkan ego dan kepentingan dirinya sendiri saja.

Saya juga melihat ada beberapa ayat dalam Al-Quran yang tidak koheren. Sangat kontradiktif dengan misi dari ajaran Islam yang mengutamakan ketenangan, kedamaian serta kesejahteraan.

Ayat-ayat yang saya maksud itu, lebih ke arah mendiskreditkan para kaum wanita dan anak-anak. Sungguh bertolak belakang dengan ayat-ayat lainnya dan beberapa ayat yang diriwayatkan oleh Hadits-Hadits Nabi.

Yang intinya kita harus menghormati seorang Ibu melebihi segalanya. Sampai-sampai ada kata perumpamaan bahwa surga itu ada di bawah telapak kaki seorang Ibu. Dari sini bisa dibayangkan betapa tingginya derajatnya seorang Ibu itu.

Surga yang didambakan oleh seluruh manusia yang ada di bumi ini, termasuk juga oleh para Nabi dan Rasul, ternyata derajatnya masih jauh dibandingkan dengan seorang Ibu. Bukankah pada hakikatnya para Ibu-Ibu itu adalah kaum wanita.

Adapun ayat-ayat yang saya maksud adalah QS 33 : 37, QS 33 : 50-51, QS 66 : 1-5, QS 44 : 25.

Dari hasil mempelajari beberapa keterangan ayat-ayat di atas, sudah bisa saya simpulkan, jawaban dari pertanyaan mengapa konflik dan peperangan di Jazirah Arab, dari sejak zaman Nabi Muhammad SAW menyebarkan Agama Islam, hingga saat ini tidak pernah jeda dari konflik dan peperangan? Menurut saya penyebabnya adalah karena haus kekuasaan, harta dan wanita.

Tidak sedikit tragedi ditemukan dari kasus yang menimpa para TKI kita di Arab Saudi. Ada yang diperkosa oleh para majikannya, karena para majikan mereka memakai dalil bahwa TKI kita itu diibaratkan sama dengan para budak atau pampasan perang yang halal untuk diapa-apakan.

Justru di pusat kelahirannya Islam sebagai agama tersebutlah, semua peristiwa itu terjadi hingga saat ini. Inilah yang membuat hati saya menjadi miris. Pasalnya, akibat tingkat kesadaran manusia-manusianya yang sudah berada di titik nadir, maka kehidupan yang berjalan seperti kembali lagi kepada zaman Jahiliyah dulu.

Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena agama Islam itu oleh mayoritas pemeluknya dijadikan sebagai sebuah kepercayaan/keyakinan. Padahal kalau dipahami secara spiritualitas bahwa sejatinya agama Islam itu sebagai jalan, dan kitab suci Al-Quran itu sebagai petunjuk. Maka Agama Islam dan Al-Quran itu menjadi sebagai petunjuk jalan, begitu juga bagi Agama-Agama dan Kitab-Kitab suci yang selain Islam dan Al-Quran, seperti, Agama Nasrani dan Kitab Injil atau Agama Yahudi dan Kitab Taurat dan seterusnya.

Kalau mengacu kepada pemahaman saya saat ini, tidak mungkin Tuhan/Allah dalam menurunkan wahyunya mengandung hukum “Dualitas”, seperti perintah-larangan, wajib-sunnah, pahala-dosa dan sebagainya. Sebab yang sifatnya “Dualitas” itu semuanya tidak ada yang abadi. “Dualitas” itu mengikuti konsep ruang dan waktu, sedangkan Tuhan/Allah adalah satu-satunya yang abadi, dan tidak terjebak oleh konsep ruang dan waktu.

Kalaulah Tuhan/Allah itu benar mempunyai keinginan, maka akan muncul pertanyaan, “Kalau begitu, apa bedanya dengan makhluk ciptaan-Nya?” Bukankah sifat Allah itu tidak ada suatu pun yang menyerupai-Nya (LAISA KAMISLIHI SYAI’UN). (Bersambung)

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
Drs. FauwziTutiMustafa Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Mustafa
Guest
Mustafa

Artikel yg ditulis oleh pak Tonny itu selainnya selalu membuat heboh juga sangat aktuil sekali dgn keadaan situasi saat sekarang ini. Betapa tidak semu, jika pada akhirnya Islam menjadi identik dengan terorisme karena diseret demi kepentingan politik para penganutnya. Islam menjadi sekedar alat untuk menggapai tujuan manusia. Biarkanlah Islam menjadi apa yang memang fungsinya, yakni menjadi alat untuk mengenal Tuhan. Bukan untuk membenarkan segala tindakan manusia yang lebih sering keblinger.

Tuti
Guest
Tuti

Selamat pagi pak Kiai.
Bismillah ~ saya mencoba jelaskan dengan ringan saja sesuai dengan pengetahuan yang saya punya 🙂
Arab tidaklah sama dengan Islam, dan sebaliknya Islam tidaklah serupa dengan Arab. Akan tetapi budaya Arab dan budaya-budaya yang lainnya yang mau tunduk kepada Islam, maka itulah yang pantas dinamakan budaya Islam. Berhubung Islam turun di Arab, maka pihak yang pertama kali dikritik adalah budaya Arab. Maka tidak benar jika dikatakan Islam (seperti jilbab, kerudung dan sebagainya) adalah produk budaya Arab. Jadi apa yang pak Kiai tulis itu benar 100% maka dari itu juga saya dukung sepenuhnya.

Drs. Fauwzi
Guest
Drs. Fauwzi

Terima kasih atas tulisan pak Tonny yg memaparkan kekerasan dlm Islam dan menurut sy ini sangat penting sekali. Masalahnya; salah satu kata sakral dan banyak digunakan dalam Al-Qur’an adalah kata jihad. Namun, anehnya kata jihad sering disalahartikan dan identik dgn Teror. Padahal jihad dan terorisme itu memiliki makna yang berbeda. Terorisme timbul karena permasalahan kekuasaan yang bersifat duniawi, sedangkan jihad lebih mengarah pada misi suci yaitu demi menegakkan agama islam dalam jalan Allah SWT. Berislam tidak harus dengan cara melukai apalagi membunuh manusia lain. Bahkan sangat tidak manusiawi membawa panji-panji Islam sebagai legitimasi kekejian dan kebengisan. Kenyataannya tindakan teroris banyak… Read more »